Astama, kau ini kenapa? Akhir-akhir
ini aku sering kali melihatmu murung dan berdiam diri. Apakah ada yang salah?
Astama, ceritalah kepadaku jika kau memiliki sesuatu yang mengganjal dihatimu.
Jangan diam saja seperti itu. Aku selalu ada disampingmu setiap saat dan akan
setia menjagamu, seperti kau setia menjagaku dulu.
Kau tau Astama, kini aku mengerti.
Kini aku rasakan bagaimana pedihnya jadi kau. Kau ini menyedihkan sekali ya!
Nikmatilah hidupmu selagi bisa. Jangan murung diri saja seperti itu. Kau banyak
melewati kesenangan yang ada jika hanya berdiam diri seperti itu. Kau ini
bagaimana sih? Pergilah keluar, hirup udara segar. Pergilah berpesta dengan
teman-temanmu hingga larut dan lewati malam yang panjang dengan
bersenang-senang.
Sudah ku ikuti kau setahun ini, dan
kau sangat banyak berubah. Kau bukan lagi Astama yang aku kenal. Kau sungguh
berbeda. Apa yang membuatmu seperti ini Astama? Ceritakanlah kepadaku,
ceritalah!
Ku lihat kau selalu pergi ke
tempatku seperti biasanya, kau duduk termenung disana, melihat sekelilingmu
lalu menangis. Sering sekali aku melihatmu menangis, padahal dulu kau tak
pernah seperti itu. Kau ini kan pria kuat, kenapa sekarang kau sungguh terlihat
lemah? Aku bahkan tak mengerti apa yang bisa membuatmu sesedih ini. Saat kau
bersedih, aku akan disana dan memelukmu dengan erat, dan berharap itu dapat
menenangkanmu. Tangisanmu semakin keras, itu membuatku sedih dan ingin menangis
bersamamu. Tapi, bahkan sekarang aku tak mempunyai air mata. Sungguh sia-sia.
Semua temanmu mulai iba kepadamu,
dan berkata “Ayo Asta, jangan murung terus dong. Kita ada disini buat kamu kok.
Ikhlasin ya!” dan kau hanya membalasnya dengan senyuman, senyuman yang bahkan
tak memiliki arti sama sekali. Aku tahu
itu.
Pernah suatu saat aku melihatmu
duduk termenung disebuah nisan, kau mendekatkan kepalamu pada nisan itu dan
berbisik, “Aku rindu, bisakah kau datang malam ini? Aku hanya ingin melepas
rindu denganmu.” Getir.
Aku sebal sekali jika melihatmu
begitu. Kau ini apa-apaan Astama? Aku kan selalu ada disampingmu kemanapun kau
pergi. Dan akan selalu begitu.
Lalu kau pulang kerumahmu,
termenung lagi dikamarmu yang pengap. Kau selalu menatapi fotoku, foto kita
berdua. Ya ampun, bahkan aku tak tau kau menyimpan foto-foto itu dan
memajangnya dikamarmu. Aku senang. Sebegitu pedulinya kah kau terhadapku? Aku
menyesal telah menyia-menyiakanmu, dulu. Dan kini aku berjanji, tak akan
perpaling darimu. Tak akan.
Beberapa bulan berlalu, tapi kau
tetap saja seperti itu. Dan aku pun tetap disana, menemani kesedihanmu hingga
fajar. Dan saat kau terbangun dari tidurmu yang kau rasa panjang, kau bergegas
mandi dan melihat dirimu dicermin. Oh ya ampun, siapa lelaki itu? Aku bahkan
tak mengenalnya. Kau berubah sekali. Lihat dirimu, begitu berantakan. Dengan
rambut yang mulai gondrong, pipi tirus dan mata yang selalu sembab. Itu
mengerikan sekali. Kau kehilangan banyak berat badanmu. Ada pa denganmu? Kau
tak seharusnya seperti itu.
Setelah itu, kau mulai harimu
seperti biasa, sekedar sarapan, meski tak pernah kau habiskan. Ibumu selalu
mengingatkanmu “Makan nak! Mubazir.” Namun kau tak pernah benar-benar
mendengarkannya. Berbeda dengan hari-hari biasanya, kini Ibumu menghampirimu
dan berkata, “Nak, kita perlu bicara.” Dan kau mengangguk pelan.
“Kenapa nak? Ceritakan pada Ibumu
ini, ada apa?”
“Tidak Ibu.”
“Masalah yang sama lagi?”
Kau tak menjawab.
“Ibu tau kau pasti merindukannya,
Ibu mengerti nak. Tapi kau tak bisa terus-terusan seperti ini. Kau harus mulai
hidup yang baru, sayangku. Lihat dirimu, kau sungguh berantakan. Jika dia bisa
melihatmu sekarang, dia pasti akan jengkel sekali melihatmu seperti ini. Dia
akan memarahimu dan menyuruhmu ‘sana cepat potong rambutmu, kamu ini berantakan
sekali sih’. Dan kamu akan menurutinya bukan?”
Matamu mulai berair lagi.
“Ibu tau, ini tidaklah mudah
anakku. Kalian bersama dalam waktu yang lama dan tak mungkin kau dapat
melupakannya begitu saja. Kau tau Astama, ibu pun begitu. Dia anak baik dan
periang, namun bisakah kau hentikan tangisanmu itu? Tangisanmu akan membuatnya
berat menghadapi dunianya. Mungkin saja dia akan mengomel ‘kamu ini kenapa sih?
Jangan tangisi aku terus dong! Kamu mau liat aku tersiksa hanya karena
tangisanmu itu? Berhentilah, dan bantu aku.’ Dan kau harus menuruti kemauannya,
ya kan?”
Aku meng-iya-kan, benar. Aku setuju
sekali atas perkataan ibumu itu. Aku tersiksa Astama, aku tak bisa melihatmu
menangis terus seperti itu. Semuanya sangat membebaniku. Bisakah kau berhenti
menangisiku? Aku mohon, Astama.
Kau menatap ibumu, lalu kau berkata
“benarkah seperti itu, Bu?” dengan mata yang masih berair.
“Tentu saja. Dia pun akan sedih.
Apa kau tak mau melihatnya bahagia di Surga tanpa terbebani olehmu,Astama?”
“Tentu tidak, Bu. Aku ingin sekali
membuatnya bahagia meski aku tak tau harus bagaimana caranya. Aku biasanya
membelikannya coklat, dan mengajaknya jalan-jalan dan dia akan tersenyum, manis
sekali Bu. Dan sekarang aku sudah tak bisa membuatnya tersenyum lagi, Bu.” Kau
mulai menangis lagi.
“Bisa sayangku, tentu bisa.” Ibumu
tersenyum dan menyeka air matamu.
Kau menatapnya, nanar.
Menggambarkan sekali bahwa kau ingin tau bagaimana caranya.
“Hentikan tangisanmu itu, dan
berdoalah setiap hari untuknya agar dia bahagia disana. Lalu ikhlaskan
semuanya, nak.”
Kau menghentikan tangisanmu dan
menerawang jauh. Kau berpikir, apakah kau bisa? Dan ku jawab, tentu saja
sayangku! Apapun bisa kau lakukan. Kau ini kan lelaki hebat.
3 bulan berlalu, kini kau mulai
membaik. Kau mulai memotong rambut
panjangmu, seperti potongan rambut kesukaanku. Mata tak lagi sembab seperti
biasanya, dan kurasa badanmu mulai membaik. Pipimu tak setirus dulu. Dan
senyummu tak lagi semu. Aku senang melihatmu kian membaik.
Teman-temanmu mulai tersenyum
melihat tingkahmu yang kini jauh lebih baik. Senang. Dan mereka berkata “Apa
kabar sobat? Sudah lebih baik?” dan kau menjawab dengan mantap, “Ya.” Disertai
senyuman khasmu. Lalu kau membuka dompetmu, melihat foto kita berdua yang
sedang tersenyum seraya berkata “Seperti itu kan? Aku sedang berusaha,
sayangku. Aku tak akan membuatmu bersedih lagi. Aku janji. Kau baik-baik disana
ya, aku pun akan baik disini.” Lalu kau tersenyum.
Aku senang melihatmu jauh lebih
baik dari sebelumnya. Kini aku dapat meninggalkanmu jika memang kau sudah bisa
merawat dirimu dengan baik. Jangan sedih lagi ya, Asta. Aku mencintaimu.