Senin, 22 Juni 2015

Astama (2)



Astama, kau ini kenapa? Akhir-akhir ini aku sering kali melihatmu murung dan berdiam diri. Apakah ada yang salah? Astama, ceritalah kepadaku jika kau memiliki sesuatu yang mengganjal dihatimu. Jangan diam saja seperti itu. Aku selalu ada disampingmu setiap saat dan akan setia menjagamu, seperti kau setia menjagaku dulu.
Kau tau Astama, kini aku mengerti. Kini aku rasakan bagaimana pedihnya jadi kau. Kau ini menyedihkan sekali ya! Nikmatilah hidupmu selagi bisa. Jangan murung diri saja seperti itu. Kau banyak melewati kesenangan yang ada jika hanya berdiam diri seperti itu. Kau ini bagaimana sih? Pergilah keluar, hirup udara segar. Pergilah berpesta dengan teman-temanmu hingga larut dan lewati malam yang panjang dengan bersenang-senang.
Sudah ku ikuti kau setahun ini, dan kau sangat banyak berubah. Kau bukan lagi Astama yang aku kenal. Kau sungguh berbeda. Apa yang membuatmu seperti ini Astama? Ceritakanlah kepadaku, ceritalah!
Ku lihat kau selalu pergi ke tempatku seperti biasanya, kau duduk termenung disana, melihat sekelilingmu lalu menangis. Sering sekali aku melihatmu menangis, padahal dulu kau tak pernah seperti itu. Kau ini kan pria kuat, kenapa sekarang kau sungguh terlihat lemah? Aku bahkan tak mengerti apa yang bisa membuatmu sesedih ini. Saat kau bersedih, aku akan disana dan memelukmu dengan erat, dan berharap itu dapat menenangkanmu. Tangisanmu semakin keras, itu membuatku sedih dan ingin menangis bersamamu. Tapi, bahkan sekarang aku tak mempunyai air mata. Sungguh sia-sia.
Semua temanmu mulai iba kepadamu, dan berkata “Ayo Asta, jangan murung terus dong. Kita ada disini buat kamu kok. Ikhlasin ya!” dan kau hanya membalasnya dengan senyuman, senyuman yang bahkan tak memiliki arti sama sekali.  Aku tahu itu.
Pernah suatu saat aku melihatmu duduk termenung disebuah nisan, kau mendekatkan kepalamu pada nisan itu dan berbisik, “Aku rindu, bisakah kau datang malam ini? Aku hanya ingin melepas rindu denganmu.” Getir.
Aku sebal sekali jika melihatmu begitu. Kau ini apa-apaan Astama? Aku kan selalu ada disampingmu kemanapun kau pergi. Dan akan selalu begitu.
Lalu kau pulang kerumahmu, termenung lagi dikamarmu yang pengap. Kau selalu menatapi fotoku, foto kita berdua. Ya ampun, bahkan aku tak tau kau menyimpan foto-foto itu dan memajangnya dikamarmu. Aku senang. Sebegitu pedulinya kah kau terhadapku? Aku menyesal telah menyia-menyiakanmu, dulu. Dan kini aku berjanji, tak akan perpaling darimu. Tak akan.
Beberapa bulan berlalu, tapi kau tetap saja seperti itu. Dan aku pun tetap disana, menemani kesedihanmu hingga fajar. Dan saat kau terbangun dari tidurmu yang kau rasa panjang, kau bergegas mandi dan melihat dirimu dicermin. Oh ya ampun, siapa lelaki itu? Aku bahkan tak mengenalnya. Kau berubah sekali. Lihat dirimu, begitu berantakan. Dengan rambut yang mulai gondrong, pipi tirus dan mata yang selalu sembab. Itu mengerikan sekali. Kau kehilangan banyak berat badanmu. Ada pa denganmu? Kau tak seharusnya seperti itu.
Setelah itu, kau mulai harimu seperti biasa, sekedar sarapan, meski tak pernah kau habiskan. Ibumu selalu mengingatkanmu “Makan nak! Mubazir.” Namun kau tak pernah benar-benar mendengarkannya. Berbeda dengan hari-hari biasanya, kini Ibumu menghampirimu dan berkata, “Nak, kita perlu bicara.” Dan kau mengangguk pelan.
“Kenapa nak? Ceritakan pada Ibumu ini, ada apa?”
“Tidak Ibu.”
“Masalah yang sama lagi?”
Kau tak menjawab.
“Ibu tau kau pasti merindukannya, Ibu mengerti nak. Tapi kau tak bisa terus-terusan seperti ini. Kau harus mulai hidup yang baru, sayangku. Lihat dirimu, kau sungguh berantakan. Jika dia bisa melihatmu sekarang, dia pasti akan jengkel sekali melihatmu seperti ini. Dia akan memarahimu dan menyuruhmu ‘sana cepat potong rambutmu, kamu ini berantakan sekali sih’. Dan kamu akan menurutinya bukan?”
Matamu mulai berair lagi.
“Ibu tau, ini tidaklah mudah anakku. Kalian bersama dalam waktu yang lama dan tak mungkin kau dapat melupakannya begitu saja. Kau tau Astama, ibu pun begitu. Dia anak baik dan periang, namun bisakah kau hentikan tangisanmu itu? Tangisanmu akan membuatnya berat menghadapi dunianya. Mungkin saja dia akan mengomel ‘kamu ini kenapa sih? Jangan tangisi aku terus dong! Kamu mau liat aku tersiksa hanya karena tangisanmu itu? Berhentilah, dan bantu aku.’ Dan kau harus menuruti kemauannya, ya kan?”
Aku meng-iya-kan, benar. Aku setuju sekali atas perkataan ibumu itu. Aku tersiksa Astama, aku tak bisa melihatmu menangis terus seperti itu. Semuanya sangat membebaniku. Bisakah kau berhenti menangisiku? Aku mohon, Astama.
Kau menatap ibumu, lalu kau berkata “benarkah seperti itu, Bu?” dengan mata yang masih berair.
“Tentu saja. Dia pun akan sedih. Apa kau tak mau melihatnya bahagia di Surga tanpa terbebani olehmu,Astama?”
“Tentu tidak, Bu. Aku ingin sekali membuatnya bahagia meski aku tak tau harus bagaimana caranya. Aku biasanya membelikannya coklat, dan mengajaknya jalan-jalan dan dia akan tersenyum, manis sekali Bu. Dan sekarang aku sudah tak bisa membuatnya tersenyum lagi, Bu.” Kau mulai menangis lagi.
“Bisa sayangku, tentu bisa.” Ibumu tersenyum dan menyeka air matamu.
Kau menatapnya, nanar. Menggambarkan sekali bahwa kau ingin tau bagaimana caranya.
“Hentikan tangisanmu itu, dan berdoalah setiap hari untuknya agar dia bahagia disana. Lalu ikhlaskan semuanya, nak.”
Kau menghentikan tangisanmu dan menerawang jauh. Kau berpikir, apakah kau bisa? Dan ku jawab, tentu saja sayangku! Apapun bisa kau lakukan. Kau ini kan lelaki hebat.
3 bulan berlalu, kini kau mulai membaik. Kau  mulai memotong rambut panjangmu, seperti potongan rambut kesukaanku. Mata tak lagi sembab seperti biasanya, dan kurasa badanmu mulai membaik. Pipimu tak setirus dulu. Dan senyummu tak lagi semu. Aku senang melihatmu kian membaik.
Teman-temanmu mulai tersenyum melihat tingkahmu yang kini jauh lebih baik. Senang. Dan mereka berkata “Apa kabar sobat? Sudah lebih baik?” dan kau menjawab dengan mantap, “Ya.” Disertai senyuman khasmu. Lalu kau membuka dompetmu, melihat foto kita berdua yang sedang tersenyum seraya berkata “Seperti itu kan? Aku sedang berusaha, sayangku. Aku tak akan membuatmu bersedih lagi. Aku janji. Kau baik-baik disana ya, aku pun akan baik disini.” Lalu kau tersenyum.
Aku senang melihatmu jauh lebih baik dari sebelumnya. Kini aku dapat meninggalkanmu jika memang kau sudah bisa merawat dirimu dengan baik. Jangan sedih lagi ya, Asta. Aku mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar