Senin, 22 Juni 2015

Cinta Dalam Diam



Aku ingin bercerita sesuatu kepadamu, tapi aku tak tau harus mulai dari mana. Aku ingin bercerita tentang seseorang yang pernah dekat denganku, namun ini salah, aku dekat dengan seorang lelaki yang sudah mempunyai pacar. Ya, memang seperti itu. Wanita macam apa aku ini.
Ini berawal dari perkenalanku dengannya, mungkin satu tahun lalu melalui media social, facebook. Dari situ dia mengajakku berkenalan. Ternyata dia adalah teman sekampusku, bahkan aku saja tak tahu dia itu yang mana.
Oh ya, aku belum memperkenalkannya kepadamu ya? Namanya Abyan Nandana Pratama. Sebut saja begitu. Abyan memiliki arti seorang anak laki-lai yang dapat menjelaskan secara jelas, Nanda itu artinya anak laki-laki dalam bahasa Jawa, dan Pratama itu adalah anak pertama. Nama yang bagus bukan? Menurutmu bagaimana?
Kita berkenalan hanya memalui social media, kita pun tak terlalu sering bertukar pikiran, hanya saja sesekali dia menanyaiku tentang urusan kampus. Tak lebih. Kita sempat bertukar kontak, dan mulai chat via BBM tapi tak sering, hanya sekedar chat biasa. Tapi terkadang dia menggodaku, dia itu memang gombal ya! Namun pada akhir semester, dia  mulai menanyaiku lagi, “kelas apa kamu?”, dan aku jawab sekenanya, “kelas B”. Dikampusku, jika ada kenaikan semester semua mahasiswa akan dipindahkan kelasnya tergantung nilai IP terakhir yang kita terima. Dan ternyata akhirnya kita dipertemukan, kita sekelas! Asal kau tau saja, aku bahkan tidak mengetahuinya, mukanya pun aku tak hafal karena sebelumnya kita tak pernah bertemu. Aku hanya melihatnya melalui foto profil, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas, ku rasa mataku mula kabur.
Setelah saat itu kita mulai sering chat lagi, dan saat dikelas aku bertemu dengannya walau tidak saling sapa, “oh… yang itu.” Benakku membatin. Sekarang aku tau dia yang mana. Lalu setelah itu kami mulai dekat, entah dari mana awalnya tapi kita mulai saling mengenal satu sama lain dan lebih sering bertukar pikiran.
Lalu, suatu hari, dia mengajakku untuk menontonnya futsal. Wah, aku tidak pernah menyangka jika dia seberani itu mengajakku. Tapi bukannya dia punya pacar ya? Aku sempat tidak enak namun aku pun tidak bisa menolak, aku jadi penasaran dibuatnya. Pria yang selalu ku lihat dikelas biasa saja bahkan menyimpan kesan pendiam tapi seberani ini. Maksudnya apa?
Aku mau saja saat diajaknya untuk menonton fusal sore itu. Aku dijemputnya, lalu pergi ke lapang futsal. Aku canggung bahkan malu. Kita harus mengobrol apa? Bukannya kita hanya dekat via chat saja, tidak seperti ini. Ada rasa takut disana, bagaimana jika pacarnya melihatku sedang dibonceng olenya? Apa tidak akan apa-apa? Ya ampun Abyan, kau ini.
Sesampainya di lapang futsal, sontak saja teman-temannya yang kini temanku juga melihatku dan Aby (aku memanggilnya Aby) masuk. Aku malu, lalu mereka mengolok-ngolokku. Ah, aku sudah tau pasti akan seperti ini.
Sepulangnya, aku diantar dia, bahkan sampai ke rumahku. Aku ajak dulu untuk mampir dan dia mau. Saat itu kami mengobrol banyak hal hingga larut malam. Dia selaluu saja tertawa, aku tak tau mengapa tapi sikapnya itu menggemaskan. Ku kira dia minta dicubit.
Semenjak kejadian itu kita semakin dekat. Ku rasa jika kau tau kedekatanku bersamanya kau akan membenciku. Hey! Jangan mencibirku seperti itu! Aku tau ini salah tapi aku ini perempuan biasa. Perempuan mana yang dapat menolak diperhatikan oleh lelaki baik-baik. Kau tidak tau saja perhatiannya kepadaku seperti apa. Biar ku jelaskan disini, bahwa ini tak sepenuhnya salahku.
Abyan, dia itu lelaki perhatian, kurasa. Bagaimana tidak, dia protektif sekali kepadaku. Bukan dengan cara melarang tapi memberi contoh. Seperti saat tengah malam saat aku belum tidur, dia selalu menyuruhku tidur, agar aku tidak sakit dikemudian hari. Lalu setelah menyuruhku tidur, dia pun tidur, meski ku tau dia begitu karena memang ngantuk. Tapi saat dia tidur, aku tak punya kegiatan lain bukan? Akhirnya aku tidur juga. Tidak seperti lelaki kebanyakn, menyuruh pacarnya tidur tapi dia malah kelayapan.
Lalu saat makan, ya ampun Abyan ini rewel sekali, tapi lucu. Dia tau kalau aku ini jarang sekali makan. Ya terlihat pada tubuhku yang kecil. Dia selalu menelfonku untuk mengingatkan makan. Dengan nada bicaranya yang manja, dia menyuruhku makan. Aku bisa apa? Aku memang wanita lemah. Tapi jika kau tau gayanya seperti apa saat menelfonku, kurasa kau pun begitu. Dia itu menggemaskan!
Lalu saat dia bosan, dia selalu menelfonku. Apa? Aku ini pelariannya? Mungkin saja, tapi aku menikmatinya dengan senang karena dia memang menyenangkan. Dia selalu menelfonku setiap hari meski tak ada bahan obrolan yang penting. Tapi memang begitu, kita menghabiskan banyak waktu untuk berkomunikasi. Menertawakan lelucon yang bahkan tidak lucu.
Aku seharusnya sadar, bahwa dia begitu karena mungkin memang jenuh saja dengan pacarnya, aku mengerti dan aku bahagia.
Namun, saat ku tanyakan padamu apakah aku ini pelarianmu atau bukan, kau selalu menjawab dengan lugas, “Tentu saja bukan! Aku ini menyayangimu!” dan aku selalu tersanjung dengan jawabmu itu. Bahkan saat ku tanyakan hal yang sama lain waktu kepadamu, kau menjawab dengan manja “Tuhkan, gitu mulu deh L”. Gemas. Rasanya aku ingin menciumnya, lalu tertawa.
Kau hanya tidak tau bagaimana rasanya saat dia mencubitku dengan gemas saat bertemu, bagaimana perhatiannya saat aku pulang kampus, dan bagaimana rasanya dia menyender dipundakku dengan manja. Menggemaskan sekali! Jika aku tak bisa menahan emosiku saat bertemu dengannya, rasanya aku ingin bilang; “mau peluk, boleh?” lalu aku akan memeluknya dengan erat. Namun aku dapat menahan gejolak itu. Aku sadar, aku ini bukan siapa-siapanya. Toh dengan menaruh rasa padanya saja aku sudah salah.
Banyak sekali hal yang ingin ku katakan kepadanya, namun aku tak seberani itu. Bahkan untuk memulai chat duluan saja aku tak berani, tentu saja. Jika saja dia tau bahwa kejenuhannya itu membuatku bahagia. Perilakunya kepadaku pun tak bisa dibenarkan, karena dia mempunya pacar yang pasti akan sakit hati jika mengetahui tentang ini. Tapi jika memang  dosa seindah ini, aku rela berdosa untuknya.
Aku sempat menghindarinya karena aku perpikir inilah saatnya untuk menjauh darinya. Aku harus menyudahi ini semua tapi kurasa tak semudah itu. Kau bisa rasakan, bagaimana rasanya mengabaikan pesan dari orang yang kau suka? Aku berani taruhan, tidak sampai 10 menit, kau pasti akan membalasnya juga. Dan aku pun begitu.
Aku tidak tahu bagaimana menyudahi ini, tapi akhir-akhir ini kita, aku dan Abyan memang sudah jarang sekali berhubungan.  Ada sedih, ada juga senang. Sedihnya, ya kau pun tau, aku tak akan merasakan lagi gemasnya saat dia manja kepadaku, dan tak aka nada lagi lelaki perhatian macam dia. Dan senangnya, aku lega karena ta ada yang harus aku khawatirkan lagi. Mungkin dia sudah tak jenuh lagi. Aku bersyukur.
Dan untukmu Abyan, terimakasih telah menjadi bagian dari kisahku. Telah memberi warna, dan memberi makna disenyumku.
Oh ya ampun, aku mulai berlebihan. Tapi bukannya kau suka puisi bukan? Hehehe. Senang rasanya dapat mengenalmu lebih dari sekedar teman, ku harap kau bisa mengingatku pun demikian. Sampai jumpa lagi ya!

Aku, yang mencintaimu, diam-diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar