Senin, 22 Juni 2015

Astama (2)



Astama, kau ini kenapa? Akhir-akhir ini aku sering kali melihatmu murung dan berdiam diri. Apakah ada yang salah? Astama, ceritalah kepadaku jika kau memiliki sesuatu yang mengganjal dihatimu. Jangan diam saja seperti itu. Aku selalu ada disampingmu setiap saat dan akan setia menjagamu, seperti kau setia menjagaku dulu.
Kau tau Astama, kini aku mengerti. Kini aku rasakan bagaimana pedihnya jadi kau. Kau ini menyedihkan sekali ya! Nikmatilah hidupmu selagi bisa. Jangan murung diri saja seperti itu. Kau banyak melewati kesenangan yang ada jika hanya berdiam diri seperti itu. Kau ini bagaimana sih? Pergilah keluar, hirup udara segar. Pergilah berpesta dengan teman-temanmu hingga larut dan lewati malam yang panjang dengan bersenang-senang.
Sudah ku ikuti kau setahun ini, dan kau sangat banyak berubah. Kau bukan lagi Astama yang aku kenal. Kau sungguh berbeda. Apa yang membuatmu seperti ini Astama? Ceritakanlah kepadaku, ceritalah!
Ku lihat kau selalu pergi ke tempatku seperti biasanya, kau duduk termenung disana, melihat sekelilingmu lalu menangis. Sering sekali aku melihatmu menangis, padahal dulu kau tak pernah seperti itu. Kau ini kan pria kuat, kenapa sekarang kau sungguh terlihat lemah? Aku bahkan tak mengerti apa yang bisa membuatmu sesedih ini. Saat kau bersedih, aku akan disana dan memelukmu dengan erat, dan berharap itu dapat menenangkanmu. Tangisanmu semakin keras, itu membuatku sedih dan ingin menangis bersamamu. Tapi, bahkan sekarang aku tak mempunyai air mata. Sungguh sia-sia.
Semua temanmu mulai iba kepadamu, dan berkata “Ayo Asta, jangan murung terus dong. Kita ada disini buat kamu kok. Ikhlasin ya!” dan kau hanya membalasnya dengan senyuman, senyuman yang bahkan tak memiliki arti sama sekali.  Aku tahu itu.
Pernah suatu saat aku melihatmu duduk termenung disebuah nisan, kau mendekatkan kepalamu pada nisan itu dan berbisik, “Aku rindu, bisakah kau datang malam ini? Aku hanya ingin melepas rindu denganmu.” Getir.
Aku sebal sekali jika melihatmu begitu. Kau ini apa-apaan Astama? Aku kan selalu ada disampingmu kemanapun kau pergi. Dan akan selalu begitu.
Lalu kau pulang kerumahmu, termenung lagi dikamarmu yang pengap. Kau selalu menatapi fotoku, foto kita berdua. Ya ampun, bahkan aku tak tau kau menyimpan foto-foto itu dan memajangnya dikamarmu. Aku senang. Sebegitu pedulinya kah kau terhadapku? Aku menyesal telah menyia-menyiakanmu, dulu. Dan kini aku berjanji, tak akan perpaling darimu. Tak akan.
Beberapa bulan berlalu, tapi kau tetap saja seperti itu. Dan aku pun tetap disana, menemani kesedihanmu hingga fajar. Dan saat kau terbangun dari tidurmu yang kau rasa panjang, kau bergegas mandi dan melihat dirimu dicermin. Oh ya ampun, siapa lelaki itu? Aku bahkan tak mengenalnya. Kau berubah sekali. Lihat dirimu, begitu berantakan. Dengan rambut yang mulai gondrong, pipi tirus dan mata yang selalu sembab. Itu mengerikan sekali. Kau kehilangan banyak berat badanmu. Ada pa denganmu? Kau tak seharusnya seperti itu.
Setelah itu, kau mulai harimu seperti biasa, sekedar sarapan, meski tak pernah kau habiskan. Ibumu selalu mengingatkanmu “Makan nak! Mubazir.” Namun kau tak pernah benar-benar mendengarkannya. Berbeda dengan hari-hari biasanya, kini Ibumu menghampirimu dan berkata, “Nak, kita perlu bicara.” Dan kau mengangguk pelan.
“Kenapa nak? Ceritakan pada Ibumu ini, ada apa?”
“Tidak Ibu.”
“Masalah yang sama lagi?”
Kau tak menjawab.
“Ibu tau kau pasti merindukannya, Ibu mengerti nak. Tapi kau tak bisa terus-terusan seperti ini. Kau harus mulai hidup yang baru, sayangku. Lihat dirimu, kau sungguh berantakan. Jika dia bisa melihatmu sekarang, dia pasti akan jengkel sekali melihatmu seperti ini. Dia akan memarahimu dan menyuruhmu ‘sana cepat potong rambutmu, kamu ini berantakan sekali sih’. Dan kamu akan menurutinya bukan?”
Matamu mulai berair lagi.
“Ibu tau, ini tidaklah mudah anakku. Kalian bersama dalam waktu yang lama dan tak mungkin kau dapat melupakannya begitu saja. Kau tau Astama, ibu pun begitu. Dia anak baik dan periang, namun bisakah kau hentikan tangisanmu itu? Tangisanmu akan membuatnya berat menghadapi dunianya. Mungkin saja dia akan mengomel ‘kamu ini kenapa sih? Jangan tangisi aku terus dong! Kamu mau liat aku tersiksa hanya karena tangisanmu itu? Berhentilah, dan bantu aku.’ Dan kau harus menuruti kemauannya, ya kan?”
Aku meng-iya-kan, benar. Aku setuju sekali atas perkataan ibumu itu. Aku tersiksa Astama, aku tak bisa melihatmu menangis terus seperti itu. Semuanya sangat membebaniku. Bisakah kau berhenti menangisiku? Aku mohon, Astama.
Kau menatap ibumu, lalu kau berkata “benarkah seperti itu, Bu?” dengan mata yang masih berair.
“Tentu saja. Dia pun akan sedih. Apa kau tak mau melihatnya bahagia di Surga tanpa terbebani olehmu,Astama?”
“Tentu tidak, Bu. Aku ingin sekali membuatnya bahagia meski aku tak tau harus bagaimana caranya. Aku biasanya membelikannya coklat, dan mengajaknya jalan-jalan dan dia akan tersenyum, manis sekali Bu. Dan sekarang aku sudah tak bisa membuatnya tersenyum lagi, Bu.” Kau mulai menangis lagi.
“Bisa sayangku, tentu bisa.” Ibumu tersenyum dan menyeka air matamu.
Kau menatapnya, nanar. Menggambarkan sekali bahwa kau ingin tau bagaimana caranya.
“Hentikan tangisanmu itu, dan berdoalah setiap hari untuknya agar dia bahagia disana. Lalu ikhlaskan semuanya, nak.”
Kau menghentikan tangisanmu dan menerawang jauh. Kau berpikir, apakah kau bisa? Dan ku jawab, tentu saja sayangku! Apapun bisa kau lakukan. Kau ini kan lelaki hebat.
3 bulan berlalu, kini kau mulai membaik. Kau  mulai memotong rambut panjangmu, seperti potongan rambut kesukaanku. Mata tak lagi sembab seperti biasanya, dan kurasa badanmu mulai membaik. Pipimu tak setirus dulu. Dan senyummu tak lagi semu. Aku senang melihatmu kian membaik.
Teman-temanmu mulai tersenyum melihat tingkahmu yang kini jauh lebih baik. Senang. Dan mereka berkata “Apa kabar sobat? Sudah lebih baik?” dan kau menjawab dengan mantap, “Ya.” Disertai senyuman khasmu. Lalu kau membuka dompetmu, melihat foto kita berdua yang sedang tersenyum seraya berkata “Seperti itu kan? Aku sedang berusaha, sayangku. Aku tak akan membuatmu bersedih lagi. Aku janji. Kau baik-baik disana ya, aku pun akan baik disini.” Lalu kau tersenyum.
Aku senang melihatmu jauh lebih baik dari sebelumnya. Kini aku dapat meninggalkanmu jika memang kau sudah bisa merawat dirimu dengan baik. Jangan sedih lagi ya, Asta. Aku mencintaimu.

Astama (1)



Aku adalah seorang mahasiswi yang berkuliah di universitas swasta di kota ku. Aku bukan orang yang pandai seperti kebanyakan orang namun namun aku dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Aku tinggal di kost-an kecil yang tak jauh dari kampusku. Meski aku bisa saja tinggal dengan orang tuaku. Tapi aku ingin bebas dari mereka, toh mereka pun hanya sibuk bekerja tanpa memperdulikan aku sebagai anaknya. Rumahku pun tak terlalu jauh dengan lokasi kampusku, namun aku sudah bilang kan.
Aku bukan wanita alim, katakan saja begitu. Karena aku tak secantik wanita lainnya yang selalu terlihat anggun dengan kerudungnya, yang selalu manis dengan perkataannya dan tak sebaik wanita dengan tingkah pola  yang benar. Aku ini egois. Memang. Buktinya saja aku selalu ingin menang sendiri. Dan sifatku yang pendendam membuat orang-orang segan kepadaku, karena tak satupun dari mereka yang ingin macam-macam padaku. Aku bisa saja membuatnya cidera atau bahkan patah tulah jika berani macam-macam kepadaku.
Seperti halnya kekasihku. Ia seorang pria yang amat sangat bejat. Namun dengan seiringnya waktu dia mulai berubah dan bersungguh-sungguh. Aku tau kenapa dia tak mau main-main denganku, karena kerap kali aku mengetahuinya berselingkuh dengan wanita lain, aku akan membalasnya lebih kejam dari yang dia lakukan terhadapku. Dan itu membuatnya sakit.
Kita sudah berhubungan selama 6 tahun, dan dia selalu sabar menghadapi sikapku yang seperti ini. Mungkin dia benar-benar mencintaiku. Tapi jika memang begitu, kenapa dia kerap kali berselingkuh? Dasar brengsek!
Oh ya, aku belum memperkenalkannya ya? Dia adalah Astama, aku memanggilnya Asta. Dia seorang mahasiswa administrasi Negara disalah satu kampus swasta. Kami berbeda kampus, tapi karena kami tinggal dalam satu kota dengan jarak yang dekat membuat kami gampang sekali bertemu. Dia kerap kali mengantarku kuliah, mengajakku makan, menjagaku kemana saja jika aku ingin pergi dan tinggal di kost-an kecilku hanya untuk sekedar menemaniku agar aku tak kesepian.
Aku selalu dia jaganya, kemana pun aku pergi. Dia itu sungguh protektif. Saat aku tanya mengapa, dia bilang “Aku gak mau sampe kamu kenapa-kenapa”. Ya lumayanlah untuk sekedar jaga-jaga. Jika kau bertanya padaku, apa aku mencintainya? Yaa.. kurasa sedikit. Mengapa? Karena ulahnya dulu yang sering sekali menyelingkuhiku, aku jadi tak terlalu cinta padanya. Aku rasa dia beginipun karena ada maunya.
Disisi lain, aku pun begitu. Aku kerapa kali keluyuran malam bersama lelaki lain tanpa sepengetahuannya. Pulang hingga larut dan mabuk-mabukan. Membuatnya khawatir, cemas dan kalang kabut. Tentu saja aku akan meninggalkan handphoneku agar dia tak bisa menghubungiku. Suruh siapa dulu dia membuatku sakit hati dengan berselingkuh dengan wanita lain. Sekarang rasakan saja akibatnya! Hahaha.
Suatu sore, aku sedang bersamanya di kost-an. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku dan dikumpulkan besok. Ya ampun, aku malas sekali. Aku butuh penyegaran. Mungkin sebotol beer, sebungkus rokok dan beberapa cemilan ringan akan membuatku sedikit lebih baik. Aku bersiap pergi ke mini market dekat kost-anku. Jaraknya tak jauh, aku hanya perlu berjalan sebentar saja, tak perlu menggunakan motor.
“Mau kemana kamu?” tanyanya acuh sambil memainkan game di handphonenya.
“Mau pergi.”
“Kemana?”
“Ke mini market depan, mau ikut?”
“Mau ngapain? Aku disini aja ya.”
“Mau beli rokok, rokok ku habis. Ya udah.”
“Apa?” dia langsung menatapku tajam. “Sejak kapan kamu merokok?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku minta kamu berenti ngerokok. Buat apa sih? Cewek tuh gak baik ngerokok!”
Lalu ada pertengkaran kecil disana. Dia melarangku untuk merokok. Dia bilang itu tidak baik. Tapi, apa peduliku? Terserah saja. Aku tidak peduli. Aku tetap saja mengacuhkan apa yang dia katakan. Lalu dia menatapku lekat, mata dan mukanya terlihat merah . kurasa dia sangat marah, dan aku malah senang. Bodo amat, pikirku!
Dia memarahiku, membentak dan menyalahkanku. Dia lelah dengan semua perlakuanku kepadanya.
“Suruh siapa kamu peduliin aku? Udah, sana pergi. Aku gak butuh kamu!”
“Ya! Aku pergi!” sambil membanting pintu kost-anku. Menyalakan motornya dan melaju cepat.
Dasar cowok brengsek. Tau apa kau! Jangan mengatur hidupku! Hidupmu saja tidak becus.
Setelah itu, aku tetap saja akan pergi ke mini market untuk membeli rokok. Ada tugas yang menungguku. Uh ya ampun, kejadian tadi mengganggu sekali. Aku belum pernah melihatnya semarah itu kepadaku. Biasanya hanya marah biasa, itu pun tidak akan lama. Dia akan menelfonku dan meminta maaf atas perbuatannya. Ku pastikan kali ini pun dia akan menyesal telah membentakku.
Aku berjalan keluar, dan mengunci pintu. Dalam perjalananku ke mini market, aku terus saja digandrungi oleh rasa bersalahku terhadap Asta. Kenapa? Tidak biasanya. Mungkin karena tadi Astama terlalu marah kepadaku. Tapi tak apa, dia memang harus ku kecewakan. Aku melamun. Mengingatnya saat marah dengan muka yang memerah. Ngeri.
Bagaimana mungkin Asta bisa semarah itu kepadaku? Apa dia mulai lelah dengan sikapku? Apa dia tidak mencintaiku lagi? Atau mungkin dia memang sudah memiliki wanita lain yang telah menggantikanku? Ah awas saja kau, Asta! Jangan berani bermain api denganku. Kau akan menyesal. Sangat menyesal.
Lalu tiba-tiba, entah darimana datangnya, sebuah mobil menghampiri dengan sangat kencang hingga aku tak dapat menghindar. BAAAKKK!!! Dentuman terdengar begitu keras. Aku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
“Aku mohon kamu bangun! Ayo bangun sayang! Aku minta maaf telah memarahimu tadi. Aku begitu karena aku emosi. Aku minta maaf.”
Aku kenal suara ini. Asta! Lalu aku terbangun, melihatnya sedang menangis sambil mendekapku. Dia menagis sejadi-jadinya. Aku belum pernah melihat Asta menangis seperti itu. Baru kali ini dia menangis sesegukan, bahkan didepan banyak orang.
“Harusnya tadi aku tidak memarahimu. Harusnya tadi aku mengantarmu saja untuk memastikan kau tidak apa-apa. Aku menyesal sayang, sungguh menyesal.”
                Di sekelilingnya terdapat orang-orang yang sedang berkumpul mengelilingi aku dan Asta. Tapi mengapa mereka menangis? Oh, mungkin mereka terharu melihat Asta. Aku tidak ingat seberapa lama aku tak sadarkan diri. Aku melihat Asta dengan seksama, air matanya terus mengalir. Dia memohon dan meminta maaf kepadaku atas apa yang telah ia lakukan.
Aku merasa menang, dia menyesali perbuatannya. Dia terlihat sangat menyesal. Aku senang, dengan begitu aku bisa memberinya pelajaran berharga.
Tak lama, ambulance pun datang. Mereka menghampiri kami berdua dan mulai membawa tubuhku masuk ke dalam ambulance. Aku melihat tubuhku hancur tak berbentuk, banyak sekali darah mengalir dari tubuhku, dan aku melihat genangan berwarna merah kehitaman dijalanan. Asta pun melemas saat para bruder atau perawat laki-laki mulai menutup pintu ambulance. Aku melihatnya menangis sesegukan. Tangisan yang amat sangat menyedihkan.
Aku menghampirinya, dan memeluk tubuhnya. Ku harap aku bisa menenangkannya. Sudahlah, tak apa Asta. Aku masih disini, akan menemanimu seperti kamu menemani hari-hariku. Aku sudah memaafkanmu, karena kau terlihat sangat menyesali perbuatanmu, maka dari itu aku maafkan kau. Ayo kita pergi dari sini, Asta! Orang-orang itu masih saja melihat kita. Hentikan tangisanmu, lalu mulailah hidup baru.

Cinta Dalam Diam



Aku ingin bercerita sesuatu kepadamu, tapi aku tak tau harus mulai dari mana. Aku ingin bercerita tentang seseorang yang pernah dekat denganku, namun ini salah, aku dekat dengan seorang lelaki yang sudah mempunyai pacar. Ya, memang seperti itu. Wanita macam apa aku ini.
Ini berawal dari perkenalanku dengannya, mungkin satu tahun lalu melalui media social, facebook. Dari situ dia mengajakku berkenalan. Ternyata dia adalah teman sekampusku, bahkan aku saja tak tahu dia itu yang mana.
Oh ya, aku belum memperkenalkannya kepadamu ya? Namanya Abyan Nandana Pratama. Sebut saja begitu. Abyan memiliki arti seorang anak laki-lai yang dapat menjelaskan secara jelas, Nanda itu artinya anak laki-laki dalam bahasa Jawa, dan Pratama itu adalah anak pertama. Nama yang bagus bukan? Menurutmu bagaimana?
Kita berkenalan hanya memalui social media, kita pun tak terlalu sering bertukar pikiran, hanya saja sesekali dia menanyaiku tentang urusan kampus. Tak lebih. Kita sempat bertukar kontak, dan mulai chat via BBM tapi tak sering, hanya sekedar chat biasa. Tapi terkadang dia menggodaku, dia itu memang gombal ya! Namun pada akhir semester, dia  mulai menanyaiku lagi, “kelas apa kamu?”, dan aku jawab sekenanya, “kelas B”. Dikampusku, jika ada kenaikan semester semua mahasiswa akan dipindahkan kelasnya tergantung nilai IP terakhir yang kita terima. Dan ternyata akhirnya kita dipertemukan, kita sekelas! Asal kau tau saja, aku bahkan tidak mengetahuinya, mukanya pun aku tak hafal karena sebelumnya kita tak pernah bertemu. Aku hanya melihatnya melalui foto profil, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas, ku rasa mataku mula kabur.
Setelah saat itu kita mulai sering chat lagi, dan saat dikelas aku bertemu dengannya walau tidak saling sapa, “oh… yang itu.” Benakku membatin. Sekarang aku tau dia yang mana. Lalu setelah itu kami mulai dekat, entah dari mana awalnya tapi kita mulai saling mengenal satu sama lain dan lebih sering bertukar pikiran.
Lalu, suatu hari, dia mengajakku untuk menontonnya futsal. Wah, aku tidak pernah menyangka jika dia seberani itu mengajakku. Tapi bukannya dia punya pacar ya? Aku sempat tidak enak namun aku pun tidak bisa menolak, aku jadi penasaran dibuatnya. Pria yang selalu ku lihat dikelas biasa saja bahkan menyimpan kesan pendiam tapi seberani ini. Maksudnya apa?
Aku mau saja saat diajaknya untuk menonton fusal sore itu. Aku dijemputnya, lalu pergi ke lapang futsal. Aku canggung bahkan malu. Kita harus mengobrol apa? Bukannya kita hanya dekat via chat saja, tidak seperti ini. Ada rasa takut disana, bagaimana jika pacarnya melihatku sedang dibonceng olenya? Apa tidak akan apa-apa? Ya ampun Abyan, kau ini.
Sesampainya di lapang futsal, sontak saja teman-temannya yang kini temanku juga melihatku dan Aby (aku memanggilnya Aby) masuk. Aku malu, lalu mereka mengolok-ngolokku. Ah, aku sudah tau pasti akan seperti ini.
Sepulangnya, aku diantar dia, bahkan sampai ke rumahku. Aku ajak dulu untuk mampir dan dia mau. Saat itu kami mengobrol banyak hal hingga larut malam. Dia selaluu saja tertawa, aku tak tau mengapa tapi sikapnya itu menggemaskan. Ku kira dia minta dicubit.
Semenjak kejadian itu kita semakin dekat. Ku rasa jika kau tau kedekatanku bersamanya kau akan membenciku. Hey! Jangan mencibirku seperti itu! Aku tau ini salah tapi aku ini perempuan biasa. Perempuan mana yang dapat menolak diperhatikan oleh lelaki baik-baik. Kau tidak tau saja perhatiannya kepadaku seperti apa. Biar ku jelaskan disini, bahwa ini tak sepenuhnya salahku.
Abyan, dia itu lelaki perhatian, kurasa. Bagaimana tidak, dia protektif sekali kepadaku. Bukan dengan cara melarang tapi memberi contoh. Seperti saat tengah malam saat aku belum tidur, dia selalu menyuruhku tidur, agar aku tidak sakit dikemudian hari. Lalu setelah menyuruhku tidur, dia pun tidur, meski ku tau dia begitu karena memang ngantuk. Tapi saat dia tidur, aku tak punya kegiatan lain bukan? Akhirnya aku tidur juga. Tidak seperti lelaki kebanyakn, menyuruh pacarnya tidur tapi dia malah kelayapan.
Lalu saat makan, ya ampun Abyan ini rewel sekali, tapi lucu. Dia tau kalau aku ini jarang sekali makan. Ya terlihat pada tubuhku yang kecil. Dia selalu menelfonku untuk mengingatkan makan. Dengan nada bicaranya yang manja, dia menyuruhku makan. Aku bisa apa? Aku memang wanita lemah. Tapi jika kau tau gayanya seperti apa saat menelfonku, kurasa kau pun begitu. Dia itu menggemaskan!
Lalu saat dia bosan, dia selalu menelfonku. Apa? Aku ini pelariannya? Mungkin saja, tapi aku menikmatinya dengan senang karena dia memang menyenangkan. Dia selalu menelfonku setiap hari meski tak ada bahan obrolan yang penting. Tapi memang begitu, kita menghabiskan banyak waktu untuk berkomunikasi. Menertawakan lelucon yang bahkan tidak lucu.
Aku seharusnya sadar, bahwa dia begitu karena mungkin memang jenuh saja dengan pacarnya, aku mengerti dan aku bahagia.
Namun, saat ku tanyakan padamu apakah aku ini pelarianmu atau bukan, kau selalu menjawab dengan lugas, “Tentu saja bukan! Aku ini menyayangimu!” dan aku selalu tersanjung dengan jawabmu itu. Bahkan saat ku tanyakan hal yang sama lain waktu kepadamu, kau menjawab dengan manja “Tuhkan, gitu mulu deh L”. Gemas. Rasanya aku ingin menciumnya, lalu tertawa.
Kau hanya tidak tau bagaimana rasanya saat dia mencubitku dengan gemas saat bertemu, bagaimana perhatiannya saat aku pulang kampus, dan bagaimana rasanya dia menyender dipundakku dengan manja. Menggemaskan sekali! Jika aku tak bisa menahan emosiku saat bertemu dengannya, rasanya aku ingin bilang; “mau peluk, boleh?” lalu aku akan memeluknya dengan erat. Namun aku dapat menahan gejolak itu. Aku sadar, aku ini bukan siapa-siapanya. Toh dengan menaruh rasa padanya saja aku sudah salah.
Banyak sekali hal yang ingin ku katakan kepadanya, namun aku tak seberani itu. Bahkan untuk memulai chat duluan saja aku tak berani, tentu saja. Jika saja dia tau bahwa kejenuhannya itu membuatku bahagia. Perilakunya kepadaku pun tak bisa dibenarkan, karena dia mempunya pacar yang pasti akan sakit hati jika mengetahui tentang ini. Tapi jika memang  dosa seindah ini, aku rela berdosa untuknya.
Aku sempat menghindarinya karena aku perpikir inilah saatnya untuk menjauh darinya. Aku harus menyudahi ini semua tapi kurasa tak semudah itu. Kau bisa rasakan, bagaimana rasanya mengabaikan pesan dari orang yang kau suka? Aku berani taruhan, tidak sampai 10 menit, kau pasti akan membalasnya juga. Dan aku pun begitu.
Aku tidak tahu bagaimana menyudahi ini, tapi akhir-akhir ini kita, aku dan Abyan memang sudah jarang sekali berhubungan.  Ada sedih, ada juga senang. Sedihnya, ya kau pun tau, aku tak akan merasakan lagi gemasnya saat dia manja kepadaku, dan tak aka nada lagi lelaki perhatian macam dia. Dan senangnya, aku lega karena ta ada yang harus aku khawatirkan lagi. Mungkin dia sudah tak jenuh lagi. Aku bersyukur.
Dan untukmu Abyan, terimakasih telah menjadi bagian dari kisahku. Telah memberi warna, dan memberi makna disenyumku.
Oh ya ampun, aku mulai berlebihan. Tapi bukannya kau suka puisi bukan? Hehehe. Senang rasanya dapat mengenalmu lebih dari sekedar teman, ku harap kau bisa mengingatku pun demikian. Sampai jumpa lagi ya!

Aku, yang mencintaimu, diam-diam.

Selasa, 17 Maret 2015

Urban Legend, Jangan Berencana Saat Hari Gelap!

Ada takhyul di Meksiko yang mengatakan: jangan pernah membicarakan rencana dengan keluarga atau temanmu di luar rumah pada saat hari gelap. Sesuatu yang menunggu di dalam gelap mungkin bisa mendengarnya ...
Alkisah hiduplah seorang pemuda nelayan bernama Jose yang memiliki kekasih bernama Raven. Suatu malam, Jose mengantar Raven pula dengan berjalan kaki, melewati hutan.
“Hei, bagaimana jika kita pergi ke dermaga besok untuk mencari ikan. Tapi harus pagi-pagi sekali.” Usuk Jose.
“Aku setuju. Pasti asyik. Aku akan ke rumahmu jam 5 subuh, oke?”
“Baiklah.” Mereka keua pun berpisah. Malam itu Jose tertidur dan sudah tak sabar lagi menantikan esok pagi.
Keesokan harinya, Jose terbangun oleh suara di luar jendelanya.
“Jose, ayo bangun! Ini aku!”
Jose mengenali suara kekasihnya dan membuka jendela. Ia melihat Raven sedang berdiri di tengah kegelapan. Jose kemudian mengecek jam wekernya.
“Ini baru jam setengah lima, kamu kepagian!” kata Jose sambil mengusap-usap matanya dan menguap.
“Ayo kita berangkat sekarang! Keburu terang.”
“Oke, oke sebentar ya...” Jose pun bangun dan mengganti bajunya, lalu mengendap-endap keluar agar tidak membangunkan kedua orang tuanya.
Namun begitu ia tiba di luar rumah, ia melihat Raven sedang berlari ke arah dermaga.
“Raven, tunggu!” Jose mulai berlari mengejarnya.
Namun sekeras apapun Jose memanggil, gadis itu tak sekalipun berhenti, bahkan menoleh.
Jose merasa ada sesuatu yang aneh. Raven tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
Hingga ketika mereka sampai di dermaga, barulah Raven berhenti berlari. Jose berhenti berlari pula dan dengan terengah-engah ia bertanya, “Ada apa denganmu?”
Namun raven sama sekali tak menjawab, bahkan masih membelakangi Jose, tanpa sedikitpun menunjukkan wajahnya.
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan, Raven menceburkan dirinya ke dalam laut.
“Jose...tolong aku...tolong!” jerit Raven sambil meronta-ronta dalam air.
“Raven...Raven...dimana kamu?” Jose tak bisa melihat dengan jelas karena gelap. Namun ia bisa mendengar dengan jelas suara kecipuk air.
“Jose...ayo tolong aku...cepat...”
Jose hendak menceburkan dirinya ke laut ketika ia tersadar.
Raven adalah anak nelayan. Ia bisa berenang dengan baik.
Jose terdiam sebentar, ragu.
“Jose, tolong aku... kumohon...”
Namun firasat Jose mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Dengan ketakutan, ia berbalik dan berlari dengan sangat kencang ke rumahnya. Sesampainya di kamarnya, ia langsung meringkuk di bawah selimutnya dengan tubuh merinding. Beberapa saat kemudian, karena kelelahan, iapun tertidur pulas.
Pagi itu ia terbangun oleh suara seorang gadis di luar rumahnya.
“Jose, apa kau sudah bangun?”
Jose memeriksa jamnya, sudah jam 5.30.
Raven berkata lagi dengan suara riang, “Maaf ya aku telat.”

Urban Legend, The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, seorang wanita muncul di Cedar Senai Hospital dengan hanya mengenakan gaun putih berlumuran darah. Sekarang hal tersebut tak terlalu mengejutkan karena orang-orang sering mengalami kecelakaan di dekat rumah sakit itu, dan datang ke rumah sakit terdekat untuk perawatan medis. Tapi ada dua hal yang menyebabkan orang-orang yang melihatnya muntah, dan melarikan diri ketakutan.Yang pertama, adalah bahwa dia tidak benar-benar manusia. Dia menyerupai sesuatu yang dekat dengan manekin, tetapi mempunyai ketangkasan dan fluiditas lebih dari manusia normal. Wajahnya, yang sempurna bagaikan sebuah manekin, tanpa alis, dan dioleskan dengan make-up. Itulah alasan orang lain yang muntah atau melarikan diri karena ketakutan.
Ada anak kucing terjepit di rahangnya sehingga wajar giginya tidak terlihat, dan darah segar masih mengalir di atas gaunnya, lalu jatuh ke lantai. Dia kemudian menarik anak kucing keluar dari mulutnya, melemparnya ke samping, dan jatuh.Sejak saat ia melangkah melalui pintu masuk, ketika ia dibawa ke sebuah kamar rumah sakit dan dibersihkan sebelum disiapkan obat penenang, dia benar-benar tenang, tanpa ekspresi dan tak bergerak. Para dokter pikir lebih baik untuk menahan dia sampai pihak berwenang tiba, dan dia tidak protes. Mereka tidak mampu mendapatkan apapun respon darinya, dan anggota staf yang merasa tidak terlalu nyaman untuk melihat langsung padanya selama lebih dari beberapa detik.
Tapi kedua staf mencoba untuk tenang, ketika ia berjuang bangun kembali dengan gaya yang ekstrem. Dua anggota staf harus terus menahan tubuhnya ke bawah saat tubuhnya bangkit di tempat tidur dengan ekspresi sama kosong.Dia berbalik, memperlihatkan mata emosi ke arah dokter laki-laki, dan melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dia tersenyum.Saat dia melakukannya, dokter perempuan menjerit, dan pergi keluar karena shock. Dalam mulut wanita yang tidak gigi manusia, tapi panjang, seperti sepatu berduri. Terlalu lama untuk mulutnya menutup sepenuhnya tanpa menyebabkan kerusakan…Dokter laki-laki balas menatapnya sejenak sebelum bertanya “Apa sih kau?”Dia meretakkan lehernya lalu turun ke bahunya untuk mengamati sang dokter, masih dengan tersenyum.Ada jeda panjang, para petugas keamanan telah disiagakan itu bisa terdengar mereka turun di lorong-lorong.Saat ia mendengar para petugas keamanan telah datang mendekat, ia melesat ke depan,menenggelamkan gigi depan ke tenggorokan sang dokter, merobek keluar jugularis, dan membiarkan dia jatuh ke lantai, terengah-engah saat ia tersedak darahnya sendiri.Makhluk itu berdiri, dan bersandar di atasnya, dengan wajah yang tampak seolah kehidupan memudar dari matanya.Dia mendekat dan berbisik di telinga sang dokter.
“Aku… adalah.. Tuhan.”Mata dokter dipenuhi dengan ketakutan saat ia melihat makhluk itu dengan tenang berjalan pergi untuk menyambut para petugas keamanan.
Dokter perempuan yang selamat dari insiden tersebut menamai dia, “The Expression"

Riddle, Aku Tahu Kau Sudah Bangun.

Seorang anak berusia 10 tahun sedang tidur di kamarnya seperti biasa ketika ia mendengar suara langkah kaki di luar pintu kamarnya. Saat itu masih tengah malam dan karena penasaran, ia mengintip melalui lubang kunci untuk melihat apa yang terjadi.
Namun ia melihat sesuatu yang mengerikan. Seorang pembunuh dengan tangan berlumuran darah tengah menggendong mayat ayahnya menuruni tangga. Ia naik kembali hanya untuk menggendong mayat kedua, mayat ibunya.
Pembunuh itu naik lagi. Karena ketakutan, sang anak langsung naik kembali ke atas tempat tidur. Namun sebelumnya, ia sempat melihat sang pembunuh menuliskan sesuatu dengan darah di dinding tepat di luar kamarnya.
Suara pintu berdecit memecah keheningan malam. Pembunuh itu dengan langkah perlahan memasuki kamar bocah itu. Tanpa suara, pembunuh itu bersembunyi di bawah kolong tempat tidur anak itu, membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar.
Sang anak memejamkan matanya, ketakutan setengah mati. Ia mencoba berpura2 tidur. Sebagai anak berusia 10 tahun, hanya itu yang terlintas di pikirannya. Ia sangat berharap pembunuh itu segera pergi meninggalkannya.
Anak itu bisa mendengar desah napas pembunuh itu di bawah tempat tidurnya. Dengan bercucuran keringat dingin, anak itu mencoba membuka matanya sedikit.
Sekarang, dengan pintu kamarnya terbuka lebar, ia bisa membaca apa yang dituliskan pembunuh itu di dinding.
“AKU TAHU KAU SUDAH BANGUN."

Riddle, I Never Like Emily.

Aku tak pernah suka dengan Emily.

Ia memang tak pernah berbuat jahat padaku, namun ia selalu membuatku takut. Walaupun tubuhnya mungil, namun aku tahu lewat sorot matanya, bahwa ia jahat. Benar-benar jahat!Dia suka menatapku dengan tajam kemudian tersenyum dengan mengerikan. Bahkan saat aku sedang sendiri, ia tiba2 ada di sampingku, mengejutkanku.

Tiap malam aku juga sering mendengar langkah kakinya saat ia berjalan menelusuri lorong depan kamarku, padahal seharusnya ia diam di kamarnya sendiri.Aku benar-benar tak mau berada dekat-dekat dengan Emily. Aku bahkan tak mau Emily ada di rumah ini! Aku sudah mengatakannya pada ibuku, namun jawabannya malah seperti ini, “Kau tahu kan Emily sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.

Dia sudah lama berada di rumah ini. Aku tak paham mengapa kau membencinya. Dan jangan bodoh, ibu takkan membuangnya!”Akhirnya aku memutuskan untuk melenyapkan Emily untuk selama-lamanya. Aku membawanya ke taman dan ketika kami melewati jembatan, aku segera melemparnya ke dalam sungai. Arus sungai yang sangat deras akhirnya membenamkan dan menghanyutkannya. Takkan ada seorangpun yang melihatnya. Akupun lega. Ia kini lenyap untuk selama-lamanya.Akupun kembali pulang dengan hati senang. Akhirnya, rumah ini bebas dari Emily! Ibuku bahkan tak bertanya padaku dimana Emily saat melihatku pulang sendirian. Mungkin akhirnya ibuku melupakan Emily. Semuanya sempurna.
Namun begitu aku masuk ke kamarku, di situlah Emily, duduk di ranjangku. Tubuhnya basah kuyub dan ia menyeringai ke arahku, menatapku penuh dendam.Tuhan, tolong aku! Aku hampir menjerit.Siapa yang tahu kalau boneka bisa berenang?

Riddle, Suara Rintik Hujan.

Suatu malam hujan turun dengan sangat deras. Ketika itu kami tiba di sebuah tempat, dan saya memberhentikan mobilku di depan sebuah terowongan, memarkirnya sementara di sana. Saya dan temanku memang pernah mendengar rumor dan urban legend yang mengatakan bahwa tempat ini berhantu. Konon jika kamu memarkirkan mobilmu di sekitar terowongan di malam hari, kejadian aneh akan menimpamu. Kami berniat menguji keberanian kami, sekaligus memastikan keberadaan rumor tersebut.

Suasana mencekam dan mengerikan sangat terasa di sini. Tempatnya sangat sunyi dan tidak banyak kendaraan yang melintasinya. Ini bukanlah tempat berhantu yang ingin kau kunjungi.
Setelah beberapa saat, saya menyalakan mobilku kembali dan mengendarainya pelan-pelan masuk ke dalam terowongan yang ada di situ. Ini pertama kalinya saya melakukan hal seperti ini, dan mengalami perasaan yang cukup aneh – seperti campuran rasa tegang dan takut. Walau begitu, temanku hanya senyam-senyum seperti anak-anak yang sedang berada di taman bermain. Kami melaju dengan sangat pelan, berharap ada sesuatu yang terjadi. Tapi ketika kami tiba di ujung terowongan, tidak satu pun kejadian yang berhubungan dengan supranatural terjadi. Temanku kecewa. Dia kemudian memandang keluar jendela, dan memperhatikan tembok-tembok terowongan itu. “Ayo, kita putar sekali lagi.” kataku. Temanku pun menyetujuinya dan saya langsung melakukan putaran-U di ujung terowongan itu.

Sekali lagi, kami tidak menemukan sesuatu yang cukup aneh. Kami mengendara pulang-balik beberapa kali sebelum akhirnya kami bosan. Rintik hujan di atas atap mobil kami juga mulai mengganggu.

Setelah sekitar tiga atau empat kali putaran, temanku kemudian berkata. “Ayo sob, kita pulang saja.”Saya rasa dia benar, setelah semuanya membosankan. Tapi ada sesuatu yang aneh dengan nada suaranya barusan. Tepat sebelum kami keluar di terowongan, saya memberhentikan mobilku dan memandang ke samping – di mana temanku duduk.Saya kemudian menyadari bahwa temanku, yang tadi mengatakan itu tengah gemetaran seolah merasakan kedinginan yang teramat sangat. Saya sangat terkejut melihat keadaannya.“Kau kenapa?” tanyaku. “Apa kau melihat sesuatu?”“Keluar saja dari sini.” jawabnya, dengan tangan yang bergetar.

Curah hujan makin deras dan semakin keras. Rintikannya menghantam kap mobilku cukup keras dan suaranya sangat berisik. Saya kemudian memutuskan untuk mencari tempat lain di mana kami bisa turun dan beristirahat sejenak. Kami melaju keluar dari terowongan itu dan menuju ke jalan yang besar. Ada sebuah rumah makan di tepi jalan itu, jadi saya masuk ke tempat parkirnya dan memberhentikan mobilku di sana.Temanku yang tadi gemetaran kini akhirnya bisa tenang.“Baik …” kataku. “Sekarang kau bisa beritahu apa yang kau lihat?” “Apa kau tidak dengar?” balasnya, dengan terheran-heran.“Apa?” kataku. “Apakah ada suara misterius? Bunyi-bunyi yang aneh, begitu? ”Saya benar-benar tidak tahu apa yang dimaksudnya.“
Saya tidak dengar apa pun.

Urban Legend, Teman.

Alkisah, ada seorang pria, sebut saja dia “D” yang suka mengerjai orang. Sebagai contoh, ketika ada empat orang datang ke restorang (termasuk dia), dan pelayannya bertanya, “Pesan untuk empat orang?”, ia selalu berkata, “Empat? Lihat baik-baik! Bukankah kami ada lima!”

Banyak orang mengira D memang memiliki kemampuan melihat apa yang tak bisa dilihat manusia biasa. Namun sebenarnya tidak. Ia hanya suka mempermainkan orang dan sennag melihat ekspresi ketakutan orang2 yang ia pikir lucu. Teman2nya selalu menyuruhkan menghentikan lelucon itu, namun ia terus saja melakukannya.

Hingga suatu hari, karena kesal, akhirnya tak ada satupun orang yang mau makan lagi bersamanya. Iapun terpaksa makan siang di sebuah restoran langganannya.“Pesan kopi!” katanya pada pramusaji. Namun ketika pramusaji datang, ia menghidangkan dua gelas kopi. Satu untuknya, dan satu diletakkan di depan kursi sebelahnya. Ketika makanan datang pun, pramusaji selalu meletakkan dua piring, satu untuknya dan satu diletakkan untuk kursi sebelahnya.

Pertama ia pikir para pramusaji di sini ingin membalasnya. Namun hal itu terus terjadi, walaupun ia mencoba makan di tempat yang berbeda-beda. Bahkan kemanapun ia pergi, kini teman2nya pun selalu mengatakan bahwa ada orang lain yang sedang bersamanya. Ia mulai ketakutan dan merasa jera. Mungkin ini balasan karena ia sering mempermainkan orang lain. Selama berhari-hari, akhirnya ia memilih hidup seperti pertapa. Ia tak pernah keluar rumah lagi dan terus saja berdiam di kamar karena ketakutan. Setelah sebulan, akhirnya ia mulai merasa tenang. Ia merasa, apapun yang mengikutinya, ia pasti sudah meninggalkannya. Iapun datang ke sebuah restoran, memesan segelas kopi. Sang pramusaji datang dan menyajikan segelas kopi untuknya. Lalu segelas kopi diletakkan untuk kursi di sebelahnya.
Lalu satu lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.

Senin, 26 Januari 2015

CINTA DI PUSARAN DENDAM

Bab I
“Sayang, apa-apaan ini? Sayang ayolah, kau sedang bercanda kan? Ayo, kita bisa bicarakan ini baik-baik sayang.”
“DIAM!”
“Sayang, ku mohon jangan. Ayolah, aku minta maaf, aku tahu aku salah tapi.. tapi..”
“Tapi apa? Kau tidak bisa terus menyangkal, ini semua salahmu!”
Dia tak menjawab.
Aku kencangkan tali pengikat tangan dan kakinya, karena untuk pemuda seukuran dia, dia begitu tangkas. Otot-otot yang sangat kuat dalam badan yang tegap,  sungguh memikat.
Aku ciumi bibirnya yang merah tipis untuk terakhir kalinya, ku kecupi pipinya yang kasar. Wangi khas dari krim cukurnya menyerbak seketika itu juga. Oh ya Tuhan aku begitu mencintainya. Ku telusuri inci demi inci tubuhnya, mukanya yang begitu tampan dengan mata kecoklatan dan alis yang tebal, mukanya dihiasi kumis dan jambang yang habis ia cukur disekelilingnya, dadanya yang dipenuhi oleh bulu-bulu halus, dan badan yang begitu tegap.
Mukanya memerah. Aku tahu dia ingin bercinta denganku malam itu. Terlihat dari penisnya yang mulai mengeras saat ku telusuri telinga dan lehernya. Dia mengerang. Dia membuatku sungguh dilema dengan ini semua.
Tapi tidak! Aku tidak  boleh berhenti disini hanya karena aku terbuai olehnya.
Aku tak selemah itu.
Aku menginginkan bercinta dengannya setiap saat, tapi tidak untuk malam ini.
Tidak sekarang, dan tidak pula untuk esok
Aku akan merindukan saat-saat bersamanya, saat dimana tubuhku menyatu dengan tubuhnya, mendengar desahannya, mendengar rintihannya, hembusan nafasnya yang berpacu dengan darah yang berdesir dan wangi dari keringatnya saat kita bercinta.
Aku mencintainya, sangat mencintainya.
Aku ini memang wanita lemah.
Aku berpaling darinya, mengambil pisau daging yang telah ku sediakan sebelumnya. Aku mengasahnya pelan. Suara dentingan demi dentingan pisau terdengar sangat merdu ditelingaku. Aku tak ingin ini menggagalkan rencanaku malam ini. Dia harus mati, karena itu aku mau pisau ini lebih tajam dari biasanya. Hanya saja aku menikmati saat-saat dia ketakutan dan aku ingin semua ini berlangsung sangat pelan agar aku bisa mengingat semuanya dengan detail.
Aku tahu dia ketakutan, terlihat dari raut mukanya yang memerah cemas. Dia memohon, memohon dan memohon terus. Aku suka saat-saat itu. Begitu damai dan memikat. Debar jantungnya berdegup gencang berpacu dengan degup jantungku yang sama-sama berdebar.
“Sayang, apa yang akan kau lakukan dengan itu? Sayang ini tidak benar!”
“Ya, memang, ini semua tidak benar, termasuk  kau, bajingan!”
“Tidak.. sayang ayolah” dia meringis ketakutan, matanya mulai berkaca-kaca. “jangan lakuan ini sayang, aku mencintaimu”
“Kau tahu kan? Aku pun demikian, aku juga mencintaimu, lebih dari ini. Aku hanya tak ingin kau bersama orang lain. Kau hanya milikku, saat ini dan selamanya. Tak akan ada perempuan yang bisa mengambil hatimu selain aku. Tak boleh ada! Hatimu hanya untukku. Hanya aku yang bisa memilikimu, menciumimu, memelukmu dengan erat, tertawa bersamamu, bahkan mengoral penismu. Bukan orang lain, bukan wanita jalang itu! Dasar kau brengsek!”
Aku menjambak rambutnya yang kecoklatan.
Dia mengerang.
“Tidak sayang, tidak! Ya, ya, tentu! Aku milikmu. Tak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu. Tidak orang lain, tidak wanita-wanita jalang diluar sana. Hanya kau. Aku bersumpah. Mari kita perbaiki ini semua. Ini semua salah paham.”
Aku mendekati dia, menempelkan pisau daging itu dipipinya. Dia mulai meneteskan air mata, mata coklatnya melebur dengan air mata. Sungguh malang. Ku sekat air matanya, aku ciumi lagi.
“jangan berisik sayang!”
“Tidak! Tuhan, tidak! Tolong aku, hentikan! Aku mohon!” dia mulai menangis dan merengek seperti hal nya anak kecil yang ketakutan. Menjijikan sekali.
Adrenalinku pun berpacu dengan waktu. Hatiku berdebar saat kecang melebihi saat bercinta dengannya. Kurasakan darahku mulai berdesir, mengalir hingga ke ubun-ubun. Sensasi yang sangat luar biasa yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Ya Tuhan, aku sangat menikmati ini semua.
“Tidak sayang, hentikan semua ini. Kau gila! Berhenti!” air matanya mulai membasahi pipi hingga lehernya. Dia begitu ketakutan. Ku rasa dia tak ingin mati malam ini.
Lalu aku menindih badannya yang kekar.
“Sshhh! Ya sayang, kau benar. Aku ini memang gila, kau tahu mengapa? Aku gila terhadapmu karena aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu, dan kau tak pernah mengerti itu. Kau selalu saja mempermainkanku dan tak pernah bisa hanya meniduri satu perempuan saja. Ku rasa itu wajar, karena kau memang tampan. Tapi aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi. Aku bisa saja bercinta dengan pria lain, berpesta sampai larut, mabuk-mabukan dan meninggalkanmu, tapi tak semudah itu. ” jawabku menunjukan perasaan yang hancur. “Aku mencintaimu, Max. sangat-sangat mecintaimu.”
Lalu sedetik kemudian…
BRAKKK!!!
Darah dari lehernya menyembur deras, membasahi tubuh dan pakaianku.  Darah yang begitu banyak. Aku dibuat takut olehnya. Kepalanya menggelinding dengan mata melotot menghadapku. Air matanya menetes dari sudut matanya. Terlihat kesakitan yang amat sangat.
Darah yang memuncrat mengotori dinding apartementnya yang classic. Lantai kayu akasia yang mengkilap seketika berubah jadi merah darah. Darahku berdesir, panas.
Belum puas, aku merobek dadanya yang berbulu halus itu. Ku robek hingga ke tulangnya, ku ambil hatinya, masih berdegub. Ku rasakan detak jantungnya yang masih berdebar ditanganku. Sungguh perasaan yang sangat luar biasa. Lalu ku masukan ke dalam toples yang berada didalam tasku. Ku masukkan perlahan dengan sangat hati-hati, aku tak mau menyakiti hati orang yang ku sayang.
Setelah itu, ku mulai memotong bagian yang lainnya. Penis. Bagian yang sangat memukau. Ku potong perlahan, mulai dari buah zakarnya. Jangan sampai kulitnya terkelupas, aku harus memotongnya dengan sangat hati-hati.
Selepas itu, ku simpan benda tersebut ke dalam toples yang lainnya.
Sungguh mengesankan.
Aku menyukai ini.
Seharusnya ku lakukan hal ini sejak dulu, sejak pertama kali Max berani berselingkuh dan bercinta dengan wanita-wanita jalang itu. Tak ku sangka rasanya akan seperti ini.
Sungguh luar biasa
Aku benar-benar menikmatinya.
Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang bersimbuh darah segar. Kunyalakan shower dan mulai membilas rambutku hingga ujung kaki. Tak kulewatkan sedikitpun bercak yang ada ditubuhku. Ku bilas semuanya, tak lupa juga sarung tangan plastic yang ku gunakan. Sengaja ku memakainya karena aku tak ingin serpihan kuku ku dan sidik jariku ada yang tertinggal disini. Jangan sampai! Semua itu dapat mengacaukan rencana jahatku.
Selesai mandi, aku mengecek semuanya dengan teliti. Mulai dari kamar mandi yang ku pakai mandi hingga mayat Max yang sudah terbujur kaku kehabisan darah. Ku pastikan semuanya aman dan tak ada jejak yang tertinggal.
Lalu setelah itu, dengan sengaja ku tinggalkan beberapa helai rambut disana.
Beberapa hari mulai berlalu. Hiruk pikuk orang-orang mulai riuh dengan pemberitaan tentang seorang pemuda yang mati mengenaskan di apartementnya. Kasihan sekali. Tak ada yang tahu kenapa pemuda tersebut bisa mati semengenaskan itu. Pihak kepolisian pun tak menyadari siapa pembunuh sebenarnya. Padahal mereka begitu gampang menangkap pelakunya. Sangat gampang.
Namun aku mempunyai alibi yang sangat kuat untuk ini.
Mereka tak akan semudah itu untuk menangkapku.
Aku ini cerdas.
Lihat saja nanti, mereka akan tahu berhadapan dengan siapa.
Bab II
“Selamat pagi Cornelia, apa kau melihat ponselku?” Ann menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya membuat anak tangga itu berdecit, kayu tua.
“Selamat pagi Ann, kurasa tidak.”
“Aku tidak  melihatnya beberapa hari ini. Mungkin terselip disesuatu tempat atau tertinggal di tasku yang lainnya. Akan ku cari lain kali.”
“Baiklah. Mengapa kau tidak menelepon ponselmu dari telepon rumah?” jawab Cornelia sembari menyediakan piring diatas meja makan.
“Terakhir kali yang ku ingat ponselku mati, aku lupa tidak mengisi baterainya.”
“Ya ampun kau ini, teledor sekali.”
“Tak apalah, mungkin hanya lupa.” Ann menjawab ringan lalu mengoleskan nuttela di rotinya.
“Terserah saja. Kopi?”
“Tidak, susu saja.”
Anna Crumplebottom, atau lebih sering disapa Ann. perempuan yang begitu cantik walau postur tubuhnya tak terlalu tinggi. Kulitnya yang putih membuat pipinya terlihat sedikir merah. Perempuan 24 tahun ini sangat mencintai dunia malam, pantas saja, dia adalah anak semata wayang dari keluarga Crumplebottom yang akan mewarisi semua perusahaan keluarganya kelak. Dia anak emas, begitu di manja, begitu dielu-elukan. Meskipun begitu, ia tak pernah mempunyai teman yang sungguh-sungguh  berteman dengan dirinya. Hanya saja karena uangnya banyak, tak sedikit orang yang hanya ingin menikmati kekayaannya. Atau bahan hanya karena ingin terlihat lebih berkelas jika bergaul dengannya.
Di umurnya sekarang, Ann masih saja tak memiliki kekasih yang sungguh-sungguh. Bukan untuk ia nikahi, hanya saja untuk diajak bersenang-senang, berpesta, pulang larut hingga mabuk dan bercinta semalaman lalu pergi begitu saja.
Hah! Dasar kau wanita jalang! Kau memang wanita jalang kelas satu.
Itu sebabnya Max bercinta denganmu kan? Brengsek!
Dan kini kau takan bisa bercinta lagi dengannya, Ann. Tak akan pernah.
Sedangkan Cornelia, wanita tua dengan rambut keperakan itu adalah pelayan di rumah Ann. Dia wanita tua yang begitu perhatian. Dipercayai oleh keluarga Crumplebottom untuk melayani Ann semenjak ia mempunyai rumahnya sendiri. Dia hanya melayani Ann pada jam 6 pagi hingga jam 4 sore pada hari kerja untuk menyiapkan segala sesuatu yang Ann butuhkan. Mulai dari sarapan, pekerjaan rumah yang tak terlalu berat dilakukan dan kadang menyiapkan makan malam jiga Ann ingin makan dirumah. Semuanya ia kerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya, dan Ann sangat mengerti akan hal itu. Ann selalu memberinya gaji lebih dari yang seharusnya ia terima. Itu mengapa ia sangat betah bekerja dirumah Ann walaupun seharusnya ia sekarang sudah pensiun dari pekerjaannya itu dan menikmati hari tuanya. Tapi Cornelia enggan dan memutuskan untuk lebih memilih bekerja menjadi pelayan hingga  suatu hari jika memang ia tak bisa lagi.
“Conelia, tolong siapkan pakaianku. Aku akan keluar untuk mengunjungi beberapa perusahaan ayahku. Mungkin saja aku pulang larut, jika kau sudah selesai dengan pekerjaanmu kau boleh pulang.”
“Pada hari sabtu?” Cornelia mengelapi meja makan dan membereskan piring-piring ke tempat pencucian piring.
“Ya, ada urusan yang harus ku selesaikan minggu ini juga. Aku khawatir aku tidak sempat.”
“Kalau begitu aku akan pulang nanti malam.”
“Tidak, bersantailah dengan cucumu. Ajak dia jalan-jalan ke taman. Aku tak apa-apa.” Ann menyisakan sedikit susu di gelasnya.
“Baiklah kalau begitu.”
“Bagus!” sahut Ann senang, ia lalu pergi ke kamar mandi di kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Cornelia yang sedang sibuk membereskan sisa sarapan dimeja makan.
Ann pun mulai membuka dress tidurnya dan menyalakan shower dikamar mandinya, cuaca hari itu memang cerah namun masih sangat dingin. Ia menyalakan pemanas dan mulai membilas seluruh badannya. Rambutnya yang merah kecoklatan tergerai panjang hingga punggung.
Ia menikmati setiap guyuran air hangat yang jatuh dipermukaan wajahnya. Merasakan sensasi yang sangat nyaman dan relax. Semua otot-ototnya mengendur, lalu ia mendengus.
Beberapa menit kemudia ia selesai dengan mandinya.
Ia keluar dan memakai handuk kimononya yang berkain halus. Ia mengeringkan dirinya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu ia pergi ke meja rias dan menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia ingin rambut yang sempurna untuk hari ini. Lebih mengembang akan terlihat lebih cantik, kiranya.
“Dimana aku menaruhnya? Biasanya ia ada disini.”
Dia mencari sisir yang biasanya iya gunakan untuk menge-blow rambutnya, diatas meja rias hingga ke lacinya. Namun tak dapat ia termukan.
“Sudahlah, mungkin aku lupa.”
Cornelia masuk ke dalam kamar Ann untuk menyediakan pakaian untuknya. Ia masuk dan mulai mencari beberapa outfit formal yang cocok di hari sabtu yang cerah. Dia memang bukan pengamat fashion atau bahkan designer yang ternama tapi selera Cornelia tak terlalu buruk untuk ukuran perempuan tua sepertinya. Dan Ann tahu akan hal itu, itu mengapa dia selalu memercayai Cornelia untuk memilihkan bajunya.
Ia membuka lemari, mencari mantel yang cocok.
Tak ada.
Tak ada.
Dimana dia menyimpannya?
Mungkin ia lupa, sudahlah.
Cornelia pun akhirnya menemukan mantel berwarna merah padam didalam lemari dengan desain yang megah dari kayu adam tersebut. Mantel beludru halus yang dihiasi 8 buah kancing-kancing besar berwarna hitam didepannya. Dengan kerah yang tak terlalu lebar dengan panjang diatas lutut. Sangat cocok dengan cuaca saat itu.
Lalu ia mengambil high heels yang tak terlalu tinggi dengan hak yang tak terlalu tipis berwarna hitam mengkilap yang terpampang dilemari sepatu yang dipenuhi lampu-lampu berwarna keemasan yang menambah kesan mewah.
“Cornelia, apa kau melihat sisirku?” memandang Cornelia dari kaca riasnya.
“Tidak.”
“Oh mungin aku lupa, sudahlah. Aku bisa beli nanti sepulangnya dari kantor ayahku.” Ia asyik sendiri mengeringkan rambutnya yang panjang dengan hair dryernya.
“Mungkin kau pun lupa menaruh mantel kulitmu yang berwarna kecoklatan, aku mencarinya dalam lemari tapi tak ku temukan. Awalnya aku akan menyiapkan itu untuk outfit mu hari ini tapi tak ada disana.”
“Benarkah?” Ann keheranan, kenapa banyak sekali barang yang hilang. Tapi itu bukan barang yang penting atau barang-barang berharga, mungkin, tapi tidak untuk handphonenya. Itu sesuatu yang cukup berharga tapi bagaimana dengan yang lainnya? Sisir dan bahkan mantel kulitnya.
Jika memang ada pencuri, kenapa pencuri itu tidak mencuri sesuatu yang lebih berharga seperti isi dompet Ann, yang selalu penuh dengan uang dan beberapa kartu kredit dengan isi tabungan yang nominalnya tidak sedikit. Televisi LCD berlayar 52’ yang nyaman untuk ditonton atau bahkan mobil mustang antiknya.
“Apa kau pikir disini ada pencuri?” Tanya Ann heran pada Cornelia.
“Pencuri? Itu tidak mungkin. Bahkan kau tak kehilangan sesuatu yang berharga, kecuali handphone mu yang bahkan mungkin kau hanya lupa menaruhnya.” Jelas Cornelia.
“Ya, mungkin saja.”
“John, penjaga rumah ini memang sudah tua tapi dia selalu memastikan semuanya terkunci rapat saat kau tak ada dirumah. Begitu pun aku, aku selalu mengecek dua kali jendela dan pintu jika kau keluar dan aku akan pergi. Semuanya terkendali.”
“Lalu bagaimana dengan Benjamin?”
“Tukang kebun itu?”
“Ya. Kurasa dia sedikit aneh.” Ann menjawab dengan nada sakarstik.
“Apa kau menuduhnya?” Tanya Cornelia yang tak begitu antusias jika Ann memang menuduhnya mencuri.
“Tidak, maksudku, apakah kau berpikir juga jika dia aneh? Hanya saja dia terlalu pendiam untuk lelaki seumurannya. Aku tak mengerti. Menurutmu apakah dia normal? Apakah dia tak pernah berimajinasi dan memimpikan bercinta semalaman denganku? Itu semua aneh.” Jawabnya dengan nada mengejek. Lalu ia tertawa dengan leluconnya sendiri.
“Kau ini. Mungkin saja, aku tidak tahu. Tapi Benjamin itu pria yang baik. Aku sering berbincang dengannya. Dia pemuda yang hebat.”
“Ya mungkin saja dia hebat, aku bisa melihat dari otot-ototnya yang kekar dan urat-uratnya yang terlihat kehijauan saat dia mengurus tamanku. Ku kira dia bisa memuaskanku dalam bercinta.”
“Apakah kau akan bercinta dengannya? Kurasa dia tak terlalu jelek. Dia terlalu tampan untuk seukuran tukang kebun. Lihat saja matanya yang berwana hazel itu, sungguh menggoda saat ia mengedipkan matanya dengan bulu mata yang tebal dan lentik.” Kali ini Cornelia menjawab dengan sangat antusias.
“Kau ini nakal ya, Cornelia.” Dia tertawa kecil. “Ya memang, akan ku pertimbangkan lain kali.”
Mereka berdua pun hanyut dalam imajinasi mereka masing-masing hingga tak memikirkan lagi semua benda yang telah hilang.
Tak memikirkan pula siapa pencuri yang sebenarnya.
Semuanya berjalan dengan lancar.
Ann memakai lipstick berwarna senada dengan mantel yang akan dipakainya, memoleskan sedikit blush-on berwarna merah jambu ke pipinya dan semuanya terlihat sempurna. Tak perlu berdandan berlebihan untuk menjadi cantik, Ann memang cantik walau tak berdandan. Sebuah anugerah.
“Baiklah kalau begitu, aku harus segera pergi. Semua urusan ini menungguku. Pulanglah dengan segera, aku akan telfon kau untuk berjaga-jaga siapa tau saja kau tak benar-benar pulang untuk mengajak cucumu jalan-jalan.” Ann memakai mantelnya dan mengeluarkan rambut yang terselip dibalik mantelnya dan membiarkan rambut itu tergerai. Lalu memakai heels yang telah Cornelia sediakan.
“Tak perlu seperti itu. Aku akan pulang setelah semuanya selesai.”
“Baiklah. Bye!” lalu dia meletakan sun glasses-nya dihidugnya yang mancung dengan frame kemerahan dan kaca yang berwarna kecoklatan.
Voila! Semuanya sempurna.
Ann pun pergi meninggalkan Cornelia yang sedang membereskan kamar Ann. Menuruni anak tangga tua dan melewati ruang tengah berlantai marmer dengan hiasan lampu gantung yang bertengger megah.
Ia pergi ke halaman dan masuk ke dalam mustang antiknya. Pemberian Ayahnya saat ia lulus kuliah di Cambridge University beberapa tahun lalu. Ia memanaskan mobilnya lalu pergi menuju kota-kota dimana perusahaan Ayahnya berada. Dia begitu menyayangi ayahnya, sehingga ia pun mau melanjutkan usaha keluarganya.
Sungguh menyenangkan.
Menjadi anak orang kaya yang mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya.
Mengurusi perusahaan furniture yang ternama dan mempunyai beberapa real estate yang mempunya harga fantastik.
Kehidupan yang sungguh elegan.
Hidup yang selalu diimpikan orang-orang.
Bab III
Aku tertawa dalam hati, begitu puas, begitu menang.
Aku sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelum hari pembunuhan itu terjadi.
Aku ini memang wanita cerdas.
Aku menyelinap masuk kerumah Anna Crumplebottom dan mulai mencuri beberapa barang yang mungkin tak akan pernah ia sadari sebelumnya. Beberapa barang yang tak begitu berharga tapi sangat penting untukku.
Rumah megah itu tak selamanya dijaga sehingga aku bisa masuk dengan mudahnya, hanya menyelidiki keadaan rumah, jika sudah ku anggap aman aku bisa langsung menyelinap ke dalamnya.
Cornelia, pelayan tua itu hanya bekerja 6 hari dalam seminggu. Hari senin hingga sabtu, bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 3 sore, selebihnya tak ada lagi yang mengawasi rumah megah tersebut.
Sedangkan John, tua bangka sang penjaga rumah itupun tak selamanya berada disana. Dia hanya bekerja pada saat-saat tertentu. Hanya berjaga pada malam hari untuk memastikan semua pagar dan pintu rumah tersebut terkunci. Tapi orang tua itu tidak pernah tau siapa saja yang bisa masuk rumah tersebut dalam penjagaannya. Seharusnya Ann tidak pernah mempekerjakan orang tua seperti itu dirumah mewahnya. Tapi hal tersebut menguntungkan sekali untukku. Sangat menguntungkan.
Serupa dengan John, Benjamin, tukang kebun itu tak pernah ada selamanya disana. Dia hanya bekerja pada Ann pada hari-hari tertentu saja. Hari Senin, Rabu dan Sabtu. Hanya untuk memastikan bahwa tanaman terawat dengan baik. Setelah pekerjaannya selesai, ia langsung pulang tanpa berlama-lama tingga disana. Dia bekerja hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada pagi hari, atau bahkan pada sore hari. Untuk menyiram tanaman agar tetap segar dan memupukinya agar tak mudah layu. Lelaki pendiam itu mengerjakan tugasnya dengan baik.
Begitupun denganku.
Aku pun menjalankan tugasku dengan baik. Sangat baik.
Ann belum menyadari semua ini, bahwa dia akan terjebak dalam masalah yang sangat serius.
Aku yang menyeretnya masuk. Untuk menjadikannya dia sebagai alibi dalam kasus pembunuhan Max malam itu.
Beberapa hari sebelum kematian Max, aku menyelinap masuk ke dalam rumah Ann yang sepi tak berpenghuni. Aku telah mengawasi rumah itu dalam beberapa hari, dan menunggu waktu yang sangat tepat, hingga akhirnya waktu itu tiba. Ia pergi ke klub malam dan meninggalkan rumahnya kosong. John, sang penjaga berjaga diteras depan rumah itu dengan secangkir kopi panas dan jam tangan usang yang sedang ia amati. Ia tak menyadari keberadaanku yang sedang mengawasinya.
Malam belum begitu larut, pukul 10 aku mulai  melancarkan aksi ku. Aku menyelinap kesana menuju taman disebelah utara yang menghadap jalan raya. Taman yang tak begitu luas namun dipenuhi dengan pohon-pohon dan semak yang tertata rapi.
Aku melemparkan batu berukuran sedang ke semak-semak itu. John pun tersentak, ia memakai jam tangannya lalu mengamati dengan seksama. Ia menghampiri asal suara tersebut, dan begitu perhatiannya teralihkan pada semak-semak, aku mulai memanjat dinding pembatas rumah tersebut dengan hati-hati agar keberadaanku tak ketahuan. Jantungku berdebar aku harus menyelesaikannya dengan cepat.
Aku masuk melalui pintu belakang. Dikunci. Tapi tak masalah, aku telah menduplikatkan semua kunci rumah tersebut. Aku masuk dengan sangat hati-hati. Menyelinap dan mencari barang-barang yang ku butuhkan. Sisir, kartu nama, mantel kulit yang sering Ann pakai dan beberapa make up yang sudah tak terpakai.
Setelah semua yang kubutuhkan terpenuhi, aku langsung pergi dengan tetap berhati-hati. Melalui pintu belakang dan melihat dari kejauhan bahwa John tak menyadari bahwa ada seseorang dirumah majikannya. Dia telah terlelap dikursi teras dengan koran dipangkuannya. Aku pun memanjat kembali dengan sangat hati-hati jangan sampai aku membangunkan penjaga rumah tersebut. Aku berhasill keluar dan kembali menuju mobilku yang ku parkir dibelakang rumah Ann dekat pepohonan rindang. Tak akan ada yang melihatnya. Aku akan aman.
Aku memacu mobilku dengan sangat hati-hati dan kecepatan yang sewajarnya, jangan sampai ada orang yang memperhatikanku dan jangan sampai laju mobilku menjadi pusat perhatian orang. Ku injak pedal gas pelan-pelan dan melesat menuju perbatasan Doneraile.