Kamis, 13 Juni 2013

Kamulah Coklatku Sekarang

Kau tahu, aku ini penggemar coklat, atau mungkin bisa dibilang aku ini penggila coklat. Banyak coklat yang ku makan, entah itu yang ku beli sendiri, pemberian teman, pemberian sanak saudara atau pun pemberian darimu.
Aku suka, aku mencintai coklat. Dan aku senang itu.
Namun, tidak kah kamu memperhatikanku? Semenjak beberapa tahun terakhir ini, semenjak kau ada disini menemaniku, masuk dalam kehidupanku dan menemani hari-hariku, dan memberikanku kenyamanan, aku tak lagi sering memakan coklat seperti dulu. Memang sih, aku masih saja suka makan coklat, tapi tidak segila dan sesering dulu. Apakah kamu tahu itu? Kurasa tidak, ya karena memang kamu tak memperhatikanku. Yang kamu tahu hanyalah aku suka makan coklat dan beranggapan bahwa aku akan selalu seperti itu.
Kamu tidak terlalu memperhatikanku, kamu masih saja memberiku coklat. Aku tidak mengerti, aku pun tidak tahu apa maksudmu selalu memberiku coklat. Tapi aku senang itu. Sepertinya kamu ingin bersikap romantis kepadaku dengan memberikan coklat-coklat itu untukku, iya kan?
Sebenarnya ada yang kamu tidak ketahui dariku, dari apa yang selalu kulakukan. Kamu tidak mengertahui kenapa aku memakan coklat, bukan karena aku suka coklat-coklat itu dengan tulus. Tapi aku memakannya karena coklat dapat membuatku lebih tenang. Aku memakannya karena aku mendapatkan sesuatu darinya.
Aku memakan coklat saat aku sedang tertekan dan mengalami sesuatu yang membuatku kecewa. Aku memakan coklat saat aku mulai terpuruk, aku memakan coklat saat aku membutuhkan sesuatu yang dapat membuatku lebih tenang dan aku memakan coklat saat aku berpikir bahwa tak ada seorangpun yang dapat memahami perasaanku. Dan coklat dapat membuat semuanya lebih baik, ia dapat menenangkanku. Itu mengapa aku senang coklat.
Namun kini, aku tak lagi memakan coklat saat aku mulai merasa terpuruk, aku tak lagi menghabiskan uang jajanku untuk membeli beberapa batang coklat saat aku kecewa. Itu karena kamu. Ya, kamu. Sekarang ada kamu yang selalu menemaniku saat aku sedih dan kecewa. Kamu ada disaat aku membutuhkan dan mencari sesuatu yang dapat membuatku nyaman. Bisa dibilang kamulah pengganti coklatku saat ini.
Jika boleh, aku ingin agar kamu terus tetap berada disini menemani hariku dan membuatku tenang disaat aku terpuruk, menemaniku hingga suatu saat nanti aku tak lagi perlu memakan coklat untuk menghilangkan rasa kecewaku.

Aku, Pacarku, dan Perempuan itu.




Bagaimana seharusnya aku menyikapi semua ini? Tentang permasalahan yang terjadi kepadaku saat ini. Tentang seseorang yang sudah berani mengusik kehidupanku, dan seseorang yang tak pernah mengerti akan aku.
Dimulai dari hadirnya seorang perempuan antara aku dan Anjas. Perempuan itu mengganggu kehidupan percintaanku dengan Anjas. Dia begitu mengganggu.
Awal semester, saat Anjas mulai masuk kuliah disalah satu kampus ia bertemu dengan perempuan ini. Sebut saja Dhea. Dhea ini seorang temannya Anjas dari beberapa teman sekelasnya yang Anjas anggap sebagai teman. Namun sikapnya yang tidak ramah kepada Anjas membuat Anjas semakin keras untuk mendekatinya. Anjas sungguh penasaran dengan perempuan hingga akhirnya pun mereka mulai dekat.
Anjas sering cerita tentang perempuan itu. Namun aku tak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting, toh mereka hanya berteman. Itu hal yang wajar. Aku hanya dapat percaya saja dengan yang selalu dikatakan Anjas padaku. Aku tak pernah menyangka bahwa perempuan itu adalah awal dari segala kehancuran hubunganku dengan Anjas.
Suatu saat, saat aku membuka akun Facebookku, aku melihat ada beberapa permintaan pertemanan, kulihat-lihat lagi dan akhirnya aku menemukan suatu nama, Dhea Rizky Utami. Sepertinya, aku pernah lihat akun itu. Tapi dimana? Oh ya, aku melihatnya di akun Facebooknya Anjas. Mereka pernah saling wall-to-wall dan berkomen distatus masing-masing. Dan benar, saat aku menerima pertemanannya, dia memang benar teman sekampusnya Anjas. Dan mungkin perempuan itu juga yang yang selalu Anjas ceritakan padaku.
Ehm, Dhea ya…
“coba aku send wall ke dindingnya, siapa tau dia memang benar temannya Anjas.” Pikirku.
Mara Afrida > Dhea Rizky Utami
Tfr ya J
Dhea Rizky Utami > Mara Afrida
Iya sama* neng, pacarnya Anjas ya? :D
Mara Afrida > Dhea Rizky Utami
Iya, ini siapa ya? Kok tau? Hehe J
Dhea Rizky Utami > Mara Afrida
Teteh temen sekampusnya neng :D
Mara Afrida > Dhea Rizky Utami
Oh gitu, salam kenal ya teh hehe :D
Dhea Rizky Utami > Mara Afrida
Iya sip neng anjasmara :D
Ya kira-kira seperti itulah perkenalan singkatku dengan Dhea melalui akun facebook. Aku tak pernah berburuk sangka tentang dia, dan aku rasa dia perempuan baik.
Hingga suatu saat terdengar kabar miring tentang Anjas dan Dhea, banyak sekali orang yang memberitahuku bahwa makin hari Anjas dan Dhea semakin dekat dan mereka seperti orang yang berpacaran saja. Aku tidak menggubrisnya. Ku anggap saja itu hanya ocehan tidak penting. Aku pun tidak menanyakannya kepada Anjas. Aku percaya bahwa Anjas tidak begitu. Hingga akhirnya kakakku bilang, “Mar, tuh tadi Teteh ngeliat Anjas lagi jajan didaerah kampus U ngebonceng cewe tapi cewenya meluk Anjas.”
Apa benar? Ah mungkin kakakku salah liat. Aku tidak percaya.
Beberapa hari setelah itu, mamahku pun bilang, “Mar, mamah tadi dijalan liat Anjas lagi naik motor tapi sama cewe.” “Iya gitu? Yaudah” jawabku so’ tak peduli. “iya, dia sama siapa?” tanyanya seperti ingin tahu lebih lanjut. “ya gatau ya, sama temen kampusnya kali” aku pun beranjak pergi dari ruang keluarga, aku tak ingin lagi `itanya tentangnya. Takut aku berpikiran negative walau sebenarnya ada banyak tanya yang mengganggu dipikiranku tentang apa yang dilihat oleh kakak dan mamahku. Aku tetap aja percaya pada Anjas.
Selang beberapa minggu, aku bertemu dengan kakak kelasku saat di SMA dan sekarang ia pun sekampus dengan Anjas. Ia kenal Anjas walau dikampus ia tidak terlalu dekat dengan Anjas.

Dia bilang “Mara, gimana sama Anjasnya?” “Ah gak gimana-gimana a” “Tuh si Anjas lagi deket sama cewe temen sekampusnya, sekelas. Kemana-mana selalu berduaan udah kayak orang pacaran, mesra banget.” “iya gitu a? terus gimana?” “yagitudeh, cewenya cantik loh hehe” “oh hehe” jawabku tak peduli, “eh engga deh becanda, biasa aja kok” jawabnya hati-hati seperti tak ingin menyakitiku. Aku pun berlalu dan mulai berpikir, kenapa banyak sekali yang berkata bahwa Anjas sedang dengan dengan perempuan lain? Padahal hubungan kita sedang baik-baik saja kok, tak ada masalah serius. Malah hubungan kita hangat-hangat saja. Ah, ya sudahlah. Tapi, tadi kakak kelasku bilang bahwa Anjas sedang dekat dengan teman sekelasnya. Siapa? Apa mungkin Dhea? Teman yang selalu diceritakan Anjas kepadaku. Ah, mereka hanya teman kok. Iya hanya teman jadi santai saja.
Suatu hari, Anjas berpamitan padakku. Dia akan pergi kepantai Pangandaran bersama teman-teman kampusnya. Sudah jelas aku pun mengijinkannya untuk pergi, dia bilang dia disana 3hari untuk melaksanakan program kerja kampusnya. Ya aku percaya saja.
Dengan berangkatnya Anjas ke Pangandaran, contact-ku dengan Anjas berkurang, kita jadi jarang smsan dan telfonan karena Anjas sibuk disana. Aku pun mengerti tentang kesibukannya.
Sampai akhirnya aku pun lebih sering membuka akun Facebookku untuk sekedar menghilangkan rasa bosan ketika aku tak berkomunikasi dengan Anjas. Aku menemukan beberapa status disana, statusnya Dhea. Ternyata dia ikut kesana. Dia mengupdate statusnya begitu banyak, dan nama Anjas selalu tersebut didalamnya. Apa mungkin perempuan ini yang sedang dekat dengan Anjas? Apakah perempuan ini juga yang selalu orang-orang ceritakan kepadaku? Ya, mungkin perempuan ini. Hatiku mulai tidak enak. Walau sebenarnya aku berusaha untuk positive thinking.
“Tenang mara, gak apa-apa kok. Mereka gak akan gimana-gimana dan gak akan ngelakuin hal negative disana, mereka kan cuman temen. Mereka cuman lagi seneng­-seneng dipantai, cuman lagi main disana. Gak apa-apa.” Hatiku bergejolak, walau aku berusaha berpikir positive tapi kali ini aku tak bisa. Aku tak tahan dengan status-statusnya Dhea tentang Anjas disana. Mungkin aku cemburu, ya bisa jadi aku cemburu. Aku berpikir, “Anjaskan pacarku, kenapa kamu yang mengupdate tentang dia? Kenapa harus kamu yang bersenang-senang disana bersama Anjas?”. Hatiku mulai sakit. Namun dengan keras aku melawannya. “Engga mara, santai aja, Anjas kan udah punya pacar, Dhea juga punya pacar. Mereka gak akan melaukan hal bodoh disana. Mereka punya pacar yang mereka tinggalkan disini.”
Hatiku mulai tak beraturan, antara rasa cemburu, sakit dan berusaha percaya. Tapi kali ini aku tak bisa. Apalagi yang harus aku percaya? Percaya bahwa Dhea sedang dekat dengan Anjas? Ya aku percaya sekarang, Dhea lah perempuan itu. Dhea lah wanita yang selalu dibicarakan orang-orang sedang dekat dengan Anjas. Iya, Dhea Rizky Utami.
Menyesal aku tak mempercayai perkataan mereka. Menyesal aku tak menanyakannya pada Anjas. Menyesal aku sudah percaya pada pertemanan mereka. Menyesal aku menganggap perempuan itu perempuan baik. Aku menyesal.
Aku memutuskan hubunganku dengan Anjas karena aku tahu sifat dan sikap Anjas. Hubunganku dengan Anjas terbilang lumayan dan aku mengenalnya dengan baik. “Ah, disana pun dia pasti lagi ngapa-ngapain. Udahlah percuma mertahanin hubungan sama Anjas. Anjas tuh ibarat kucing, dan Dhea ikannya. Kucing mana sih yang gak mau dikasih ikan? Apalagi ini ikannya aja udah nyantol ke kucing. Langsung dilahap abis aja kali. Ini bukan kali pertama Anjas jadi kucing. Dan ini juga bukan ikan yang pertama. Bisa yang ke 7 atau ke 8 mungkin. Dan sebanyak itu pula aku percaya dan sebanyak itu juga aku dikhianati dengan ikan-ikan lain. Haha, Anjas emang kucing garong ya. Gak ada matinya buat nyakitin.” pikirku.
Setelah aku memutuskannya, aku pun berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi. Aku ingin melupakan semua kenangannya dan menutup hatiku untuk Anjas. Aku tak lagi mencintainya. Sakit memang memutuskan hubungan yang sudah berjalan lama ini, tapi aku lelah dengan semua kelakuan dan kebohongan Anjas selama ini. Aku membencinya dan membenci perempuan itu.
Hingga beberapa hari setelah Anjas pulang dari Pangandaran, Anjas menemuiku dan menjelaskan segala sesuatu yang terjadi. Disinilah hatiku merasakan sakit yang teramat sangat, saat Anjas bilang “Iya, aa deket sama Dhea, aa ngedeketin Dhea soalnya penasaran. Gak lebih, aa masih sayang sama Mara. Terus pas di Pangandaran, jujur aa dicium sama Dhea tapi gak sampe ciuman.” Dia menjelaskan dengan terperinci mengapa Dhea bisa menciumnya. “yakin cuma gitu? Biasanya kan suka sampe ngentot?” tuduhku geram atas penjelasannya. “Engga, aa gak ngentot sama Dhea. Cuman aa emang ngeliat Dhea telanjang…” “tuhkan mana mungkin aa tahan ngeliat cewe telanjang, ya gak mungkinlah! Udah gih sama Dhea yng katanya Aa dia tuh cewe cantik, putih, bohay! Emanglah Mara gak kaya Dhea! Gih sana sama jablay!” spontan jawabku menjadi tak terkendali. “Dengerin dulu sayang, aa gak ngapai-ngapain kok disana. Iya aa liat dia telanjang tapi gak ngapa-ngapain kok. Waktu itu dia bilang dia mau mandi katanya sih gerah, terus dia mandi, pas udah dia mandi, dia nyuruh aa buat ngambilin handuk katanya sih dia lupa bawa handuk, yaudah aa ambilin deh, eh pas aa mau ngasihin handuknya Dhea lagi telanjang aja. Jadikan aa ngeliat dia telanjang. Udah gitu aja kok” jawabnyaa polos tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
“…”
Hening.


Ada hening yang panjang disini. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.semua yang Anjas ceritakan sungguh membuatku sakit hingga aku tak ingin berkata apa-apa lagi kepadanya. Semuanya sudah cukup jelas.
Ingin aku menangis dan berteriak padanya bahwa aku sakit karenanya. Ingin aku menjambak rambutnya yang kemerahan dengan penuh amarah, agar ia tahu betapa sakitnya aku saat mendengar penjelasannya. Ingin aku menunjukan semua kesakitanku selama ini padanya dan menenunjukan kelemahanku saat aku rapuh seperti ini. Tapi aku tahan, aku tak ingin lemah dihadapannya. Aku cukup kuat karena selama inipun aku sudah bisa mengatasi segala masalah yang ada. Ya Tuhan, apa salahku selama ini hingga Anjas selalu saja mengkhianatiku? Aku sakit. Sakit!
Di dalam hati aku mengumpat, “Anjing! Sialan, emang dasar cowo bajingan sama lonte, sama-sama gapunya malu. Dasar anjing! Perek!” tak henti-hentinya aku mengumpat atas perbuatan mereka, aku kecewa dengan semuanya. Aku sumpahi mereka! Mereka akan menyesal telah membuat masalah denganku! Awas saja, mereka tidak akan bahagia! “Lihat saja nanti, kalian orang-orang terhina tidak akan pernah mendapatkan kebahagian dalam percintaan, karena kalian sudah merebut kebahagianku dan berani membuatku sakit seperti ini. Tidak akan ku biarkan kalian bahagia, ya tidak akan pernah” sumpahku.