Bagaimana
seharusnya aku menyikapi semua ini? Tentang permasalahan yang terjadi kepadaku
saat ini. Tentang seseorang yang sudah berani mengusik kehidupanku, dan
seseorang yang tak pernah mengerti akan aku.
Dimulai
dari hadirnya seorang perempuan antara aku dan Anjas. Perempuan itu mengganggu
kehidupan percintaanku dengan Anjas. Dia begitu mengganggu.
Awal
semester, saat Anjas mulai masuk kuliah disalah satu kampus ia bertemu dengan
perempuan ini. Sebut saja Dhea. Dhea ini seorang temannya Anjas dari beberapa
teman sekelasnya yang Anjas anggap sebagai teman. Namun sikapnya yang tidak
ramah kepada Anjas membuat Anjas semakin keras untuk mendekatinya. Anjas
sungguh penasaran dengan perempuan hingga akhirnya pun mereka mulai dekat.
Anjas
sering cerita tentang perempuan itu. Namun aku tak menganggapnya sebagai
sesuatu yang penting, toh mereka hanya berteman. Itu hal yang wajar. Aku hanya
dapat percaya saja dengan yang selalu dikatakan Anjas padaku. Aku tak pernah
menyangka bahwa perempuan itu adalah awal dari segala kehancuran hubunganku
dengan Anjas.
Suatu
saat, saat aku membuka akun Facebookku, aku melihat ada beberapa permintaan
pertemanan, kulihat-lihat lagi dan akhirnya aku menemukan suatu nama, Dhea
Rizky Utami. Sepertinya, aku pernah lihat akun itu. Tapi dimana? Oh ya, aku
melihatnya di akun Facebooknya Anjas. Mereka pernah saling wall-to-wall dan
berkomen distatus masing-masing. Dan benar, saat aku menerima pertemanannya,
dia memang benar teman sekampusnya Anjas. Dan mungkin perempuan itu juga yang
yang selalu Anjas ceritakan padaku.
Ehm, Dhea ya…
“coba aku send wall ke dindingnya,
siapa tau dia memang benar temannya Anjas.” Pikirku.
Mara Afrida > Dhea Rizky Utami
Tfr ya J
Dhea Rizky Utami > Mara Afrida
Iya sama* neng,
pacarnya Anjas ya? :D
Mara Afrida > Dhea Rizky Utami
Iya, ini siapa ya? Kok
tau? Hehe J
Dhea Rizky Utami > Mara Afrida
Teteh temen
sekampusnya neng :D
Mara Afrida > Dhea Rizky Utami
Oh gitu, salam kenal
ya teh hehe :D
Dhea Rizky Utami > Mara Afrida
Iya sip neng anjasmara
:D
Ya kira-kira seperti itulah
perkenalan singkatku dengan Dhea melalui akun facebook. Aku tak pernah berburuk
sangka tentang dia, dan aku rasa dia perempuan baik.
Hingga
suatu saat terdengar kabar miring tentang Anjas dan Dhea, banyak sekali orang
yang memberitahuku bahwa makin hari Anjas dan Dhea semakin dekat dan mereka
seperti orang yang berpacaran saja. Aku tidak menggubrisnya. Ku anggap saja itu
hanya ocehan tidak penting. Aku pun tidak menanyakannya kepada Anjas. Aku
percaya bahwa Anjas tidak begitu. Hingga akhirnya kakakku bilang, “Mar, tuh
tadi Teteh ngeliat Anjas lagi jajan didaerah kampus U ngebonceng cewe tapi
cewenya meluk Anjas.”
Apa benar? Ah mungkin kakakku salah
liat. Aku tidak percaya.
Beberapa
hari setelah itu, mamahku pun bilang, “Mar, mamah tadi dijalan liat Anjas lagi
naik motor tapi sama cewe.” “Iya gitu? Yaudah” jawabku so’ tak peduli. “iya,
dia sama siapa?” tanyanya seperti ingin tahu lebih lanjut. “ya gatau ya, sama
temen kampusnya kali” aku pun beranjak pergi dari ruang keluarga, aku tak ingin
lagi `itanya tentangnya. Takut aku berpikiran negative walau sebenarnya ada
banyak tanya yang mengganggu dipikiranku tentang apa yang dilihat oleh kakak
dan mamahku. Aku tetap aja percaya pada Anjas.
Selang
beberapa minggu, aku bertemu dengan kakak kelasku saat di SMA dan sekarang ia
pun sekampus dengan Anjas. Ia kenal Anjas walau dikampus ia tidak terlalu dekat
dengan Anjas.
Dia bilang “Mara, gimana sama
Anjasnya?” “Ah gak gimana-gimana a” “Tuh si Anjas lagi deket sama cewe temen
sekampusnya, sekelas. Kemana-mana selalu berduaan udah kayak orang pacaran,
mesra banget.” “iya gitu a? terus gimana?” “yagitudeh, cewenya cantik loh hehe”
“oh hehe” jawabku tak peduli, “eh engga deh becanda, biasa aja kok” jawabnya
hati-hati seperti tak ingin menyakitiku. Aku pun berlalu dan mulai berpikir,
kenapa banyak sekali yang berkata bahwa Anjas sedang dengan dengan perempuan
lain? Padahal hubungan kita sedang baik-baik saja kok, tak ada masalah serius.
Malah hubungan kita hangat-hangat saja. Ah, ya sudahlah. Tapi, tadi kakak
kelasku bilang bahwa Anjas sedang dekat dengan teman sekelasnya. Siapa? Apa
mungkin Dhea? Teman yang selalu diceritakan Anjas kepadaku. Ah, mereka hanya
teman kok. Iya hanya teman jadi santai saja.
Suatu
hari, Anjas berpamitan padakku. Dia akan pergi kepantai Pangandaran bersama
teman-teman kampusnya. Sudah jelas aku pun mengijinkannya untuk pergi, dia
bilang dia disana 3hari untuk melaksanakan program kerja kampusnya. Ya aku
percaya saja.
Dengan berangkatnya Anjas ke
Pangandaran, contact-ku dengan Anjas berkurang, kita jadi jarang smsan dan
telfonan karena Anjas sibuk disana. Aku pun mengerti tentang kesibukannya.
Sampai
akhirnya aku pun lebih sering membuka akun Facebookku untuk sekedar
menghilangkan rasa bosan ketika aku tak berkomunikasi dengan Anjas. Aku
menemukan beberapa status disana, statusnya Dhea. Ternyata dia ikut kesana. Dia
mengupdate statusnya begitu banyak, dan nama Anjas selalu tersebut didalamnya.
Apa mungkin perempuan ini yang sedang dekat dengan Anjas? Apakah perempuan ini
juga yang selalu orang-orang ceritakan kepadaku? Ya, mungkin perempuan ini.
Hatiku mulai tidak enak. Walau sebenarnya aku berusaha untuk positive thinking.
“Tenang mara, gak apa-apa kok. Mereka
gak akan gimana-gimana dan gak akan ngelakuin hal negative disana, mereka kan
cuman temen. Mereka cuman lagi seneng-seneng dipantai, cuman lagi main disana.
Gak apa-apa.” Hatiku bergejolak, walau aku berusaha berpikir positive tapi kali
ini aku tak bisa. Aku tak tahan dengan status-statusnya Dhea tentang Anjas
disana. Mungkin aku cemburu, ya bisa jadi aku cemburu. Aku berpikir, “Anjaskan
pacarku, kenapa kamu yang mengupdate tentang dia? Kenapa harus kamu yang
bersenang-senang disana bersama Anjas?”. Hatiku mulai sakit. Namun dengan keras
aku melawannya. “Engga mara, santai aja, Anjas kan udah punya pacar, Dhea juga
punya pacar. Mereka gak akan melaukan hal bodoh disana. Mereka punya pacar yang
mereka tinggalkan disini.”
Hatiku
mulai tak beraturan, antara rasa cemburu, sakit dan berusaha percaya. Tapi kali
ini aku tak bisa. Apalagi yang harus aku percaya? Percaya bahwa Dhea sedang
dekat dengan Anjas? Ya aku percaya sekarang, Dhea lah perempuan itu. Dhea lah
wanita yang selalu dibicarakan orang-orang sedang dekat dengan Anjas. Iya, Dhea
Rizky Utami.
Menyesal
aku tak mempercayai perkataan mereka. Menyesal aku tak menanyakannya pada
Anjas. Menyesal aku sudah percaya pada pertemanan mereka. Menyesal aku
menganggap perempuan itu perempuan baik. Aku menyesal.
Aku
memutuskan hubunganku dengan Anjas karena aku tahu sifat dan sikap Anjas.
Hubunganku dengan Anjas terbilang lumayan dan aku mengenalnya dengan baik. “Ah,
disana pun dia pasti lagi ngapa-ngapain. Udahlah percuma mertahanin hubungan
sama Anjas. Anjas tuh ibarat kucing, dan Dhea ikannya. Kucing mana sih yang gak
mau dikasih ikan? Apalagi ini ikannya aja udah nyantol ke kucing. Langsung
dilahap abis aja kali. Ini bukan kali pertama Anjas jadi kucing. Dan ini juga
bukan ikan yang pertama. Bisa yang ke 7 atau ke 8 mungkin. Dan sebanyak itu
pula aku percaya dan sebanyak itu juga aku dikhianati dengan ikan-ikan lain.
Haha, Anjas emang kucing garong ya. Gak ada matinya buat nyakitin.” pikirku.
Setelah
aku memutuskannya, aku pun berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi.
Aku ingin melupakan semua kenangannya dan menutup hatiku untuk Anjas. Aku tak
lagi mencintainya. Sakit memang memutuskan hubungan yang sudah berjalan lama
ini, tapi aku lelah dengan semua kelakuan dan kebohongan Anjas selama ini. Aku
membencinya dan membenci perempuan itu.
Hingga
beberapa hari setelah Anjas pulang dari Pangandaran, Anjas menemuiku dan
menjelaskan segala sesuatu yang terjadi. Disinilah hatiku merasakan sakit yang
teramat sangat, saat Anjas bilang “Iya, aa deket sama Dhea, aa ngedeketin Dhea
soalnya penasaran. Gak lebih, aa masih sayang sama Mara. Terus pas di
Pangandaran, jujur aa dicium sama Dhea tapi gak sampe ciuman.” Dia menjelaskan
dengan terperinci mengapa Dhea bisa menciumnya. “yakin cuma gitu? Biasanya kan
suka sampe ngentot?” tuduhku geram atas penjelasannya. “Engga, aa gak ngentot
sama Dhea. Cuman aa emang ngeliat Dhea telanjang…” “tuhkan mana mungkin aa
tahan ngeliat cewe telanjang, ya gak mungkinlah! Udah gih sama Dhea yng katanya
Aa dia tuh cewe cantik, putih, bohay! Emanglah Mara gak kaya Dhea! Gih sana
sama jablay!” spontan jawabku menjadi tak terkendali. “Dengerin dulu sayang, aa
gak ngapai-ngapain kok disana. Iya aa liat dia telanjang tapi gak ngapa-ngapain
kok. Waktu itu dia bilang dia mau mandi katanya sih gerah, terus dia mandi, pas
udah dia mandi, dia nyuruh aa buat ngambilin handuk katanya sih dia lupa bawa
handuk, yaudah aa ambilin deh, eh pas aa mau ngasihin handuknya Dhea lagi
telanjang aja. Jadikan aa ngeliat dia telanjang. Udah gitu aja kok” jawabnyaa
polos tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
“…”
Hening.
Ada hening yang panjang disini. Aku
tak bisa berkata apa-apa lagi.semua yang Anjas ceritakan sungguh membuatku
sakit hingga aku tak ingin berkata apa-apa lagi kepadanya. Semuanya sudah cukup
jelas.
Ingin aku menangis dan berteriak
padanya bahwa aku sakit karenanya. Ingin aku menjambak rambutnya yang kemerahan
dengan penuh amarah, agar ia tahu betapa sakitnya aku saat mendengar
penjelasannya. Ingin aku menunjukan semua kesakitanku selama ini padanya dan
menenunjukan kelemahanku saat aku rapuh seperti ini. Tapi aku tahan, aku tak
ingin lemah dihadapannya. Aku cukup kuat karena selama inipun aku sudah bisa
mengatasi segala masalah yang ada. Ya Tuhan, apa salahku selama ini hingga
Anjas selalu saja mengkhianatiku? Aku sakit. Sakit!
Di dalam
hati aku mengumpat, “Anjing! Sialan, emang dasar cowo bajingan sama lonte,
sama-sama gapunya malu. Dasar anjing! Perek!” tak henti-hentinya aku mengumpat
atas perbuatan mereka, aku kecewa dengan semuanya. Aku sumpahi mereka! Mereka
akan menyesal telah membuat masalah denganku! Awas saja, mereka tidak akan
bahagia! “Lihat saja nanti, kalian orang-orang terhina tidak akan pernah
mendapatkan kebahagian dalam percintaan, karena kalian sudah merebut
kebahagianku dan berani membuatku sakit seperti ini. Tidak akan ku biarkan
kalian bahagia, ya tidak akan pernah” sumpahku.