Gue paling gasuka sama yang namanya Belajar.
Gak tau kenapa, menurut gue belajar itu adalah sesuatu hal yang amat sangat sakral. Gue jadi tambah enggan untuk belajar (ngaku aja males! Gak usah mungkir gitu deh!).
Gue paling gak suka sama mata pelajaran SAINS, Matematika, Inggris, Agama, Bahasa, TIK, Seni Musik dan Budaya, sama IPS. Bego! Itu sih semua pelajaran. Iya, lebih tepatnya semua pelajaran gue gak suka. Bener-bener gak suka. Makanya gue bego berkelanjutan sampe sekarang.
Gak ada satupun pelajaran yang narep diotak gue. Mungkin otak gue ukurannya cuman 16MB dan itupun isinya cuman virus semua. Kalo engga virus, paling isinya makanan sama kumpulan komik-komik yang udah pernah gue baca. Mangkanya gue suka rada nge-hang. Atau mungkin bukan rada-rada lagi, emang udah bener-bener error.
Gue jadi inget pas pelajaran Geografi saat gue duduk dikelas X-5, pas guru gue nerangin tentang bentuk permukaan muka bumi dan lapisan bumi atau entah apalah itu namanya. Gue sama sekali gak tahu. Guru gue nerangin semuanya dengan penuh rasa sabar menghadapi kelas gue yang brutal. Iya, kelas gue emang brutal dan tidak berperikehewanan. Mereka autis. Sama kayak gue.
“mantel bumi berada pada lapisan bumi yang kedua. Lapisan tersebut berisikan cairan yang kental dan panas bernama, Mag…?” beliau bertanya pada para murid idiotnya.
“Nuuuummm…” gue yang idiot ini jawab dengan polos tanpa ada rasa bersalah.
Gue celingukan.
Temen gue dan Guru Geografi langsung lihat ke arah gue. Mereka ngetawain gue. Lho? Kenapa? Emang ada yang salah yah? Hati gue berkata demikian.
“hahaha fikiran lo makanan melulu! Bego lo!” kata salah satu temen gue dengan gaya so’ bisanya itu.
Eh ternyata iya. Gue salah jawab. Harusnyakan Magma. Kenapa juga gue bilang Magnum? Apa mungkin lagi ngidam Ice Cream saat itu. Shit! Rahasia kebegoan gue terbuka didepan umum. Gue ngerasa jadi paling bego dikelas X5 dan dihadapan Guru Geografi itu. Bukannya mikir, gue malah nyengir kaya kuda ambeien. Bego! Emang sih, gue ini emang bego. tapi gue juga engga pinter.
Setiap hari gue jalanin hari-hari dikelas X-5 dengan canda dan tawa. Gue jalani dengan enjoy walaupun gue bergabung sama anak-anak idiot kurang gizi dikelas ini. Tapi gue seneng. Gue punya temen yang sama begonya dan sama autisnya sama gue.
Pelajaran terakhir.
Bahasa German.
Mampus!
Siang itu pelajaran Bahasa German berlangsung. Temen-temen gue girang banget kalo ada pelajaran Bahasa German. Padahal apa asyiknya? Kita cuman belajar alphabet, nyanyi-nyanyi dan ngeja kata. Susah banget! Gue gak bisa. Gue gak bisa belajar Bahasa German soalnya kosa kata dan cara pengucapannya susah banget. Bibir harus monyong-monyong gitulah, udah kaya landak rabies kebelet nyium. Konyol. Gue kayak yang dibego-begoin deh pokoknya. Dan yang lebih bego lagi, gue mau aja disuruh gitu. Bener-bener bego!
Siang itu, Guru Bahasa German, Bu Fauzia ngadain game. Gamenya perkelompok. Kita dibagi kelompok jadi 6 kelompok. Yaitu kelompok Name, Herkunft, Wohnort, Hobby, Alter, sama Albait. Gue kebagian masuk kelompok Alter. Jadi permainnanya gini, kalo Bu Fauzia bilang pertanyaan yang bersangkutan dengan Name, Herkunft, Wohnort atau yang lainnya, kelompok tersebut harus cepet-cepet berdiri. Kalo ada yang gagal, salah atau berdirinya lelet akan dihukum.
Percobaan. Bu Fauzia mencoba mengetes kesiapan dan konsentrasi anak-anak (baca: primata) X5. Dia bilang “Ich bin funfzehn juhre alt” dan spontan gue berdiri. Gue berdiri paling awal. Yang lain ragu-ragu. Mereka setengah berdiri. Bu Fauzia liat ke gue dan dia tersenyum dengan manisnya, semanis aromanis.
“alter?” dia nanya ke gue. Gue cuman ngangguk (soalnya gue gak tau bahasa Germannya “iya”)
Semua mata primata kelas X5 liat gue. Mereka bersorak sorai. Gue bangga. Gue merasa keren. Beken. Dan gue pun merasa paling pinter.
Gamenya berlangsung dengan meriah. Dengan banyak canda tawa dan kegalauan yang melanda karena takut salah. Kita semua pasang kuping baik-baik sampe kita pasang kuping kita disamping kelapa. Kanak dan kiri.
Gue masih tetep merasa so’ pinter. Tapi saat Bu Fauzia bilang “Wie alt bist do?” kelompok gue yang lain berdiri. Sedangkan gue engga.
Plaaakkk!
Gue merasa bego lagi. Gue down. Gue pun terpaksa harus nyanyi-nyanyi didepan kelas kaya cacing keremi kepanasan dengan suara yang fals tiada dua. Ah, ternyata gue tetep aja bego. sekali bego ya tetep aja bego! gue gak bisa ngelak.
Hati gue bergejolak. Otak (baca: dengkul) gue penuh Tanya. Kenapa sih kok gue bego-bego amat? Kenapa gue lahir didunia ini dengan keadaan yang seperti ini? Kenapa gak seperti orang normal lainnya? Dan akhirnya Tuhan pun jawab doa gue. “Mara, sorry yah. Sebenernya kamu ini bukan orok yang mau dilahirin. Kamu itu sebenernya zat ekskresi. Sisa makanan yang mau mamah kamu buang, eh gataunya ada kamu. Yaudah deh terpaksa kamu jadi orang yang abnormal kayak gini”
Sialan! Jadi sebenernya gue ini EEK!
Engga deng! Boong!
Banyak pertanyaan yang menggejolak dihati gue. Kapan gue bias pinter dan dihargain seperti orang-orang normal lainnya? Kenapa gue tolol banget? Kenapa Mas Anang dan Krisdayanti Bercerai? Dan kenapa Krisdayanti lebih memilih Raul Lemos di banding Mas Anang?
Entahlah.
Mungkin semua itu sudah takdir Tuhan yang harus gue jalanin. Gue gaboleh nyerah untuk bisa menjadi orang yang normal. Life must go on Maraaaaa!
Mara Afrida, siswa yang sekarang tengah duduk di kelas XI salah satu sekolah menengah Tasikmalaya ini memang piawai dalam mengolah logika dan perasaannya, paling tidak, saya tahu dari apa yang pernah ditulis dan diucapkanna. Sejak di kelas dulu, ketika saya menugaskan untuk membuat semacam karangan, saya memilki keyakinan bahwa Mara memilki kemampuan untuk mengorganisasikan pikirannya dalam sebuah tulisan. Meskipun yang diungkapkannya masih sederhana dan menggunakan bahasa belia, tapi selalu ada hal-hal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ada perasaan yang secara sadar benar-benar ingin disampaikan Mara, dan dalam tulisannya, ia berhasil membuat jalinan kronologis logika yang terasa bagaimana ungkapan-ungkapannya meninggalkan kesan dan makna. Seandainya apa yang dituliskan Mara ini ditulis dengan menggunakan standar EYD, tentu akan lebih terasa lagi bagaimana logika dan perasaannya bekerja. Tapi sejauh Mara tetap menulis dan berusaha untuk menggeluti perasaan dan bahasa yang menjadi media ungkapnya, saya yakin, apa yang dituliskannya tidak akan sia-sia. Bahkan, apa yang dituliskannya, akan menjadi semacam memoar bagaimana Mara menjalani kehidupannya. Teruslah menulis, Mar, sebab tulisan-tulisanmu, akan terus memberitahukan siapa dan bagaimana kamu, paling tidak, kepada dirimu sendiri.
BalasHapusMasih ingat, dulu, ketika tugas karangan itu, Mara menceritakan tentang perjalanan menelusuri sebuah goa. Seperti sebuah kutipan "My Life My Adventure" sedangkan "My writing is my life's journey." Good job and good luck, Mar!