Aku ingin bercerita sesuatu
kepadamu, tapi aku tak tau harus mulai dari mana. Aku ingin bercerita tentang
seseorang yang pernah dekat denganku, namun ini salah, aku dekat dengan seorang
lelaki yang sudah mempunyai pacar. Ya, memang seperti itu. Wanita macam apa aku
ini.
Ini berawal dari perkenalanku
dengannya, mungkin satu tahun lalu melalui media social, facebook. Dari situ
dia mengajakku berkenalan. Ternyata dia adalah teman sekampusku, bahkan aku
saja tak tahu dia itu yang mana.
Oh ya, aku belum memperkenalkannya
kepadamu ya? Namanya Abyan Nandana Pratama. Sebut saja begitu. Abyan memiliki
arti seorang anak laki-lai yang dapat menjelaskan secara jelas, Nanda itu
artinya anak laki-laki dalam bahasa Jawa, dan Pratama itu adalah anak pertama.
Nama yang bagus bukan? Menurutmu bagaimana?
Kita berkenalan hanya memalui
social media, kita pun tak terlalu sering bertukar pikiran, hanya saja sesekali
dia menanyaiku tentang urusan kampus. Tak lebih. Kita sempat bertukar kontak,
dan mulai chat via BBM tapi tak sering, hanya sekedar chat biasa. Tapi
terkadang dia menggodaku, dia itu memang gombal ya! Namun pada akhir semester,
dia mulai menanyaiku lagi, “kelas apa
kamu?”, dan aku jawab sekenanya, “kelas B”. Dikampusku, jika ada kenaikan
semester semua mahasiswa akan dipindahkan kelasnya tergantung nilai IP terakhir
yang kita terima. Dan ternyata akhirnya kita dipertemukan, kita sekelas! Asal
kau tau saja, aku bahkan tidak mengetahuinya, mukanya pun aku tak hafal karena
sebelumnya kita tak pernah bertemu. Aku hanya melihatnya melalui foto profil,
tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas, ku rasa mataku mula kabur.
Setelah saat itu kita mulai sering
chat lagi, dan saat dikelas aku bertemu dengannya walau tidak saling sapa, “oh…
yang itu.” Benakku membatin. Sekarang aku tau dia yang mana. Lalu setelah itu
kami mulai dekat, entah dari mana awalnya tapi kita mulai saling mengenal satu
sama lain dan lebih sering bertukar pikiran.
Lalu, suatu hari, dia mengajakku
untuk menontonnya futsal. Wah, aku tidak pernah menyangka jika dia seberani itu
mengajakku. Tapi bukannya dia punya pacar ya? Aku sempat tidak enak namun aku
pun tidak bisa menolak, aku jadi penasaran dibuatnya. Pria yang selalu ku lihat
dikelas biasa saja bahkan menyimpan kesan pendiam tapi seberani ini. Maksudnya apa?
Aku mau saja saat diajaknya untuk
menonton fusal sore itu. Aku dijemputnya, lalu pergi ke lapang futsal. Aku
canggung bahkan malu. Kita harus mengobrol apa? Bukannya kita hanya dekat via
chat saja, tidak seperti ini. Ada rasa takut disana, bagaimana jika pacarnya
melihatku sedang dibonceng olenya? Apa tidak akan apa-apa? Ya ampun Abyan, kau
ini.
Sesampainya di lapang futsal,
sontak saja teman-temannya yang kini temanku juga melihatku dan Aby (aku
memanggilnya Aby) masuk. Aku malu, lalu mereka mengolok-ngolokku. Ah, aku sudah
tau pasti akan seperti ini.
Sepulangnya, aku diantar dia,
bahkan sampai ke rumahku. Aku ajak dulu untuk mampir dan dia mau. Saat itu kami
mengobrol banyak hal hingga larut malam. Dia selaluu saja tertawa, aku tak tau
mengapa tapi sikapnya itu menggemaskan. Ku kira dia minta dicubit.
Semenjak kejadian itu kita semakin
dekat. Ku rasa jika kau tau kedekatanku bersamanya kau akan membenciku. Hey!
Jangan mencibirku seperti itu! Aku tau ini salah tapi aku ini perempuan biasa.
Perempuan mana yang dapat menolak diperhatikan oleh lelaki baik-baik. Kau tidak
tau saja perhatiannya kepadaku seperti apa. Biar ku jelaskan disini, bahwa ini
tak sepenuhnya salahku.
Abyan, dia itu lelaki perhatian,
kurasa. Bagaimana tidak, dia protektif sekali kepadaku. Bukan dengan cara
melarang tapi memberi contoh. Seperti saat tengah malam saat aku belum tidur,
dia selalu menyuruhku tidur, agar aku tidak sakit dikemudian hari. Lalu setelah
menyuruhku tidur, dia pun tidur, meski ku tau dia begitu karena memang ngantuk.
Tapi saat dia tidur, aku tak punya kegiatan lain bukan? Akhirnya aku tidur
juga. Tidak seperti lelaki kebanyakn, menyuruh pacarnya tidur tapi dia malah
kelayapan.
Lalu saat makan, ya ampun Abyan ini
rewel sekali, tapi lucu. Dia tau kalau aku ini jarang sekali makan. Ya terlihat
pada tubuhku yang kecil. Dia selalu menelfonku untuk mengingatkan makan. Dengan
nada bicaranya yang manja, dia menyuruhku makan. Aku bisa apa? Aku memang
wanita lemah. Tapi jika kau tau gayanya seperti apa saat menelfonku, kurasa kau
pun begitu. Dia itu menggemaskan!
Lalu saat dia bosan, dia selalu
menelfonku. Apa? Aku ini pelariannya? Mungkin saja, tapi aku menikmatinya
dengan senang karena dia memang menyenangkan. Dia selalu menelfonku setiap hari
meski tak ada bahan obrolan yang penting. Tapi memang begitu, kita menghabiskan
banyak waktu untuk berkomunikasi. Menertawakan lelucon yang bahkan tidak lucu.
Aku seharusnya sadar, bahwa dia
begitu karena mungkin memang jenuh saja dengan pacarnya, aku mengerti dan aku
bahagia.
Namun, saat ku tanyakan padamu
apakah aku ini pelarianmu atau bukan, kau selalu menjawab dengan lugas, “Tentu
saja bukan! Aku ini menyayangimu!” dan aku selalu tersanjung dengan jawabmu
itu. Bahkan saat ku tanyakan hal yang sama lain waktu kepadamu, kau menjawab
dengan manja “Tuhkan, gitu mulu deh L”.
Gemas. Rasanya aku ingin menciumnya, lalu tertawa.
Kau hanya tidak tau bagaimana
rasanya saat dia mencubitku dengan gemas saat bertemu, bagaimana perhatiannya
saat aku pulang kampus, dan bagaimana rasanya dia menyender dipundakku dengan
manja. Menggemaskan sekali! Jika aku tak bisa menahan emosiku saat bertemu
dengannya, rasanya aku ingin bilang; “mau peluk, boleh?” lalu aku akan
memeluknya dengan erat. Namun aku dapat menahan gejolak itu. Aku sadar, aku ini
bukan siapa-siapanya. Toh dengan menaruh rasa padanya saja aku sudah salah.
Banyak sekali hal yang ingin ku
katakan kepadanya, namun aku tak seberani itu. Bahkan untuk memulai chat duluan
saja aku tak berani, tentu saja. Jika saja dia tau bahwa kejenuhannya itu
membuatku bahagia. Perilakunya kepadaku pun tak bisa dibenarkan, karena dia
mempunya pacar yang pasti akan sakit hati jika mengetahui tentang ini. Tapi
jika memang dosa seindah ini, aku rela
berdosa untuknya.
Aku sempat menghindarinya karena
aku perpikir inilah saatnya untuk menjauh darinya. Aku harus menyudahi ini
semua tapi kurasa tak semudah itu. Kau bisa rasakan, bagaimana rasanya
mengabaikan pesan dari orang yang kau suka? Aku berani taruhan, tidak sampai 10
menit, kau pasti akan membalasnya juga. Dan aku pun begitu.
Aku tidak tahu bagaimana menyudahi
ini, tapi akhir-akhir ini kita, aku dan Abyan memang sudah jarang sekali
berhubungan. Ada sedih, ada juga senang.
Sedihnya, ya kau pun tau, aku tak akan merasakan lagi gemasnya saat dia manja
kepadaku, dan tak aka nada lagi lelaki perhatian macam dia. Dan senangnya, aku
lega karena ta ada yang harus aku khawatirkan lagi. Mungkin dia sudah tak jenuh
lagi. Aku bersyukur.
Dan untukmu Abyan, terimakasih
telah menjadi bagian dari kisahku. Telah memberi warna, dan memberi makna
disenyumku.
Oh ya ampun, aku mulai berlebihan.
Tapi bukannya kau suka puisi bukan? Hehehe. Senang rasanya dapat mengenalmu
lebih dari sekedar teman, ku harap kau bisa mengingatku pun demikian. Sampai
jumpa lagi ya!
Aku, yang mencintaimu, diam-diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar