Senin, 26 Januari 2015

CINTA DI PUSARAN DENDAM

Bab I
“Sayang, apa-apaan ini? Sayang ayolah, kau sedang bercanda kan? Ayo, kita bisa bicarakan ini baik-baik sayang.”
“DIAM!”
“Sayang, ku mohon jangan. Ayolah, aku minta maaf, aku tahu aku salah tapi.. tapi..”
“Tapi apa? Kau tidak bisa terus menyangkal, ini semua salahmu!”
Dia tak menjawab.
Aku kencangkan tali pengikat tangan dan kakinya, karena untuk pemuda seukuran dia, dia begitu tangkas. Otot-otot yang sangat kuat dalam badan yang tegap,  sungguh memikat.
Aku ciumi bibirnya yang merah tipis untuk terakhir kalinya, ku kecupi pipinya yang kasar. Wangi khas dari krim cukurnya menyerbak seketika itu juga. Oh ya Tuhan aku begitu mencintainya. Ku telusuri inci demi inci tubuhnya, mukanya yang begitu tampan dengan mata kecoklatan dan alis yang tebal, mukanya dihiasi kumis dan jambang yang habis ia cukur disekelilingnya, dadanya yang dipenuhi oleh bulu-bulu halus, dan badan yang begitu tegap.
Mukanya memerah. Aku tahu dia ingin bercinta denganku malam itu. Terlihat dari penisnya yang mulai mengeras saat ku telusuri telinga dan lehernya. Dia mengerang. Dia membuatku sungguh dilema dengan ini semua.
Tapi tidak! Aku tidak  boleh berhenti disini hanya karena aku terbuai olehnya.
Aku tak selemah itu.
Aku menginginkan bercinta dengannya setiap saat, tapi tidak untuk malam ini.
Tidak sekarang, dan tidak pula untuk esok
Aku akan merindukan saat-saat bersamanya, saat dimana tubuhku menyatu dengan tubuhnya, mendengar desahannya, mendengar rintihannya, hembusan nafasnya yang berpacu dengan darah yang berdesir dan wangi dari keringatnya saat kita bercinta.
Aku mencintainya, sangat mencintainya.
Aku ini memang wanita lemah.
Aku berpaling darinya, mengambil pisau daging yang telah ku sediakan sebelumnya. Aku mengasahnya pelan. Suara dentingan demi dentingan pisau terdengar sangat merdu ditelingaku. Aku tak ingin ini menggagalkan rencanaku malam ini. Dia harus mati, karena itu aku mau pisau ini lebih tajam dari biasanya. Hanya saja aku menikmati saat-saat dia ketakutan dan aku ingin semua ini berlangsung sangat pelan agar aku bisa mengingat semuanya dengan detail.
Aku tahu dia ketakutan, terlihat dari raut mukanya yang memerah cemas. Dia memohon, memohon dan memohon terus. Aku suka saat-saat itu. Begitu damai dan memikat. Debar jantungnya berdegup gencang berpacu dengan degup jantungku yang sama-sama berdebar.
“Sayang, apa yang akan kau lakukan dengan itu? Sayang ini tidak benar!”
“Ya, memang, ini semua tidak benar, termasuk  kau, bajingan!”
“Tidak.. sayang ayolah” dia meringis ketakutan, matanya mulai berkaca-kaca. “jangan lakuan ini sayang, aku mencintaimu”
“Kau tahu kan? Aku pun demikian, aku juga mencintaimu, lebih dari ini. Aku hanya tak ingin kau bersama orang lain. Kau hanya milikku, saat ini dan selamanya. Tak akan ada perempuan yang bisa mengambil hatimu selain aku. Tak boleh ada! Hatimu hanya untukku. Hanya aku yang bisa memilikimu, menciumimu, memelukmu dengan erat, tertawa bersamamu, bahkan mengoral penismu. Bukan orang lain, bukan wanita jalang itu! Dasar kau brengsek!”
Aku menjambak rambutnya yang kecoklatan.
Dia mengerang.
“Tidak sayang, tidak! Ya, ya, tentu! Aku milikmu. Tak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu. Tidak orang lain, tidak wanita-wanita jalang diluar sana. Hanya kau. Aku bersumpah. Mari kita perbaiki ini semua. Ini semua salah paham.”
Aku mendekati dia, menempelkan pisau daging itu dipipinya. Dia mulai meneteskan air mata, mata coklatnya melebur dengan air mata. Sungguh malang. Ku sekat air matanya, aku ciumi lagi.
“jangan berisik sayang!”
“Tidak! Tuhan, tidak! Tolong aku, hentikan! Aku mohon!” dia mulai menangis dan merengek seperti hal nya anak kecil yang ketakutan. Menjijikan sekali.
Adrenalinku pun berpacu dengan waktu. Hatiku berdebar saat kecang melebihi saat bercinta dengannya. Kurasakan darahku mulai berdesir, mengalir hingga ke ubun-ubun. Sensasi yang sangat luar biasa yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Ya Tuhan, aku sangat menikmati ini semua.
“Tidak sayang, hentikan semua ini. Kau gila! Berhenti!” air matanya mulai membasahi pipi hingga lehernya. Dia begitu ketakutan. Ku rasa dia tak ingin mati malam ini.
Lalu aku menindih badannya yang kekar.
“Sshhh! Ya sayang, kau benar. Aku ini memang gila, kau tahu mengapa? Aku gila terhadapmu karena aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu, dan kau tak pernah mengerti itu. Kau selalu saja mempermainkanku dan tak pernah bisa hanya meniduri satu perempuan saja. Ku rasa itu wajar, karena kau memang tampan. Tapi aku tak bisa membiarkan semua ini terjadi. Aku bisa saja bercinta dengan pria lain, berpesta sampai larut, mabuk-mabukan dan meninggalkanmu, tapi tak semudah itu. ” jawabku menunjukan perasaan yang hancur. “Aku mencintaimu, Max. sangat-sangat mecintaimu.”
Lalu sedetik kemudian…
BRAKKK!!!
Darah dari lehernya menyembur deras, membasahi tubuh dan pakaianku.  Darah yang begitu banyak. Aku dibuat takut olehnya. Kepalanya menggelinding dengan mata melotot menghadapku. Air matanya menetes dari sudut matanya. Terlihat kesakitan yang amat sangat.
Darah yang memuncrat mengotori dinding apartementnya yang classic. Lantai kayu akasia yang mengkilap seketika berubah jadi merah darah. Darahku berdesir, panas.
Belum puas, aku merobek dadanya yang berbulu halus itu. Ku robek hingga ke tulangnya, ku ambil hatinya, masih berdegub. Ku rasakan detak jantungnya yang masih berdebar ditanganku. Sungguh perasaan yang sangat luar biasa. Lalu ku masukan ke dalam toples yang berada didalam tasku. Ku masukkan perlahan dengan sangat hati-hati, aku tak mau menyakiti hati orang yang ku sayang.
Setelah itu, ku mulai memotong bagian yang lainnya. Penis. Bagian yang sangat memukau. Ku potong perlahan, mulai dari buah zakarnya. Jangan sampai kulitnya terkelupas, aku harus memotongnya dengan sangat hati-hati.
Selepas itu, ku simpan benda tersebut ke dalam toples yang lainnya.
Sungguh mengesankan.
Aku menyukai ini.
Seharusnya ku lakukan hal ini sejak dulu, sejak pertama kali Max berani berselingkuh dan bercinta dengan wanita-wanita jalang itu. Tak ku sangka rasanya akan seperti ini.
Sungguh luar biasa
Aku benar-benar menikmatinya.
Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang bersimbuh darah segar. Kunyalakan shower dan mulai membilas rambutku hingga ujung kaki. Tak kulewatkan sedikitpun bercak yang ada ditubuhku. Ku bilas semuanya, tak lupa juga sarung tangan plastic yang ku gunakan. Sengaja ku memakainya karena aku tak ingin serpihan kuku ku dan sidik jariku ada yang tertinggal disini. Jangan sampai! Semua itu dapat mengacaukan rencana jahatku.
Selesai mandi, aku mengecek semuanya dengan teliti. Mulai dari kamar mandi yang ku pakai mandi hingga mayat Max yang sudah terbujur kaku kehabisan darah. Ku pastikan semuanya aman dan tak ada jejak yang tertinggal.
Lalu setelah itu, dengan sengaja ku tinggalkan beberapa helai rambut disana.
Beberapa hari mulai berlalu. Hiruk pikuk orang-orang mulai riuh dengan pemberitaan tentang seorang pemuda yang mati mengenaskan di apartementnya. Kasihan sekali. Tak ada yang tahu kenapa pemuda tersebut bisa mati semengenaskan itu. Pihak kepolisian pun tak menyadari siapa pembunuh sebenarnya. Padahal mereka begitu gampang menangkap pelakunya. Sangat gampang.
Namun aku mempunyai alibi yang sangat kuat untuk ini.
Mereka tak akan semudah itu untuk menangkapku.
Aku ini cerdas.
Lihat saja nanti, mereka akan tahu berhadapan dengan siapa.
Bab II
“Selamat pagi Cornelia, apa kau melihat ponselku?” Ann menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya membuat anak tangga itu berdecit, kayu tua.
“Selamat pagi Ann, kurasa tidak.”
“Aku tidak  melihatnya beberapa hari ini. Mungkin terselip disesuatu tempat atau tertinggal di tasku yang lainnya. Akan ku cari lain kali.”
“Baiklah. Mengapa kau tidak menelepon ponselmu dari telepon rumah?” jawab Cornelia sembari menyediakan piring diatas meja makan.
“Terakhir kali yang ku ingat ponselku mati, aku lupa tidak mengisi baterainya.”
“Ya ampun kau ini, teledor sekali.”
“Tak apalah, mungkin hanya lupa.” Ann menjawab ringan lalu mengoleskan nuttela di rotinya.
“Terserah saja. Kopi?”
“Tidak, susu saja.”
Anna Crumplebottom, atau lebih sering disapa Ann. perempuan yang begitu cantik walau postur tubuhnya tak terlalu tinggi. Kulitnya yang putih membuat pipinya terlihat sedikir merah. Perempuan 24 tahun ini sangat mencintai dunia malam, pantas saja, dia adalah anak semata wayang dari keluarga Crumplebottom yang akan mewarisi semua perusahaan keluarganya kelak. Dia anak emas, begitu di manja, begitu dielu-elukan. Meskipun begitu, ia tak pernah mempunyai teman yang sungguh-sungguh  berteman dengan dirinya. Hanya saja karena uangnya banyak, tak sedikit orang yang hanya ingin menikmati kekayaannya. Atau bahan hanya karena ingin terlihat lebih berkelas jika bergaul dengannya.
Di umurnya sekarang, Ann masih saja tak memiliki kekasih yang sungguh-sungguh. Bukan untuk ia nikahi, hanya saja untuk diajak bersenang-senang, berpesta, pulang larut hingga mabuk dan bercinta semalaman lalu pergi begitu saja.
Hah! Dasar kau wanita jalang! Kau memang wanita jalang kelas satu.
Itu sebabnya Max bercinta denganmu kan? Brengsek!
Dan kini kau takan bisa bercinta lagi dengannya, Ann. Tak akan pernah.
Sedangkan Cornelia, wanita tua dengan rambut keperakan itu adalah pelayan di rumah Ann. Dia wanita tua yang begitu perhatian. Dipercayai oleh keluarga Crumplebottom untuk melayani Ann semenjak ia mempunyai rumahnya sendiri. Dia hanya melayani Ann pada jam 6 pagi hingga jam 4 sore pada hari kerja untuk menyiapkan segala sesuatu yang Ann butuhkan. Mulai dari sarapan, pekerjaan rumah yang tak terlalu berat dilakukan dan kadang menyiapkan makan malam jiga Ann ingin makan dirumah. Semuanya ia kerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya, dan Ann sangat mengerti akan hal itu. Ann selalu memberinya gaji lebih dari yang seharusnya ia terima. Itu mengapa ia sangat betah bekerja dirumah Ann walaupun seharusnya ia sekarang sudah pensiun dari pekerjaannya itu dan menikmati hari tuanya. Tapi Cornelia enggan dan memutuskan untuk lebih memilih bekerja menjadi pelayan hingga  suatu hari jika memang ia tak bisa lagi.
“Conelia, tolong siapkan pakaianku. Aku akan keluar untuk mengunjungi beberapa perusahaan ayahku. Mungkin saja aku pulang larut, jika kau sudah selesai dengan pekerjaanmu kau boleh pulang.”
“Pada hari sabtu?” Cornelia mengelapi meja makan dan membereskan piring-piring ke tempat pencucian piring.
“Ya, ada urusan yang harus ku selesaikan minggu ini juga. Aku khawatir aku tidak sempat.”
“Kalau begitu aku akan pulang nanti malam.”
“Tidak, bersantailah dengan cucumu. Ajak dia jalan-jalan ke taman. Aku tak apa-apa.” Ann menyisakan sedikit susu di gelasnya.
“Baiklah kalau begitu.”
“Bagus!” sahut Ann senang, ia lalu pergi ke kamar mandi di kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Cornelia yang sedang sibuk membereskan sisa sarapan dimeja makan.
Ann pun mulai membuka dress tidurnya dan menyalakan shower dikamar mandinya, cuaca hari itu memang cerah namun masih sangat dingin. Ia menyalakan pemanas dan mulai membilas seluruh badannya. Rambutnya yang merah kecoklatan tergerai panjang hingga punggung.
Ia menikmati setiap guyuran air hangat yang jatuh dipermukaan wajahnya. Merasakan sensasi yang sangat nyaman dan relax. Semua otot-ototnya mengendur, lalu ia mendengus.
Beberapa menit kemudia ia selesai dengan mandinya.
Ia keluar dan memakai handuk kimononya yang berkain halus. Ia mengeringkan dirinya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu ia pergi ke meja rias dan menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia ingin rambut yang sempurna untuk hari ini. Lebih mengembang akan terlihat lebih cantik, kiranya.
“Dimana aku menaruhnya? Biasanya ia ada disini.”
Dia mencari sisir yang biasanya iya gunakan untuk menge-blow rambutnya, diatas meja rias hingga ke lacinya. Namun tak dapat ia termukan.
“Sudahlah, mungkin aku lupa.”
Cornelia masuk ke dalam kamar Ann untuk menyediakan pakaian untuknya. Ia masuk dan mulai mencari beberapa outfit formal yang cocok di hari sabtu yang cerah. Dia memang bukan pengamat fashion atau bahkan designer yang ternama tapi selera Cornelia tak terlalu buruk untuk ukuran perempuan tua sepertinya. Dan Ann tahu akan hal itu, itu mengapa dia selalu memercayai Cornelia untuk memilihkan bajunya.
Ia membuka lemari, mencari mantel yang cocok.
Tak ada.
Tak ada.
Dimana dia menyimpannya?
Mungkin ia lupa, sudahlah.
Cornelia pun akhirnya menemukan mantel berwarna merah padam didalam lemari dengan desain yang megah dari kayu adam tersebut. Mantel beludru halus yang dihiasi 8 buah kancing-kancing besar berwarna hitam didepannya. Dengan kerah yang tak terlalu lebar dengan panjang diatas lutut. Sangat cocok dengan cuaca saat itu.
Lalu ia mengambil high heels yang tak terlalu tinggi dengan hak yang tak terlalu tipis berwarna hitam mengkilap yang terpampang dilemari sepatu yang dipenuhi lampu-lampu berwarna keemasan yang menambah kesan mewah.
“Cornelia, apa kau melihat sisirku?” memandang Cornelia dari kaca riasnya.
“Tidak.”
“Oh mungin aku lupa, sudahlah. Aku bisa beli nanti sepulangnya dari kantor ayahku.” Ia asyik sendiri mengeringkan rambutnya yang panjang dengan hair dryernya.
“Mungkin kau pun lupa menaruh mantel kulitmu yang berwarna kecoklatan, aku mencarinya dalam lemari tapi tak ku temukan. Awalnya aku akan menyiapkan itu untuk outfit mu hari ini tapi tak ada disana.”
“Benarkah?” Ann keheranan, kenapa banyak sekali barang yang hilang. Tapi itu bukan barang yang penting atau barang-barang berharga, mungkin, tapi tidak untuk handphonenya. Itu sesuatu yang cukup berharga tapi bagaimana dengan yang lainnya? Sisir dan bahkan mantel kulitnya.
Jika memang ada pencuri, kenapa pencuri itu tidak mencuri sesuatu yang lebih berharga seperti isi dompet Ann, yang selalu penuh dengan uang dan beberapa kartu kredit dengan isi tabungan yang nominalnya tidak sedikit. Televisi LCD berlayar 52’ yang nyaman untuk ditonton atau bahkan mobil mustang antiknya.
“Apa kau pikir disini ada pencuri?” Tanya Ann heran pada Cornelia.
“Pencuri? Itu tidak mungkin. Bahkan kau tak kehilangan sesuatu yang berharga, kecuali handphone mu yang bahkan mungkin kau hanya lupa menaruhnya.” Jelas Cornelia.
“Ya, mungkin saja.”
“John, penjaga rumah ini memang sudah tua tapi dia selalu memastikan semuanya terkunci rapat saat kau tak ada dirumah. Begitu pun aku, aku selalu mengecek dua kali jendela dan pintu jika kau keluar dan aku akan pergi. Semuanya terkendali.”
“Lalu bagaimana dengan Benjamin?”
“Tukang kebun itu?”
“Ya. Kurasa dia sedikit aneh.” Ann menjawab dengan nada sakarstik.
“Apa kau menuduhnya?” Tanya Cornelia yang tak begitu antusias jika Ann memang menuduhnya mencuri.
“Tidak, maksudku, apakah kau berpikir juga jika dia aneh? Hanya saja dia terlalu pendiam untuk lelaki seumurannya. Aku tak mengerti. Menurutmu apakah dia normal? Apakah dia tak pernah berimajinasi dan memimpikan bercinta semalaman denganku? Itu semua aneh.” Jawabnya dengan nada mengejek. Lalu ia tertawa dengan leluconnya sendiri.
“Kau ini. Mungkin saja, aku tidak tahu. Tapi Benjamin itu pria yang baik. Aku sering berbincang dengannya. Dia pemuda yang hebat.”
“Ya mungkin saja dia hebat, aku bisa melihat dari otot-ototnya yang kekar dan urat-uratnya yang terlihat kehijauan saat dia mengurus tamanku. Ku kira dia bisa memuaskanku dalam bercinta.”
“Apakah kau akan bercinta dengannya? Kurasa dia tak terlalu jelek. Dia terlalu tampan untuk seukuran tukang kebun. Lihat saja matanya yang berwana hazel itu, sungguh menggoda saat ia mengedipkan matanya dengan bulu mata yang tebal dan lentik.” Kali ini Cornelia menjawab dengan sangat antusias.
“Kau ini nakal ya, Cornelia.” Dia tertawa kecil. “Ya memang, akan ku pertimbangkan lain kali.”
Mereka berdua pun hanyut dalam imajinasi mereka masing-masing hingga tak memikirkan lagi semua benda yang telah hilang.
Tak memikirkan pula siapa pencuri yang sebenarnya.
Semuanya berjalan dengan lancar.
Ann memakai lipstick berwarna senada dengan mantel yang akan dipakainya, memoleskan sedikit blush-on berwarna merah jambu ke pipinya dan semuanya terlihat sempurna. Tak perlu berdandan berlebihan untuk menjadi cantik, Ann memang cantik walau tak berdandan. Sebuah anugerah.
“Baiklah kalau begitu, aku harus segera pergi. Semua urusan ini menungguku. Pulanglah dengan segera, aku akan telfon kau untuk berjaga-jaga siapa tau saja kau tak benar-benar pulang untuk mengajak cucumu jalan-jalan.” Ann memakai mantelnya dan mengeluarkan rambut yang terselip dibalik mantelnya dan membiarkan rambut itu tergerai. Lalu memakai heels yang telah Cornelia sediakan.
“Tak perlu seperti itu. Aku akan pulang setelah semuanya selesai.”
“Baiklah. Bye!” lalu dia meletakan sun glasses-nya dihidugnya yang mancung dengan frame kemerahan dan kaca yang berwarna kecoklatan.
Voila! Semuanya sempurna.
Ann pun pergi meninggalkan Cornelia yang sedang membereskan kamar Ann. Menuruni anak tangga tua dan melewati ruang tengah berlantai marmer dengan hiasan lampu gantung yang bertengger megah.
Ia pergi ke halaman dan masuk ke dalam mustang antiknya. Pemberian Ayahnya saat ia lulus kuliah di Cambridge University beberapa tahun lalu. Ia memanaskan mobilnya lalu pergi menuju kota-kota dimana perusahaan Ayahnya berada. Dia begitu menyayangi ayahnya, sehingga ia pun mau melanjutkan usaha keluarganya.
Sungguh menyenangkan.
Menjadi anak orang kaya yang mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya.
Mengurusi perusahaan furniture yang ternama dan mempunyai beberapa real estate yang mempunya harga fantastik.
Kehidupan yang sungguh elegan.
Hidup yang selalu diimpikan orang-orang.
Bab III
Aku tertawa dalam hati, begitu puas, begitu menang.
Aku sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelum hari pembunuhan itu terjadi.
Aku ini memang wanita cerdas.
Aku menyelinap masuk kerumah Anna Crumplebottom dan mulai mencuri beberapa barang yang mungkin tak akan pernah ia sadari sebelumnya. Beberapa barang yang tak begitu berharga tapi sangat penting untukku.
Rumah megah itu tak selamanya dijaga sehingga aku bisa masuk dengan mudahnya, hanya menyelidiki keadaan rumah, jika sudah ku anggap aman aku bisa langsung menyelinap ke dalamnya.
Cornelia, pelayan tua itu hanya bekerja 6 hari dalam seminggu. Hari senin hingga sabtu, bekerja dari jam 6 pagi hingga jam 3 sore, selebihnya tak ada lagi yang mengawasi rumah megah tersebut.
Sedangkan John, tua bangka sang penjaga rumah itupun tak selamanya berada disana. Dia hanya bekerja pada saat-saat tertentu. Hanya berjaga pada malam hari untuk memastikan semua pagar dan pintu rumah tersebut terkunci. Tapi orang tua itu tidak pernah tau siapa saja yang bisa masuk rumah tersebut dalam penjagaannya. Seharusnya Ann tidak pernah mempekerjakan orang tua seperti itu dirumah mewahnya. Tapi hal tersebut menguntungkan sekali untukku. Sangat menguntungkan.
Serupa dengan John, Benjamin, tukang kebun itu tak pernah ada selamanya disana. Dia hanya bekerja pada Ann pada hari-hari tertentu saja. Hari Senin, Rabu dan Sabtu. Hanya untuk memastikan bahwa tanaman terawat dengan baik. Setelah pekerjaannya selesai, ia langsung pulang tanpa berlama-lama tingga disana. Dia bekerja hanya pada waktu-waktu tertentu. Pada pagi hari, atau bahkan pada sore hari. Untuk menyiram tanaman agar tetap segar dan memupukinya agar tak mudah layu. Lelaki pendiam itu mengerjakan tugasnya dengan baik.
Begitupun denganku.
Aku pun menjalankan tugasku dengan baik. Sangat baik.
Ann belum menyadari semua ini, bahwa dia akan terjebak dalam masalah yang sangat serius.
Aku yang menyeretnya masuk. Untuk menjadikannya dia sebagai alibi dalam kasus pembunuhan Max malam itu.
Beberapa hari sebelum kematian Max, aku menyelinap masuk ke dalam rumah Ann yang sepi tak berpenghuni. Aku telah mengawasi rumah itu dalam beberapa hari, dan menunggu waktu yang sangat tepat, hingga akhirnya waktu itu tiba. Ia pergi ke klub malam dan meninggalkan rumahnya kosong. John, sang penjaga berjaga diteras depan rumah itu dengan secangkir kopi panas dan jam tangan usang yang sedang ia amati. Ia tak menyadari keberadaanku yang sedang mengawasinya.
Malam belum begitu larut, pukul 10 aku mulai  melancarkan aksi ku. Aku menyelinap kesana menuju taman disebelah utara yang menghadap jalan raya. Taman yang tak begitu luas namun dipenuhi dengan pohon-pohon dan semak yang tertata rapi.
Aku melemparkan batu berukuran sedang ke semak-semak itu. John pun tersentak, ia memakai jam tangannya lalu mengamati dengan seksama. Ia menghampiri asal suara tersebut, dan begitu perhatiannya teralihkan pada semak-semak, aku mulai memanjat dinding pembatas rumah tersebut dengan hati-hati agar keberadaanku tak ketahuan. Jantungku berdebar aku harus menyelesaikannya dengan cepat.
Aku masuk melalui pintu belakang. Dikunci. Tapi tak masalah, aku telah menduplikatkan semua kunci rumah tersebut. Aku masuk dengan sangat hati-hati. Menyelinap dan mencari barang-barang yang ku butuhkan. Sisir, kartu nama, mantel kulit yang sering Ann pakai dan beberapa make up yang sudah tak terpakai.
Setelah semua yang kubutuhkan terpenuhi, aku langsung pergi dengan tetap berhati-hati. Melalui pintu belakang dan melihat dari kejauhan bahwa John tak menyadari bahwa ada seseorang dirumah majikannya. Dia telah terlelap dikursi teras dengan koran dipangkuannya. Aku pun memanjat kembali dengan sangat hati-hati jangan sampai aku membangunkan penjaga rumah tersebut. Aku berhasill keluar dan kembali menuju mobilku yang ku parkir dibelakang rumah Ann dekat pepohonan rindang. Tak akan ada yang melihatnya. Aku akan aman.
Aku memacu mobilku dengan sangat hati-hati dan kecepatan yang sewajarnya, jangan sampai ada orang yang memperhatikanku dan jangan sampai laju mobilku menjadi pusat perhatian orang. Ku injak pedal gas pelan-pelan dan melesat menuju perbatasan Doneraile.