Senin, 22 Juni 2015

Astama (1)



Aku adalah seorang mahasiswi yang berkuliah di universitas swasta di kota ku. Aku bukan orang yang pandai seperti kebanyakan orang namun namun aku dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Aku tinggal di kost-an kecil yang tak jauh dari kampusku. Meski aku bisa saja tinggal dengan orang tuaku. Tapi aku ingin bebas dari mereka, toh mereka pun hanya sibuk bekerja tanpa memperdulikan aku sebagai anaknya. Rumahku pun tak terlalu jauh dengan lokasi kampusku, namun aku sudah bilang kan.
Aku bukan wanita alim, katakan saja begitu. Karena aku tak secantik wanita lainnya yang selalu terlihat anggun dengan kerudungnya, yang selalu manis dengan perkataannya dan tak sebaik wanita dengan tingkah pola  yang benar. Aku ini egois. Memang. Buktinya saja aku selalu ingin menang sendiri. Dan sifatku yang pendendam membuat orang-orang segan kepadaku, karena tak satupun dari mereka yang ingin macam-macam padaku. Aku bisa saja membuatnya cidera atau bahkan patah tulah jika berani macam-macam kepadaku.
Seperti halnya kekasihku. Ia seorang pria yang amat sangat bejat. Namun dengan seiringnya waktu dia mulai berubah dan bersungguh-sungguh. Aku tau kenapa dia tak mau main-main denganku, karena kerap kali aku mengetahuinya berselingkuh dengan wanita lain, aku akan membalasnya lebih kejam dari yang dia lakukan terhadapku. Dan itu membuatnya sakit.
Kita sudah berhubungan selama 6 tahun, dan dia selalu sabar menghadapi sikapku yang seperti ini. Mungkin dia benar-benar mencintaiku. Tapi jika memang begitu, kenapa dia kerap kali berselingkuh? Dasar brengsek!
Oh ya, aku belum memperkenalkannya ya? Dia adalah Astama, aku memanggilnya Asta. Dia seorang mahasiswa administrasi Negara disalah satu kampus swasta. Kami berbeda kampus, tapi karena kami tinggal dalam satu kota dengan jarak yang dekat membuat kami gampang sekali bertemu. Dia kerap kali mengantarku kuliah, mengajakku makan, menjagaku kemana saja jika aku ingin pergi dan tinggal di kost-an kecilku hanya untuk sekedar menemaniku agar aku tak kesepian.
Aku selalu dia jaganya, kemana pun aku pergi. Dia itu sungguh protektif. Saat aku tanya mengapa, dia bilang “Aku gak mau sampe kamu kenapa-kenapa”. Ya lumayanlah untuk sekedar jaga-jaga. Jika kau bertanya padaku, apa aku mencintainya? Yaa.. kurasa sedikit. Mengapa? Karena ulahnya dulu yang sering sekali menyelingkuhiku, aku jadi tak terlalu cinta padanya. Aku rasa dia beginipun karena ada maunya.
Disisi lain, aku pun begitu. Aku kerapa kali keluyuran malam bersama lelaki lain tanpa sepengetahuannya. Pulang hingga larut dan mabuk-mabukan. Membuatnya khawatir, cemas dan kalang kabut. Tentu saja aku akan meninggalkan handphoneku agar dia tak bisa menghubungiku. Suruh siapa dulu dia membuatku sakit hati dengan berselingkuh dengan wanita lain. Sekarang rasakan saja akibatnya! Hahaha.
Suatu sore, aku sedang bersamanya di kost-an. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku dan dikumpulkan besok. Ya ampun, aku malas sekali. Aku butuh penyegaran. Mungkin sebotol beer, sebungkus rokok dan beberapa cemilan ringan akan membuatku sedikit lebih baik. Aku bersiap pergi ke mini market dekat kost-anku. Jaraknya tak jauh, aku hanya perlu berjalan sebentar saja, tak perlu menggunakan motor.
“Mau kemana kamu?” tanyanya acuh sambil memainkan game di handphonenya.
“Mau pergi.”
“Kemana?”
“Ke mini market depan, mau ikut?”
“Mau ngapain? Aku disini aja ya.”
“Mau beli rokok, rokok ku habis. Ya udah.”
“Apa?” dia langsung menatapku tajam. “Sejak kapan kamu merokok?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku minta kamu berenti ngerokok. Buat apa sih? Cewek tuh gak baik ngerokok!”
Lalu ada pertengkaran kecil disana. Dia melarangku untuk merokok. Dia bilang itu tidak baik. Tapi, apa peduliku? Terserah saja. Aku tidak peduli. Aku tetap saja mengacuhkan apa yang dia katakan. Lalu dia menatapku lekat, mata dan mukanya terlihat merah . kurasa dia sangat marah, dan aku malah senang. Bodo amat, pikirku!
Dia memarahiku, membentak dan menyalahkanku. Dia lelah dengan semua perlakuanku kepadanya.
“Suruh siapa kamu peduliin aku? Udah, sana pergi. Aku gak butuh kamu!”
“Ya! Aku pergi!” sambil membanting pintu kost-anku. Menyalakan motornya dan melaju cepat.
Dasar cowok brengsek. Tau apa kau! Jangan mengatur hidupku! Hidupmu saja tidak becus.
Setelah itu, aku tetap saja akan pergi ke mini market untuk membeli rokok. Ada tugas yang menungguku. Uh ya ampun, kejadian tadi mengganggu sekali. Aku belum pernah melihatnya semarah itu kepadaku. Biasanya hanya marah biasa, itu pun tidak akan lama. Dia akan menelfonku dan meminta maaf atas perbuatannya. Ku pastikan kali ini pun dia akan menyesal telah membentakku.
Aku berjalan keluar, dan mengunci pintu. Dalam perjalananku ke mini market, aku terus saja digandrungi oleh rasa bersalahku terhadap Asta. Kenapa? Tidak biasanya. Mungkin karena tadi Astama terlalu marah kepadaku. Tapi tak apa, dia memang harus ku kecewakan. Aku melamun. Mengingatnya saat marah dengan muka yang memerah. Ngeri.
Bagaimana mungkin Asta bisa semarah itu kepadaku? Apa dia mulai lelah dengan sikapku? Apa dia tidak mencintaiku lagi? Atau mungkin dia memang sudah memiliki wanita lain yang telah menggantikanku? Ah awas saja kau, Asta! Jangan berani bermain api denganku. Kau akan menyesal. Sangat menyesal.
Lalu tiba-tiba, entah darimana datangnya, sebuah mobil menghampiri dengan sangat kencang hingga aku tak dapat menghindar. BAAAKKK!!! Dentuman terdengar begitu keras. Aku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
“Aku mohon kamu bangun! Ayo bangun sayang! Aku minta maaf telah memarahimu tadi. Aku begitu karena aku emosi. Aku minta maaf.”
Aku kenal suara ini. Asta! Lalu aku terbangun, melihatnya sedang menangis sambil mendekapku. Dia menagis sejadi-jadinya. Aku belum pernah melihat Asta menangis seperti itu. Baru kali ini dia menangis sesegukan, bahkan didepan banyak orang.
“Harusnya tadi aku tidak memarahimu. Harusnya tadi aku mengantarmu saja untuk memastikan kau tidak apa-apa. Aku menyesal sayang, sungguh menyesal.”
                Di sekelilingnya terdapat orang-orang yang sedang berkumpul mengelilingi aku dan Asta. Tapi mengapa mereka menangis? Oh, mungkin mereka terharu melihat Asta. Aku tidak ingat seberapa lama aku tak sadarkan diri. Aku melihat Asta dengan seksama, air matanya terus mengalir. Dia memohon dan meminta maaf kepadaku atas apa yang telah ia lakukan.
Aku merasa menang, dia menyesali perbuatannya. Dia terlihat sangat menyesal. Aku senang, dengan begitu aku bisa memberinya pelajaran berharga.
Tak lama, ambulance pun datang. Mereka menghampiri kami berdua dan mulai membawa tubuhku masuk ke dalam ambulance. Aku melihat tubuhku hancur tak berbentuk, banyak sekali darah mengalir dari tubuhku, dan aku melihat genangan berwarna merah kehitaman dijalanan. Asta pun melemas saat para bruder atau perawat laki-laki mulai menutup pintu ambulance. Aku melihatnya menangis sesegukan. Tangisan yang amat sangat menyedihkan.
Aku menghampirinya, dan memeluk tubuhnya. Ku harap aku bisa menenangkannya. Sudahlah, tak apa Asta. Aku masih disini, akan menemanimu seperti kamu menemani hari-hariku. Aku sudah memaafkanmu, karena kau terlihat sangat menyesali perbuatanmu, maka dari itu aku maafkan kau. Ayo kita pergi dari sini, Asta! Orang-orang itu masih saja melihat kita. Hentikan tangisanmu, lalu mulailah hidup baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar