Bab I
“Sayang, apa-apaan ini? Sayang ayolah, kau sedang bercanda kan? Ayo,
kita bisa bicarakan ini baik-baik sayang.”
“DIAM!”
“Sayang, ku mohon jangan. Ayolah, aku minta maaf, aku tahu aku salah
tapi.. tapi..”
“Tapi apa? Kau tidak bisa terus menyangkal, ini semua salahmu!”
Dia tak menjawab.
Aku kencangkan tali pengikat tangan dan kakinya, karena untuk pemuda
seukuran dia, dia begitu tangkas. Otot-otot yang sangat kuat dalam badan yang
tegap, sungguh memikat.
Aku ciumi bibirnya yang merah tipis untuk terakhir kalinya, ku kecupi
pipinya yang kasar. Wangi khas dari krim cukurnya menyerbak seketika itu juga.
Oh ya Tuhan aku begitu mencintainya. Ku telusuri inci demi inci tubuhnya, mukanya
yang begitu tampan dengan mata kecoklatan dan alis yang tebal, mukanya dihiasi
kumis dan jambang yang habis ia cukur disekelilingnya, dadanya yang dipenuhi
oleh bulu-bulu halus, dan badan yang begitu tegap.
Mukanya memerah. Aku tahu dia ingin bercinta denganku malam itu.
Terlihat dari penisnya yang mulai mengeras saat ku telusuri telinga dan
lehernya. Dia mengerang. Dia membuatku sungguh dilema dengan ini semua.
Tapi
tidak! Aku tidak boleh berhenti disini
hanya karena aku terbuai olehnya.
Aku
tak selemah itu.
Aku
menginginkan bercinta dengannya setiap saat, tapi tidak untuk malam ini.
Tidak
sekarang, dan tidak pula untuk esok
Aku
akan merindukan saat-saat bersamanya, saat dimana tubuhku menyatu dengan
tubuhnya, mendengar desahannya, mendengar rintihannya, hembusan nafasnya yang
berpacu dengan darah yang berdesir dan wangi dari keringatnya saat kita
bercinta.
Aku
mencintainya, sangat mencintainya.
Aku
ini memang wanita lemah.
Aku berpaling darinya, mengambil pisau daging yang telah ku sediakan
sebelumnya. Aku mengasahnya pelan. Suara dentingan demi dentingan pisau
terdengar sangat merdu ditelingaku. Aku tak ingin ini menggagalkan rencanaku
malam ini. Dia harus mati, karena itu aku mau pisau ini lebih tajam dari
biasanya. Hanya saja aku menikmati saat-saat dia ketakutan dan aku ingin semua
ini berlangsung sangat pelan agar aku bisa mengingat semuanya dengan detail.
Aku tahu dia ketakutan, terlihat dari raut mukanya yang memerah cemas.
Dia memohon, memohon dan memohon terus. Aku suka saat-saat itu. Begitu damai dan
memikat. Debar jantungnya berdegup gencang berpacu dengan degup jantungku yang
sama-sama berdebar.
“Sayang, apa yang akan kau lakukan dengan itu? Sayang ini tidak benar!”
“Ya, memang, ini semua tidak benar, termasuk kau, bajingan!”
“Tidak.. sayang ayolah” dia meringis ketakutan, matanya mulai
berkaca-kaca. “jangan lakuan ini sayang, aku mencintaimu”
“Kau tahu kan? Aku pun demikian, aku juga mencintaimu, lebih dari ini.
Aku hanya tak ingin kau bersama orang lain. Kau hanya milikku, saat ini dan
selamanya. Tak akan ada perempuan yang bisa mengambil hatimu selain aku. Tak
boleh ada! Hatimu hanya untukku. Hanya aku yang bisa memilikimu, menciumimu,
memelukmu dengan erat, tertawa bersamamu, bahkan mengoral penismu. Bukan orang
lain, bukan wanita jalang itu! Dasar kau brengsek!”
Aku menjambak rambutnya yang kecoklatan.
Dia mengerang.
“Tidak sayang, tidak! Ya, ya, tentu! Aku milikmu. Tak ada seorangpun
yang bisa menggantikanmu. Tidak orang lain, tidak wanita-wanita jalang diluar
sana. Hanya kau. Aku bersumpah. Mari kita perbaiki ini semua. Ini semua salah
paham.”
Aku mendekati dia, menempelkan pisau daging itu dipipinya. Dia mulai
meneteskan air mata, mata coklatnya melebur dengan air mata. Sungguh malang. Ku
sekat air matanya, aku ciumi lagi.
“jangan berisik sayang!”
“Tidak! Tuhan, tidak! Tolong aku, hentikan! Aku mohon!” dia mulai
menangis dan merengek seperti hal nya anak kecil yang ketakutan. Menjijikan
sekali.
Adrenalinku pun berpacu dengan waktu. Hatiku berdebar saat kecang
melebihi saat bercinta dengannya. Kurasakan darahku mulai berdesir, mengalir
hingga ke ubun-ubun. Sensasi yang sangat luar biasa yang tak pernah ku rasakan
sebelumnya. Ya Tuhan, aku sangat menikmati ini semua.
“Tidak sayang, hentikan semua ini. Kau gila! Berhenti!” air matanya
mulai membasahi pipi hingga lehernya. Dia begitu ketakutan. Ku rasa dia tak
ingin mati malam ini.
Lalu aku menindih badannya yang kekar.
“Sshhh! Ya sayang, kau benar. Aku ini memang gila, kau tahu mengapa?
Aku gila terhadapmu karena aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu,
dan kau tak pernah mengerti itu. Kau selalu saja mempermainkanku dan tak pernah
bisa hanya meniduri satu perempuan saja. Ku rasa itu wajar, karena kau memang
tampan. Tapi aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi. Aku bisa saja bercinta
dengan pria lain, berpesta sampai larut, mabuk-mabukan dan meninggalkanmu, tapi
tak semudah itu. ” jawabku menunjukan perasaan yang hancur. “Aku mencintaimu,
Max. sangat-sangat mecintaimu.”
Lalu sedetik kemudian…
BRAKKK!!!
Darah dari lehernya menyembur deras, membasahi tubuh dan
pakaianku. Darah yang begitu banyak. Aku
dibuat takut olehnya. Kepalanya menggelinding dengan mata melotot menghadapku.
Air matanya menetes dari sudut matanya. Terlihat kesakitan yang amat sangat.
Darah yang memuncrat mengotori dinding apartementnya yang classic.
Lantai kayu akasia yang mengkilap seketika berubah jadi merah darah. Darahku
berdesir, panas.
Belum puas, aku merobek dadanya yang berbulu halus itu. Ku robek hingga
ke tulangnya, ku ambil hatinya, masih berdegub. Ku rasakan detak jantungnya
yang masih berdebar ditanganku. Sungguh perasaan yang sangat luar biasa. Lalu
ku masukan ke dalam toples yang berada didalam tasku. Ku masukkan perlahan
dengan sangat hati-hati, aku tak mau menyakiti hati orang yang ku sayang.
Setelah itu, ku mulai memotong bagian yang lainnya. Penis. Bagian yang
sangat memukau. Ku potong perlahan, mulai dari buah zakarnya. Jangan sampai
kulitnya terkelupas, aku harus memotongnya dengan sangat hati-hati.
Selepas itu, ku simpan benda tersebut ke dalam toples yang lainnya.
Sungguh mengesankan.
Aku menyukai ini.
Seharusnya ku lakukan hal ini sejak dulu, sejak
pertama kali Max berani berselingkuh dan bercinta dengan wanita-wanita jalang
itu. Tak ku sangka rasanya akan seperti ini.
Sungguh luar biasa
Aku benar-benar menikmatinya.
Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan
badanku yang bersimbuh darah segar. Kunyalakan shower dan mulai membilas
rambutku hingga ujung kaki. Tak kulewatkan sedikitpun bercak yang ada
ditubuhku. Ku bilas semuanya, tak lupa juga sarung tangan plastic yang ku
gunakan. Sengaja ku memakainya karena aku tak ingin serpihan kuku ku dan sidik
jariku ada yang tertinggal disini. Jangan sampai! Semua itu dapat mengacaukan
rencana jahatku.
Selesai mandi, aku mengecek semuanya dengan teliti.
Mulai dari kamar mandi yang ku pakai mandi hingga mayat Max yang sudah terbujur
kaku kehabisan darah. Ku pastikan semuanya aman dan tak ada jejak yang
tertinggal.
Lalu setelah itu, dengan sengaja ku tinggalkan
beberapa helai rambut disana.
Beberapa hari mulai berlalu. Hiruk pikuk orang-orang mulai riuh dengan
pemberitaan tentang seorang pemuda yang mati mengenaskan di apartementnya.
Kasihan sekali. Tak ada yang tahu kenapa pemuda tersebut bisa mati
semengenaskan itu. Pihak kepolisian pun tak menyadari siapa pembunuh
sebenarnya. Padahal mereka begitu gampang menangkap pelakunya. Sangat gampang.
Namun
aku mempunyai alibi yang sangat kuat untuk ini.
Mereka
tak akan semudah itu untuk menangkapku.
Aku
ini cerdas.
Lihat
saja nanti, mereka akan tahu berhadapan dengan siapa.
Bab II
“Selamat pagi Cornelia, apa kau melihat ponselku?” Ann menuruni anak
tangga dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya membuat anak tangga itu berdecit, kayu
tua.
“Selamat pagi Ann, kurasa tidak.”
“Aku tidak melihatnya beberapa
hari ini. Mungkin terselip disesuatu tempat atau tertinggal di tasku yang
lainnya. Akan ku cari lain kali.”
“Baiklah. Mengapa kau tidak menelepon ponselmu dari telepon rumah?”
jawab Cornelia sembari menyediakan piring diatas meja makan.
“Terakhir kali yang ku ingat ponselku mati, aku lupa tidak mengisi
baterainya.”
“Ya ampun kau ini, teledor sekali.”
“Tak apalah, mungkin hanya lupa.” Ann menjawab ringan lalu mengoleskan
nuttela di rotinya.
“Terserah saja. Kopi?”
“Tidak, susu saja.”
Anna Crumplebottom, atau lebih sering disapa Ann. perempuan yang begitu
cantik walau postur tubuhnya tak terlalu tinggi. Kulitnya yang putih membuat
pipinya terlihat sedikir merah. Perempuan 24 tahun ini sangat mencintai dunia
malam, pantas saja, dia adalah anak semata wayang dari keluarga Crumplebottom
yang akan mewarisi semua perusahaan keluarganya kelak. Dia anak emas, begitu di
manja, begitu dielu-elukan. Meskipun begitu, ia tak pernah mempunyai teman yang
sungguh-sungguh berteman dengan dirinya.
Hanya saja karena uangnya banyak, tak sedikit orang yang hanya ingin menikmati
kekayaannya. Atau bahan hanya karena ingin terlihat lebih berkelas jika bergaul
dengannya.
Di umurnya sekarang, Ann masih saja tak memiliki kekasih yang
sungguh-sungguh. Bukan untuk ia nikahi, hanya saja untuk diajak bersenang-senang,
berpesta, pulang larut hingga mabuk dan bercinta semalaman lalu pergi begitu
saja.
Hah!
Dasar kau wanita jalang! Kau memang wanita jalang kelas satu.
Itu
sebabnya Max bercinta denganmu kan? Brengsek!
Dan
kini kau takan bisa bercinta lagi dengannya, Ann. Tak akan pernah.
Sedangkan
Cornelia, wanita tua dengan rambut keperakan itu adalah pelayan di rumah Ann.
Dia wanita tua yang begitu perhatian. Dipercayai oleh keluarga Crumplebottom
untuk melayani Ann semenjak ia mempunyai rumahnya sendiri. Dia hanya melayani
Ann pada jam 6 pagi hingga jam 4 sore pada hari kerja untuk menyiapkan segala
sesuatu yang Ann butuhkan. Mulai dari sarapan, pekerjaan rumah yang tak terlalu
berat dilakukan dan kadang menyiapkan makan malam jiga Ann ingin makan dirumah.
Semuanya ia kerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya, dan Ann
sangat mengerti akan hal itu. Ann selalu memberinya gaji lebih dari yang
seharusnya ia terima. Itu mengapa ia sangat betah bekerja dirumah Ann walaupun
seharusnya ia sekarang sudah pensiun dari pekerjaannya itu dan menikmati hari
tuanya. Tapi Cornelia enggan dan memutuskan untuk lebih memilih bekerja menjadi
pelayan hingga suatu hari jika memang ia
tak bisa lagi.
“Conelia,
tolong siapkan pakaianku. Aku akan keluar untuk mengunjungi beberapa perusahaan
ayahku. Mungkin saja aku pulang larut, jika kau sudah selesai dengan
pekerjaanmu kau boleh pulang.”
“Pada hari
sabtu?” Cornelia mengelapi meja makan dan membereskan piring-piring ke tempat
pencucian piring.
“Ya, ada urusan yang harus ku selesaikan minggu ini juga. Aku khawatir
aku tidak sempat.”
“Kalau begitu aku akan pulang nanti malam.”
“Tidak, bersantailah dengan cucumu. Ajak dia jalan-jalan ke taman. Aku
tak apa-apa.” Ann menyisakan sedikit susu di gelasnya.
“Baiklah kalau begitu.”
“Bagus!” sahut Ann senang, ia lalu pergi ke kamar mandi di kamarnya di
lantai dua. Meninggalkan Cornelia yang sedang sibuk membereskan sisa sarapan
dimeja makan.
Ann pun mulai membuka dress tidurnya dan menyalakan shower dikamar
mandinya, cuaca hari itu memang cerah namun masih sangat dingin. Ia menyalakan
pemanas dan mulai membilas seluruh badannya. Rambutnya yang merah kecoklatan
tergerai panjang hingga punggung.
Ia menikmati setiap guyuran air hangat yang jatuh
dipermukaan wajahnya. Merasakan sensasi yang sangat nyaman dan relax. Semua otot-ototnya mengendur,
lalu ia mendengus.
Beberapa menit kemudia ia selesai dengan mandinya.
Ia keluar dan memakai handuk kimononya yang berkain
halus. Ia mengeringkan dirinya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu ia
pergi ke meja rias dan menggunakan hair
dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia ingin rambut yang sempurna untuk
hari ini. Lebih mengembang akan terlihat lebih cantik, kiranya.
“Dimana aku menaruhnya? Biasanya ia ada disini.”
Dia mencari sisir yang biasanya iya gunakan untuk
menge-blow rambutnya, diatas meja
rias hingga ke lacinya. Namun tak dapat ia termukan.
“Sudahlah, mungkin aku lupa.”
Cornelia masuk ke dalam kamar Ann untuk menyediakan
pakaian untuknya. Ia masuk dan mulai mencari beberapa outfit formal yang cocok di hari sabtu yang cerah. Dia memang bukan
pengamat fashion atau bahkan designer yang ternama tapi selera Cornelia tak
terlalu buruk untuk ukuran perempuan tua sepertinya. Dan Ann tahu akan hal itu,
itu mengapa dia selalu memercayai Cornelia untuk memilihkan bajunya.
Ia membuka lemari, mencari mantel yang cocok.
Tak ada.
Tak ada.
Dimana dia menyimpannya?
Mungkin ia lupa, sudahlah.
Cornelia pun
akhirnya menemukan mantel berwarna merah padam didalam lemari dengan desain
yang megah dari kayu adam tersebut. Mantel beludru halus yang dihiasi 8 buah
kancing-kancing besar berwarna hitam didepannya. Dengan kerah yang tak terlalu
lebar dengan panjang diatas lutut. Sangat cocok dengan cuaca saat itu.
Lalu ia mengambil high heels yang tak terlalu tinggi
dengan hak yang tak terlalu tipis berwarna hitam mengkilap yang terpampang
dilemari sepatu yang dipenuhi lampu-lampu berwarna keemasan yang menambah kesan
mewah.
“Cornelia, apa kau melihat sisirku?” memandang
Cornelia dari kaca riasnya.
“Tidak.”
“Oh mungin aku lupa, sudahlah. Aku bisa beli nanti
sepulangnya dari kantor ayahku.” Ia asyik sendiri mengeringkan rambutnya yang
panjang dengan hair dryernya.
“Mungkin kau pun lupa menaruh mantel kulitmu yang
berwarna kecoklatan, aku mencarinya dalam lemari tapi tak ku temukan. Awalnya
aku akan menyiapkan itu untuk outfit mu hari ini tapi tak ada disana.”
“Benarkah?” Ann keheranan, kenapa banyak sekali barang
yang hilang. Tapi itu bukan barang yang penting atau barang-barang berharga,
mungkin, tapi tidak untuk handphonenya. Itu sesuatu yang cukup berharga tapi
bagaimana dengan yang lainnya? Sisir dan bahkan mantel kulitnya.
Jika memang ada pencuri, kenapa pencuri itu tidak mencuri
sesuatu yang lebih berharga seperti isi dompet Ann, yang selalu penuh dengan
uang dan beberapa kartu kredit dengan isi tabungan yang nominalnya tidak
sedikit. Televisi LCD berlayar 52’ yang nyaman untuk ditonton atau bahkan mobil
mustang antiknya.
“Apa kau pikir disini ada pencuri?” Tanya Ann heran
pada Cornelia.
“Pencuri? Itu tidak mungkin. Bahkan kau tak kehilangan
sesuatu yang berharga, kecuali handphone mu yang bahkan mungkin kau hanya lupa
menaruhnya.” Jelas Cornelia.
“Ya, mungkin saja.”
“John, penjaga rumah ini memang sudah tua tapi dia
selalu memastikan semuanya terkunci rapat saat kau tak ada dirumah. Begitu pun
aku, aku selalu mengecek dua kali jendela dan pintu jika kau keluar dan aku
akan pergi. Semuanya terkendali.”
“Lalu bagaimana dengan Benjamin?”
“Tukang kebun itu?”
“Ya. Kurasa dia sedikit aneh.” Ann menjawab dengan
nada sakarstik.
“Apa kau menuduhnya?” Tanya Cornelia yang tak begitu
antusias jika Ann memang menuduhnya mencuri.
“Tidak, maksudku, apakah kau berpikir juga jika dia
aneh? Hanya saja dia terlalu pendiam untuk lelaki seumurannya. Aku tak
mengerti. Menurutmu apakah dia normal? Apakah dia tak pernah berimajinasi dan
memimpikan bercinta semalaman denganku? Itu semua aneh.” Jawabnya dengan nada
mengejek. Lalu ia tertawa dengan leluconnya sendiri.
“Kau ini. Mungkin saja, aku tidak tahu. Tapi Benjamin
itu pria yang baik. Aku sering berbincang dengannya. Dia pemuda yang hebat.”
“Ya mungkin saja dia hebat, aku bisa melihat dari
otot-ototnya yang kekar dan urat-uratnya yang terlihat kehijauan saat dia
mengurus tamanku. Ku kira dia bisa memuaskanku dalam bercinta.”
“Apakah kau akan bercinta dengannya? Kurasa dia tak
terlalu jelek. Dia terlalu tampan untuk seukuran tukang kebun. Lihat saja
matanya yang berwana hazel itu, sungguh menggoda saat ia mengedipkan matanya
dengan bulu mata yang tebal dan lentik.” Kali ini Cornelia menjawab dengan
sangat antusias.
“Kau ini nakal ya, Cornelia.” Dia tertawa kecil. “Ya
memang, akan ku pertimbangkan lain kali.”
Mereka berdua pun hanyut dalam imajinasi mereka
masing-masing hingga tak memikirkan lagi semua benda yang telah hilang.
Tak memikirkan pula siapa pencuri yang sebenarnya.
Semuanya
berjalan dengan lancar.
Ann memakai lipstick berwarna senada dengan mantel
yang akan dipakainya, memoleskan sedikit blush-on berwarna merah jambu ke
pipinya dan semuanya terlihat sempurna. Tak perlu berdandan berlebihan untuk
menjadi cantik, Ann memang cantik walau tak berdandan. Sebuah anugerah.
“Baiklah kalau begitu, aku harus segera pergi. Semua
urusan ini menungguku. Pulanglah dengan segera, aku akan telfon kau untuk
berjaga-jaga siapa tau saja kau tak benar-benar pulang untuk mengajak cucumu
jalan-jalan.” Ann memakai mantelnya dan mengeluarkan rambut yang terselip
dibalik mantelnya dan membiarkan rambut itu tergerai. Lalu memakai heels yang
telah Cornelia sediakan.
“Tak perlu seperti itu. Aku akan pulang setelah
semuanya selesai.”
“Baiklah. Bye!” lalu dia meletakan sun glasses-nya
dihidugnya yang mancung dengan frame kemerahan dan kaca yang berwarna
kecoklatan.
Voila! Semuanya sempurna.
Ann pun pergi meninggalkan Cornelia yang sedang
membereskan kamar Ann. Menuruni anak tangga tua dan melewati ruang tengah
berlantai marmer dengan hiasan lampu gantung yang bertengger megah.
Ia pergi ke halaman dan masuk ke dalam mustang antiknya.
Pemberian Ayahnya saat ia lulus kuliah di Cambridge University beberapa tahun
lalu. Ia memanaskan mobilnya lalu pergi menuju kota-kota dimana perusahaan
Ayahnya berada. Dia begitu menyayangi ayahnya, sehingga ia pun mau melanjutkan
usaha keluarganya.
Sungguh menyenangkan.
Menjadi anak orang kaya yang mewarisi semua harta
kekayaan orang tuanya.
Mengurusi perusahaan furniture yang ternama dan
mempunyai beberapa real estate yang mempunya harga fantastik.
Kehidupan yang sungguh elegan.
Hidup yang selalu diimpikan orang-orang.
Bab III
Aku tertawa
dalam hati, begitu puas, begitu menang.
Aku sudah
merencanakan ini jauh-jauh hari sebelum hari pembunuhan itu terjadi.
Aku ini memang
wanita cerdas.
Aku menyelinap masuk kerumah Anna
Crumplebottom dan mulai mencuri beberapa barang yang mungkin tak akan pernah ia
sadari sebelumnya. Beberapa barang yang tak begitu berharga tapi sangat penting
untukku.
Rumah megah itu tak selamanya dijaga sehingga aku bisa masuk dengan
mudahnya, hanya menyelidiki keadaan rumah, jika sudah ku anggap aman aku bisa
langsung menyelinap ke dalamnya.
Cornelia, pelayan tua itu hanya bekerja 6 hari dalam seminggu. Hari senin
hingga sabtu, bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 3 sore, selebihnya tak ada
lagi yang mengawasi rumah megah tersebut.
Sedangkan John, tua bangka sang penjaga rumah itupun tak selamanya berada
disana. Dia hanya bekerja pada saat-saat tertentu. Hanya berjaga pada malam
hari untuk memastikan semua pagar dan pintu rumah tersebut terkunci. Tapi orang
tua itu tidak pernah tau siapa saja yang bisa masuk rumah tersebut dalam
penjagaannya. Seharusnya Ann tidak pernah mempekerjakan orang tua seperti itu
dirumah mewahnya. Tapi hal tersebut menguntungkan sekali untukku. Sangat
menguntungkan.
Serupa dengan John, Benjamin, tukang kebun itu tak pernah ada selamanya
disana. Dia hanya bekerja pada Ann pada hari-hari tertentu saja. Hari Senin,
Rabu dan Sabtu. Hanya untuk memastikan bahwa tanaman terawat dengan baik.
Setelah pekerjaannya selesai, ia langsung pulang tanpa berlama-lama tingga
disana. Dia bekerja hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada pagi hari, atau
bahkan pada sore hari. Untuk menyiram tanaman agar tetap segar dan memupukinya
agar tak mudah layu. Lelaki pendiam itu mengerjakan tugasnya dengan baik.
Begitupun denganku.
Aku pun menjalankan tugasku dengan baik. Sangat baik.
Ann belum menyadari semua ini, bahwa dia akan terjebak
dalam masalah yang sangat serius.
Aku yang menyeretnya masuk. Untuk menjadikannya dia
sebagai alibi dalam kasus pembunuhan Max malam itu.
Beberapa hari sebelum kematian Max, aku menyelinap
masuk ke dalam rumah Ann yang sepi tak berpenghuni. Aku telah mengawasi rumah
itu dalam beberapa hari, dan menunggu waktu yang sangat tepat, hingga akhirnya
waktu itu tiba. Ia pergi ke klub malam dan meninggalkan rumahnya kosong. John,
sang penjaga berjaga diteras depan rumah itu dengan secangkir kopi panas dan
jam tangan usang yang sedang ia amati. Ia tak menyadari keberadaanku yang
sedang mengawasinya.
Malam belum begitu larut, pukul 10 aku mulai melancarkan aksi ku. Aku menyelinap kesana
menuju taman disebelah utara yang menghadap jalan raya. Taman yang tak begitu
luas namun dipenuhi dengan pohon-pohon dan semak yang tertata rapi.
Aku melemparkan batu berukuran sedang ke semak-semak
itu. John pun tersentak, ia memakai jam tangannya lalu mengamati dengan
seksama. Ia menghampiri asal suara tersebut, dan begitu perhatiannya teralihkan
pada semak-semak, aku mulai memanjat dinding pembatas rumah tersebut dengan
hati-hati agar keberadaanku tak ketahuan. Jantungku berdebar aku harus
menyelesaikannya dengan cepat.
Aku masuk melalui pintu belakang. Dikunci. Tapi tak
masalah, aku telah menduplikatkan semua kunci rumah tersebut. Aku masuk dengan
sangat hati-hati. Menyelinap dan mencari barang-barang yang ku butuhkan. Sisir,
kartu nama, mantel kulit yang sering Ann pakai dan beberapa make up yang sudah
tak terpakai.
Setelah semua yang kubutuhkan terpenuhi, aku langsung
pergi dengan tetap berhati-hati. Melalui pintu belakang dan melihat dari
kejauhan bahwa John tak menyadari bahwa ada seseorang dirumah majikannya. Dia
telah terlelap dikursi teras dengan koran dipangkuannya. Aku pun memanjat
kembali dengan sangat hati-hati jangan sampai aku membangunkan penjaga rumah
tersebut. Aku berhasill keluar dan kembali menuju mobilku yang ku parkir
dibelakang rumah Ann dekat pepohonan rindang. Tak akan ada yang melihatnya. Aku
akan aman.
Aku memacu mobilku dengan sangat hati-hati dan
kecepatan yang sewajarnya, jangan sampai ada orang yang memperhatikanku dan
jangan sampai laju mobilku menjadi pusat perhatian orang. Ku injak pedal gas
pelan-pelan dan melesat menuju perbatasan Doneraile.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar