Senin, 22 Juni 2015

Astama (2)



Astama, kau ini kenapa? Akhir-akhir ini aku sering kali melihatmu murung dan berdiam diri. Apakah ada yang salah? Astama, ceritalah kepadaku jika kau memiliki sesuatu yang mengganjal dihatimu. Jangan diam saja seperti itu. Aku selalu ada disampingmu setiap saat dan akan setia menjagamu, seperti kau setia menjagaku dulu.
Kau tau Astama, kini aku mengerti. Kini aku rasakan bagaimana pedihnya jadi kau. Kau ini menyedihkan sekali ya! Nikmatilah hidupmu selagi bisa. Jangan murung diri saja seperti itu. Kau banyak melewati kesenangan yang ada jika hanya berdiam diri seperti itu. Kau ini bagaimana sih? Pergilah keluar, hirup udara segar. Pergilah berpesta dengan teman-temanmu hingga larut dan lewati malam yang panjang dengan bersenang-senang.
Sudah ku ikuti kau setahun ini, dan kau sangat banyak berubah. Kau bukan lagi Astama yang aku kenal. Kau sungguh berbeda. Apa yang membuatmu seperti ini Astama? Ceritakanlah kepadaku, ceritalah!
Ku lihat kau selalu pergi ke tempatku seperti biasanya, kau duduk termenung disana, melihat sekelilingmu lalu menangis. Sering sekali aku melihatmu menangis, padahal dulu kau tak pernah seperti itu. Kau ini kan pria kuat, kenapa sekarang kau sungguh terlihat lemah? Aku bahkan tak mengerti apa yang bisa membuatmu sesedih ini. Saat kau bersedih, aku akan disana dan memelukmu dengan erat, dan berharap itu dapat menenangkanmu. Tangisanmu semakin keras, itu membuatku sedih dan ingin menangis bersamamu. Tapi, bahkan sekarang aku tak mempunyai air mata. Sungguh sia-sia.
Semua temanmu mulai iba kepadamu, dan berkata “Ayo Asta, jangan murung terus dong. Kita ada disini buat kamu kok. Ikhlasin ya!” dan kau hanya membalasnya dengan senyuman, senyuman yang bahkan tak memiliki arti sama sekali.  Aku tahu itu.
Pernah suatu saat aku melihatmu duduk termenung disebuah nisan, kau mendekatkan kepalamu pada nisan itu dan berbisik, “Aku rindu, bisakah kau datang malam ini? Aku hanya ingin melepas rindu denganmu.” Getir.
Aku sebal sekali jika melihatmu begitu. Kau ini apa-apaan Astama? Aku kan selalu ada disampingmu kemanapun kau pergi. Dan akan selalu begitu.
Lalu kau pulang kerumahmu, termenung lagi dikamarmu yang pengap. Kau selalu menatapi fotoku, foto kita berdua. Ya ampun, bahkan aku tak tau kau menyimpan foto-foto itu dan memajangnya dikamarmu. Aku senang. Sebegitu pedulinya kah kau terhadapku? Aku menyesal telah menyia-menyiakanmu, dulu. Dan kini aku berjanji, tak akan perpaling darimu. Tak akan.
Beberapa bulan berlalu, tapi kau tetap saja seperti itu. Dan aku pun tetap disana, menemani kesedihanmu hingga fajar. Dan saat kau terbangun dari tidurmu yang kau rasa panjang, kau bergegas mandi dan melihat dirimu dicermin. Oh ya ampun, siapa lelaki itu? Aku bahkan tak mengenalnya. Kau berubah sekali. Lihat dirimu, begitu berantakan. Dengan rambut yang mulai gondrong, pipi tirus dan mata yang selalu sembab. Itu mengerikan sekali. Kau kehilangan banyak berat badanmu. Ada pa denganmu? Kau tak seharusnya seperti itu.
Setelah itu, kau mulai harimu seperti biasa, sekedar sarapan, meski tak pernah kau habiskan. Ibumu selalu mengingatkanmu “Makan nak! Mubazir.” Namun kau tak pernah benar-benar mendengarkannya. Berbeda dengan hari-hari biasanya, kini Ibumu menghampirimu dan berkata, “Nak, kita perlu bicara.” Dan kau mengangguk pelan.
“Kenapa nak? Ceritakan pada Ibumu ini, ada apa?”
“Tidak Ibu.”
“Masalah yang sama lagi?”
Kau tak menjawab.
“Ibu tau kau pasti merindukannya, Ibu mengerti nak. Tapi kau tak bisa terus-terusan seperti ini. Kau harus mulai hidup yang baru, sayangku. Lihat dirimu, kau sungguh berantakan. Jika dia bisa melihatmu sekarang, dia pasti akan jengkel sekali melihatmu seperti ini. Dia akan memarahimu dan menyuruhmu ‘sana cepat potong rambutmu, kamu ini berantakan sekali sih’. Dan kamu akan menurutinya bukan?”
Matamu mulai berair lagi.
“Ibu tau, ini tidaklah mudah anakku. Kalian bersama dalam waktu yang lama dan tak mungkin kau dapat melupakannya begitu saja. Kau tau Astama, ibu pun begitu. Dia anak baik dan periang, namun bisakah kau hentikan tangisanmu itu? Tangisanmu akan membuatnya berat menghadapi dunianya. Mungkin saja dia akan mengomel ‘kamu ini kenapa sih? Jangan tangisi aku terus dong! Kamu mau liat aku tersiksa hanya karena tangisanmu itu? Berhentilah, dan bantu aku.’ Dan kau harus menuruti kemauannya, ya kan?”
Aku meng-iya-kan, benar. Aku setuju sekali atas perkataan ibumu itu. Aku tersiksa Astama, aku tak bisa melihatmu menangis terus seperti itu. Semuanya sangat membebaniku. Bisakah kau berhenti menangisiku? Aku mohon, Astama.
Kau menatap ibumu, lalu kau berkata “benarkah seperti itu, Bu?” dengan mata yang masih berair.
“Tentu saja. Dia pun akan sedih. Apa kau tak mau melihatnya bahagia di Surga tanpa terbebani olehmu,Astama?”
“Tentu tidak, Bu. Aku ingin sekali membuatnya bahagia meski aku tak tau harus bagaimana caranya. Aku biasanya membelikannya coklat, dan mengajaknya jalan-jalan dan dia akan tersenyum, manis sekali Bu. Dan sekarang aku sudah tak bisa membuatnya tersenyum lagi, Bu.” Kau mulai menangis lagi.
“Bisa sayangku, tentu bisa.” Ibumu tersenyum dan menyeka air matamu.
Kau menatapnya, nanar. Menggambarkan sekali bahwa kau ingin tau bagaimana caranya.
“Hentikan tangisanmu itu, dan berdoalah setiap hari untuknya agar dia bahagia disana. Lalu ikhlaskan semuanya, nak.”
Kau menghentikan tangisanmu dan menerawang jauh. Kau berpikir, apakah kau bisa? Dan ku jawab, tentu saja sayangku! Apapun bisa kau lakukan. Kau ini kan lelaki hebat.
3 bulan berlalu, kini kau mulai membaik. Kau  mulai memotong rambut panjangmu, seperti potongan rambut kesukaanku. Mata tak lagi sembab seperti biasanya, dan kurasa badanmu mulai membaik. Pipimu tak setirus dulu. Dan senyummu tak lagi semu. Aku senang melihatmu kian membaik.
Teman-temanmu mulai tersenyum melihat tingkahmu yang kini jauh lebih baik. Senang. Dan mereka berkata “Apa kabar sobat? Sudah lebih baik?” dan kau menjawab dengan mantap, “Ya.” Disertai senyuman khasmu. Lalu kau membuka dompetmu, melihat foto kita berdua yang sedang tersenyum seraya berkata “Seperti itu kan? Aku sedang berusaha, sayangku. Aku tak akan membuatmu bersedih lagi. Aku janji. Kau baik-baik disana ya, aku pun akan baik disini.” Lalu kau tersenyum.
Aku senang melihatmu jauh lebih baik dari sebelumnya. Kini aku dapat meninggalkanmu jika memang kau sudah bisa merawat dirimu dengan baik. Jangan sedih lagi ya, Asta. Aku mencintaimu.

Astama (1)



Aku adalah seorang mahasiswi yang berkuliah di universitas swasta di kota ku. Aku bukan orang yang pandai seperti kebanyakan orang namun namun aku dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Aku tinggal di kost-an kecil yang tak jauh dari kampusku. Meski aku bisa saja tinggal dengan orang tuaku. Tapi aku ingin bebas dari mereka, toh mereka pun hanya sibuk bekerja tanpa memperdulikan aku sebagai anaknya. Rumahku pun tak terlalu jauh dengan lokasi kampusku, namun aku sudah bilang kan.
Aku bukan wanita alim, katakan saja begitu. Karena aku tak secantik wanita lainnya yang selalu terlihat anggun dengan kerudungnya, yang selalu manis dengan perkataannya dan tak sebaik wanita dengan tingkah pola  yang benar. Aku ini egois. Memang. Buktinya saja aku selalu ingin menang sendiri. Dan sifatku yang pendendam membuat orang-orang segan kepadaku, karena tak satupun dari mereka yang ingin macam-macam padaku. Aku bisa saja membuatnya cidera atau bahkan patah tulah jika berani macam-macam kepadaku.
Seperti halnya kekasihku. Ia seorang pria yang amat sangat bejat. Namun dengan seiringnya waktu dia mulai berubah dan bersungguh-sungguh. Aku tau kenapa dia tak mau main-main denganku, karena kerap kali aku mengetahuinya berselingkuh dengan wanita lain, aku akan membalasnya lebih kejam dari yang dia lakukan terhadapku. Dan itu membuatnya sakit.
Kita sudah berhubungan selama 6 tahun, dan dia selalu sabar menghadapi sikapku yang seperti ini. Mungkin dia benar-benar mencintaiku. Tapi jika memang begitu, kenapa dia kerap kali berselingkuh? Dasar brengsek!
Oh ya, aku belum memperkenalkannya ya? Dia adalah Astama, aku memanggilnya Asta. Dia seorang mahasiswa administrasi Negara disalah satu kampus swasta. Kami berbeda kampus, tapi karena kami tinggal dalam satu kota dengan jarak yang dekat membuat kami gampang sekali bertemu. Dia kerap kali mengantarku kuliah, mengajakku makan, menjagaku kemana saja jika aku ingin pergi dan tinggal di kost-an kecilku hanya untuk sekedar menemaniku agar aku tak kesepian.
Aku selalu dia jaganya, kemana pun aku pergi. Dia itu sungguh protektif. Saat aku tanya mengapa, dia bilang “Aku gak mau sampe kamu kenapa-kenapa”. Ya lumayanlah untuk sekedar jaga-jaga. Jika kau bertanya padaku, apa aku mencintainya? Yaa.. kurasa sedikit. Mengapa? Karena ulahnya dulu yang sering sekali menyelingkuhiku, aku jadi tak terlalu cinta padanya. Aku rasa dia beginipun karena ada maunya.
Disisi lain, aku pun begitu. Aku kerapa kali keluyuran malam bersama lelaki lain tanpa sepengetahuannya. Pulang hingga larut dan mabuk-mabukan. Membuatnya khawatir, cemas dan kalang kabut. Tentu saja aku akan meninggalkan handphoneku agar dia tak bisa menghubungiku. Suruh siapa dulu dia membuatku sakit hati dengan berselingkuh dengan wanita lain. Sekarang rasakan saja akibatnya! Hahaha.
Suatu sore, aku sedang bersamanya di kost-an. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku dan dikumpulkan besok. Ya ampun, aku malas sekali. Aku butuh penyegaran. Mungkin sebotol beer, sebungkus rokok dan beberapa cemilan ringan akan membuatku sedikit lebih baik. Aku bersiap pergi ke mini market dekat kost-anku. Jaraknya tak jauh, aku hanya perlu berjalan sebentar saja, tak perlu menggunakan motor.
“Mau kemana kamu?” tanyanya acuh sambil memainkan game di handphonenya.
“Mau pergi.”
“Kemana?”
“Ke mini market depan, mau ikut?”
“Mau ngapain? Aku disini aja ya.”
“Mau beli rokok, rokok ku habis. Ya udah.”
“Apa?” dia langsung menatapku tajam. “Sejak kapan kamu merokok?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku minta kamu berenti ngerokok. Buat apa sih? Cewek tuh gak baik ngerokok!”
Lalu ada pertengkaran kecil disana. Dia melarangku untuk merokok. Dia bilang itu tidak baik. Tapi, apa peduliku? Terserah saja. Aku tidak peduli. Aku tetap saja mengacuhkan apa yang dia katakan. Lalu dia menatapku lekat, mata dan mukanya terlihat merah . kurasa dia sangat marah, dan aku malah senang. Bodo amat, pikirku!
Dia memarahiku, membentak dan menyalahkanku. Dia lelah dengan semua perlakuanku kepadanya.
“Suruh siapa kamu peduliin aku? Udah, sana pergi. Aku gak butuh kamu!”
“Ya! Aku pergi!” sambil membanting pintu kost-anku. Menyalakan motornya dan melaju cepat.
Dasar cowok brengsek. Tau apa kau! Jangan mengatur hidupku! Hidupmu saja tidak becus.
Setelah itu, aku tetap saja akan pergi ke mini market untuk membeli rokok. Ada tugas yang menungguku. Uh ya ampun, kejadian tadi mengganggu sekali. Aku belum pernah melihatnya semarah itu kepadaku. Biasanya hanya marah biasa, itu pun tidak akan lama. Dia akan menelfonku dan meminta maaf atas perbuatannya. Ku pastikan kali ini pun dia akan menyesal telah membentakku.
Aku berjalan keluar, dan mengunci pintu. Dalam perjalananku ke mini market, aku terus saja digandrungi oleh rasa bersalahku terhadap Asta. Kenapa? Tidak biasanya. Mungkin karena tadi Astama terlalu marah kepadaku. Tapi tak apa, dia memang harus ku kecewakan. Aku melamun. Mengingatnya saat marah dengan muka yang memerah. Ngeri.
Bagaimana mungkin Asta bisa semarah itu kepadaku? Apa dia mulai lelah dengan sikapku? Apa dia tidak mencintaiku lagi? Atau mungkin dia memang sudah memiliki wanita lain yang telah menggantikanku? Ah awas saja kau, Asta! Jangan berani bermain api denganku. Kau akan menyesal. Sangat menyesal.
Lalu tiba-tiba, entah darimana datangnya, sebuah mobil menghampiri dengan sangat kencang hingga aku tak dapat menghindar. BAAAKKK!!! Dentuman terdengar begitu keras. Aku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
“Aku mohon kamu bangun! Ayo bangun sayang! Aku minta maaf telah memarahimu tadi. Aku begitu karena aku emosi. Aku minta maaf.”
Aku kenal suara ini. Asta! Lalu aku terbangun, melihatnya sedang menangis sambil mendekapku. Dia menagis sejadi-jadinya. Aku belum pernah melihat Asta menangis seperti itu. Baru kali ini dia menangis sesegukan, bahkan didepan banyak orang.
“Harusnya tadi aku tidak memarahimu. Harusnya tadi aku mengantarmu saja untuk memastikan kau tidak apa-apa. Aku menyesal sayang, sungguh menyesal.”
                Di sekelilingnya terdapat orang-orang yang sedang berkumpul mengelilingi aku dan Asta. Tapi mengapa mereka menangis? Oh, mungkin mereka terharu melihat Asta. Aku tidak ingat seberapa lama aku tak sadarkan diri. Aku melihat Asta dengan seksama, air matanya terus mengalir. Dia memohon dan meminta maaf kepadaku atas apa yang telah ia lakukan.
Aku merasa menang, dia menyesali perbuatannya. Dia terlihat sangat menyesal. Aku senang, dengan begitu aku bisa memberinya pelajaran berharga.
Tak lama, ambulance pun datang. Mereka menghampiri kami berdua dan mulai membawa tubuhku masuk ke dalam ambulance. Aku melihat tubuhku hancur tak berbentuk, banyak sekali darah mengalir dari tubuhku, dan aku melihat genangan berwarna merah kehitaman dijalanan. Asta pun melemas saat para bruder atau perawat laki-laki mulai menutup pintu ambulance. Aku melihatnya menangis sesegukan. Tangisan yang amat sangat menyedihkan.
Aku menghampirinya, dan memeluk tubuhnya. Ku harap aku bisa menenangkannya. Sudahlah, tak apa Asta. Aku masih disini, akan menemanimu seperti kamu menemani hari-hariku. Aku sudah memaafkanmu, karena kau terlihat sangat menyesali perbuatanmu, maka dari itu aku maafkan kau. Ayo kita pergi dari sini, Asta! Orang-orang itu masih saja melihat kita. Hentikan tangisanmu, lalu mulailah hidup baru.

Cinta Dalam Diam



Aku ingin bercerita sesuatu kepadamu, tapi aku tak tau harus mulai dari mana. Aku ingin bercerita tentang seseorang yang pernah dekat denganku, namun ini salah, aku dekat dengan seorang lelaki yang sudah mempunyai pacar. Ya, memang seperti itu. Wanita macam apa aku ini.
Ini berawal dari perkenalanku dengannya, mungkin satu tahun lalu melalui media social, facebook. Dari situ dia mengajakku berkenalan. Ternyata dia adalah teman sekampusku, bahkan aku saja tak tahu dia itu yang mana.
Oh ya, aku belum memperkenalkannya kepadamu ya? Namanya Abyan Nandana Pratama. Sebut saja begitu. Abyan memiliki arti seorang anak laki-lai yang dapat menjelaskan secara jelas, Nanda itu artinya anak laki-laki dalam bahasa Jawa, dan Pratama itu adalah anak pertama. Nama yang bagus bukan? Menurutmu bagaimana?
Kita berkenalan hanya memalui social media, kita pun tak terlalu sering bertukar pikiran, hanya saja sesekali dia menanyaiku tentang urusan kampus. Tak lebih. Kita sempat bertukar kontak, dan mulai chat via BBM tapi tak sering, hanya sekedar chat biasa. Tapi terkadang dia menggodaku, dia itu memang gombal ya! Namun pada akhir semester, dia  mulai menanyaiku lagi, “kelas apa kamu?”, dan aku jawab sekenanya, “kelas B”. Dikampusku, jika ada kenaikan semester semua mahasiswa akan dipindahkan kelasnya tergantung nilai IP terakhir yang kita terima. Dan ternyata akhirnya kita dipertemukan, kita sekelas! Asal kau tau saja, aku bahkan tidak mengetahuinya, mukanya pun aku tak hafal karena sebelumnya kita tak pernah bertemu. Aku hanya melihatnya melalui foto profil, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas, ku rasa mataku mula kabur.
Setelah saat itu kita mulai sering chat lagi, dan saat dikelas aku bertemu dengannya walau tidak saling sapa, “oh… yang itu.” Benakku membatin. Sekarang aku tau dia yang mana. Lalu setelah itu kami mulai dekat, entah dari mana awalnya tapi kita mulai saling mengenal satu sama lain dan lebih sering bertukar pikiran.
Lalu, suatu hari, dia mengajakku untuk menontonnya futsal. Wah, aku tidak pernah menyangka jika dia seberani itu mengajakku. Tapi bukannya dia punya pacar ya? Aku sempat tidak enak namun aku pun tidak bisa menolak, aku jadi penasaran dibuatnya. Pria yang selalu ku lihat dikelas biasa saja bahkan menyimpan kesan pendiam tapi seberani ini. Maksudnya apa?
Aku mau saja saat diajaknya untuk menonton fusal sore itu. Aku dijemputnya, lalu pergi ke lapang futsal. Aku canggung bahkan malu. Kita harus mengobrol apa? Bukannya kita hanya dekat via chat saja, tidak seperti ini. Ada rasa takut disana, bagaimana jika pacarnya melihatku sedang dibonceng olenya? Apa tidak akan apa-apa? Ya ampun Abyan, kau ini.
Sesampainya di lapang futsal, sontak saja teman-temannya yang kini temanku juga melihatku dan Aby (aku memanggilnya Aby) masuk. Aku malu, lalu mereka mengolok-ngolokku. Ah, aku sudah tau pasti akan seperti ini.
Sepulangnya, aku diantar dia, bahkan sampai ke rumahku. Aku ajak dulu untuk mampir dan dia mau. Saat itu kami mengobrol banyak hal hingga larut malam. Dia selaluu saja tertawa, aku tak tau mengapa tapi sikapnya itu menggemaskan. Ku kira dia minta dicubit.
Semenjak kejadian itu kita semakin dekat. Ku rasa jika kau tau kedekatanku bersamanya kau akan membenciku. Hey! Jangan mencibirku seperti itu! Aku tau ini salah tapi aku ini perempuan biasa. Perempuan mana yang dapat menolak diperhatikan oleh lelaki baik-baik. Kau tidak tau saja perhatiannya kepadaku seperti apa. Biar ku jelaskan disini, bahwa ini tak sepenuhnya salahku.
Abyan, dia itu lelaki perhatian, kurasa. Bagaimana tidak, dia protektif sekali kepadaku. Bukan dengan cara melarang tapi memberi contoh. Seperti saat tengah malam saat aku belum tidur, dia selalu menyuruhku tidur, agar aku tidak sakit dikemudian hari. Lalu setelah menyuruhku tidur, dia pun tidur, meski ku tau dia begitu karena memang ngantuk. Tapi saat dia tidur, aku tak punya kegiatan lain bukan? Akhirnya aku tidur juga. Tidak seperti lelaki kebanyakn, menyuruh pacarnya tidur tapi dia malah kelayapan.
Lalu saat makan, ya ampun Abyan ini rewel sekali, tapi lucu. Dia tau kalau aku ini jarang sekali makan. Ya terlihat pada tubuhku yang kecil. Dia selalu menelfonku untuk mengingatkan makan. Dengan nada bicaranya yang manja, dia menyuruhku makan. Aku bisa apa? Aku memang wanita lemah. Tapi jika kau tau gayanya seperti apa saat menelfonku, kurasa kau pun begitu. Dia itu menggemaskan!
Lalu saat dia bosan, dia selalu menelfonku. Apa? Aku ini pelariannya? Mungkin saja, tapi aku menikmatinya dengan senang karena dia memang menyenangkan. Dia selalu menelfonku setiap hari meski tak ada bahan obrolan yang penting. Tapi memang begitu, kita menghabiskan banyak waktu untuk berkomunikasi. Menertawakan lelucon yang bahkan tidak lucu.
Aku seharusnya sadar, bahwa dia begitu karena mungkin memang jenuh saja dengan pacarnya, aku mengerti dan aku bahagia.
Namun, saat ku tanyakan padamu apakah aku ini pelarianmu atau bukan, kau selalu menjawab dengan lugas, “Tentu saja bukan! Aku ini menyayangimu!” dan aku selalu tersanjung dengan jawabmu itu. Bahkan saat ku tanyakan hal yang sama lain waktu kepadamu, kau menjawab dengan manja “Tuhkan, gitu mulu deh L”. Gemas. Rasanya aku ingin menciumnya, lalu tertawa.
Kau hanya tidak tau bagaimana rasanya saat dia mencubitku dengan gemas saat bertemu, bagaimana perhatiannya saat aku pulang kampus, dan bagaimana rasanya dia menyender dipundakku dengan manja. Menggemaskan sekali! Jika aku tak bisa menahan emosiku saat bertemu dengannya, rasanya aku ingin bilang; “mau peluk, boleh?” lalu aku akan memeluknya dengan erat. Namun aku dapat menahan gejolak itu. Aku sadar, aku ini bukan siapa-siapanya. Toh dengan menaruh rasa padanya saja aku sudah salah.
Banyak sekali hal yang ingin ku katakan kepadanya, namun aku tak seberani itu. Bahkan untuk memulai chat duluan saja aku tak berani, tentu saja. Jika saja dia tau bahwa kejenuhannya itu membuatku bahagia. Perilakunya kepadaku pun tak bisa dibenarkan, karena dia mempunya pacar yang pasti akan sakit hati jika mengetahui tentang ini. Tapi jika memang  dosa seindah ini, aku rela berdosa untuknya.
Aku sempat menghindarinya karena aku perpikir inilah saatnya untuk menjauh darinya. Aku harus menyudahi ini semua tapi kurasa tak semudah itu. Kau bisa rasakan, bagaimana rasanya mengabaikan pesan dari orang yang kau suka? Aku berani taruhan, tidak sampai 10 menit, kau pasti akan membalasnya juga. Dan aku pun begitu.
Aku tidak tahu bagaimana menyudahi ini, tapi akhir-akhir ini kita, aku dan Abyan memang sudah jarang sekali berhubungan.  Ada sedih, ada juga senang. Sedihnya, ya kau pun tau, aku tak akan merasakan lagi gemasnya saat dia manja kepadaku, dan tak aka nada lagi lelaki perhatian macam dia. Dan senangnya, aku lega karena ta ada yang harus aku khawatirkan lagi. Mungkin dia sudah tak jenuh lagi. Aku bersyukur.
Dan untukmu Abyan, terimakasih telah menjadi bagian dari kisahku. Telah memberi warna, dan memberi makna disenyumku.
Oh ya ampun, aku mulai berlebihan. Tapi bukannya kau suka puisi bukan? Hehehe. Senang rasanya dapat mengenalmu lebih dari sekedar teman, ku harap kau bisa mengingatku pun demikian. Sampai jumpa lagi ya!

Aku, yang mencintaimu, diam-diam.