Aku adalah seorang mahasiswi yang
berkuliah di universitas swasta di kota ku. Aku bukan orang yang pandai seperti
kebanyakan orang namun namun aku dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Aku
tinggal di kost-an kecil yang tak jauh dari kampusku. Meski aku bisa saja
tinggal dengan orang tuaku. Tapi aku ingin bebas dari mereka, toh mereka pun
hanya sibuk bekerja tanpa memperdulikan aku sebagai anaknya. Rumahku pun tak
terlalu jauh dengan lokasi kampusku, namun aku sudah bilang kan.
Aku bukan wanita alim, katakan saja
begitu. Karena aku tak secantik wanita lainnya yang selalu terlihat anggun
dengan kerudungnya, yang selalu manis dengan perkataannya dan tak sebaik wanita
dengan tingkah pola yang benar. Aku ini
egois. Memang. Buktinya saja aku selalu ingin menang sendiri. Dan sifatku yang
pendendam membuat orang-orang segan kepadaku, karena tak satupun dari mereka
yang ingin macam-macam padaku. Aku bisa saja membuatnya cidera atau bahkan
patah tulah jika berani macam-macam kepadaku.
Seperti halnya kekasihku. Ia
seorang pria yang amat sangat bejat. Namun dengan seiringnya waktu dia mulai berubah
dan bersungguh-sungguh. Aku tau kenapa dia tak mau main-main denganku, karena
kerap kali aku mengetahuinya berselingkuh dengan wanita lain, aku akan
membalasnya lebih kejam dari yang dia lakukan terhadapku. Dan itu membuatnya
sakit.
Kita sudah berhubungan selama 6
tahun, dan dia selalu sabar menghadapi sikapku yang seperti ini. Mungkin dia
benar-benar mencintaiku. Tapi jika memang begitu, kenapa dia kerap kali
berselingkuh? Dasar brengsek!
Oh ya, aku belum memperkenalkannya
ya? Dia adalah Astama, aku memanggilnya Asta. Dia seorang mahasiswa
administrasi Negara disalah satu kampus swasta. Kami berbeda kampus, tapi
karena kami tinggal dalam satu kota dengan jarak yang dekat membuat kami
gampang sekali bertemu. Dia kerap kali mengantarku kuliah, mengajakku makan,
menjagaku kemana saja jika aku ingin pergi dan tinggal di kost-an kecilku hanya
untuk sekedar menemaniku agar aku tak kesepian.
Aku selalu dia jaganya, kemana pun
aku pergi. Dia itu sungguh protektif. Saat aku tanya mengapa, dia bilang “Aku
gak mau sampe kamu kenapa-kenapa”. Ya lumayanlah untuk sekedar jaga-jaga. Jika
kau bertanya padaku, apa aku mencintainya? Yaa.. kurasa sedikit. Mengapa?
Karena ulahnya dulu yang sering sekali menyelingkuhiku, aku jadi tak terlalu
cinta padanya. Aku rasa dia beginipun karena ada maunya.
Disisi lain, aku pun begitu. Aku
kerapa kali keluyuran malam bersama lelaki lain tanpa sepengetahuannya. Pulang
hingga larut dan mabuk-mabukan. Membuatnya khawatir, cemas dan kalang kabut.
Tentu saja aku akan meninggalkan handphoneku agar dia tak bisa menghubungiku.
Suruh siapa dulu dia membuatku sakit hati dengan berselingkuh dengan wanita
lain. Sekarang rasakan saja akibatnya! Hahaha.
Suatu sore, aku sedang bersamanya
di kost-an. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku dan dikumpulkan besok. Ya
ampun, aku malas sekali. Aku butuh penyegaran. Mungkin sebotol beer, sebungkus
rokok dan beberapa cemilan ringan akan membuatku sedikit lebih baik. Aku bersiap
pergi ke mini market dekat kost-anku. Jaraknya tak jauh, aku hanya perlu
berjalan sebentar saja, tak perlu menggunakan motor.
“Mau kemana kamu?” tanyanya acuh sambil memainkan game di
handphonenya.
“Mau pergi.”
“Kemana?”
“Ke mini market depan, mau ikut?”
“Mau ngapain? Aku disini aja ya.”
“Mau beli rokok, rokok ku habis. Ya udah.”
“Apa?” dia langsung menatapku tajam. “Sejak kapan kamu
merokok?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku minta kamu berenti ngerokok. Buat apa sih? Cewek tuh
gak baik ngerokok!”
Lalu ada pertengkaran kecil disana.
Dia melarangku untuk merokok. Dia bilang itu tidak baik. Tapi, apa peduliku?
Terserah saja. Aku tidak peduli. Aku tetap saja mengacuhkan apa yang dia katakan.
Lalu dia menatapku lekat, mata dan mukanya terlihat merah . kurasa dia sangat marah,
dan aku malah senang. Bodo amat, pikirku!
Dia memarahiku, membentak dan
menyalahkanku. Dia lelah dengan semua perlakuanku kepadanya.
“Suruh siapa kamu peduliin aku? Udah, sana pergi. Aku gak
butuh kamu!”
“Ya! Aku pergi!” sambil membanting pintu kost-anku.
Menyalakan motornya dan melaju cepat.
Dasar cowok brengsek.
Tau apa kau! Jangan mengatur hidupku! Hidupmu saja tidak becus.
Setelah itu, aku tetap saja akan
pergi ke mini market untuk membeli rokok. Ada tugas yang menungguku. Uh ya
ampun, kejadian tadi mengganggu sekali. Aku belum pernah melihatnya semarah itu
kepadaku. Biasanya hanya marah biasa, itu pun tidak akan lama. Dia akan
menelfonku dan meminta maaf atas perbuatannya. Ku pastikan kali ini pun dia
akan menyesal telah membentakku.
Aku berjalan keluar, dan mengunci pintu. Dalam perjalananku
ke mini market, aku terus saja digandrungi oleh rasa bersalahku terhadap Asta.
Kenapa? Tidak biasanya. Mungkin karena tadi Astama terlalu marah kepadaku. Tapi
tak apa, dia memang harus ku kecewakan. Aku melamun. Mengingatnya saat marah
dengan muka yang memerah. Ngeri.
Bagaimana mungkin Asta bisa semarah
itu kepadaku? Apa dia mulai lelah dengan sikapku? Apa dia tidak mencintaiku
lagi? Atau mungkin dia memang sudah memiliki wanita lain yang telah
menggantikanku? Ah awas saja kau, Asta! Jangan berani bermain api denganku. Kau
akan menyesal. Sangat menyesal.
Lalu tiba-tiba, entah darimana
datangnya, sebuah mobil menghampiri dengan sangat kencang hingga aku tak dapat
menghindar. BAAAKKK!!! Dentuman terdengar begitu keras. Aku jatuh pingsan dan
tak sadarkan diri.
“Aku mohon kamu bangun! Ayo bangun sayang! Aku minta maaf
telah memarahimu tadi. Aku begitu karena aku emosi. Aku minta maaf.”
Aku kenal suara ini. Asta! Lalu aku
terbangun, melihatnya sedang menangis sambil mendekapku. Dia menagis
sejadi-jadinya. Aku belum pernah melihat Asta menangis seperti itu. Baru kali
ini dia menangis sesegukan, bahkan didepan banyak orang.
“Harusnya tadi aku tidak memarahimu. Harusnya tadi aku
mengantarmu saja untuk memastikan kau tidak apa-apa. Aku menyesal sayang,
sungguh menyesal.”
Di sekelilingnya terdapat
orang-orang yang sedang berkumpul mengelilingi aku dan Asta. Tapi mengapa
mereka menangis? Oh, mungkin mereka terharu melihat Asta. Aku tidak ingat
seberapa lama aku tak sadarkan diri. Aku melihat Asta dengan seksama, air
matanya terus mengalir. Dia memohon dan meminta maaf kepadaku atas apa yang
telah ia lakukan.
Aku merasa menang, dia menyesali
perbuatannya. Dia terlihat sangat menyesal. Aku senang, dengan begitu aku bisa
memberinya pelajaran berharga.
Tak lama, ambulance pun datang.
Mereka menghampiri kami berdua dan mulai membawa tubuhku masuk ke dalam
ambulance. Aku melihat tubuhku hancur tak berbentuk, banyak sekali darah
mengalir dari tubuhku, dan aku melihat genangan berwarna merah kehitaman
dijalanan. Asta pun melemas saat para bruder atau perawat laki-laki mulai
menutup pintu ambulance. Aku melihatnya menangis sesegukan. Tangisan yang amat
sangat menyedihkan.
Aku menghampirinya, dan memeluk
tubuhnya. Ku harap aku bisa menenangkannya. Sudahlah, tak apa Asta. Aku masih
disini, akan menemanimu seperti kamu menemani hari-hariku. Aku sudah
memaafkanmu, karena kau terlihat sangat menyesali perbuatanmu, maka dari itu
aku maafkan kau. Ayo kita pergi dari sini, Asta! Orang-orang itu masih saja
melihat kita. Hentikan tangisanmu, lalu mulailah hidup baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar