Selasa, 17 Maret 2015

Urban Legend, Jangan Berencana Saat Hari Gelap!

Ada takhyul di Meksiko yang mengatakan: jangan pernah membicarakan rencana dengan keluarga atau temanmu di luar rumah pada saat hari gelap. Sesuatu yang menunggu di dalam gelap mungkin bisa mendengarnya ...
Alkisah hiduplah seorang pemuda nelayan bernama Jose yang memiliki kekasih bernama Raven. Suatu malam, Jose mengantar Raven pula dengan berjalan kaki, melewati hutan.
“Hei, bagaimana jika kita pergi ke dermaga besok untuk mencari ikan. Tapi harus pagi-pagi sekali.” Usuk Jose.
“Aku setuju. Pasti asyik. Aku akan ke rumahmu jam 5 subuh, oke?”
“Baiklah.” Mereka keua pun berpisah. Malam itu Jose tertidur dan sudah tak sabar lagi menantikan esok pagi.
Keesokan harinya, Jose terbangun oleh suara di luar jendelanya.
“Jose, ayo bangun! Ini aku!”
Jose mengenali suara kekasihnya dan membuka jendela. Ia melihat Raven sedang berdiri di tengah kegelapan. Jose kemudian mengecek jam wekernya.
“Ini baru jam setengah lima, kamu kepagian!” kata Jose sambil mengusap-usap matanya dan menguap.
“Ayo kita berangkat sekarang! Keburu terang.”
“Oke, oke sebentar ya...” Jose pun bangun dan mengganti bajunya, lalu mengendap-endap keluar agar tidak membangunkan kedua orang tuanya.
Namun begitu ia tiba di luar rumah, ia melihat Raven sedang berlari ke arah dermaga.
“Raven, tunggu!” Jose mulai berlari mengejarnya.
Namun sekeras apapun Jose memanggil, gadis itu tak sekalipun berhenti, bahkan menoleh.
Jose merasa ada sesuatu yang aneh. Raven tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
Hingga ketika mereka sampai di dermaga, barulah Raven berhenti berlari. Jose berhenti berlari pula dan dengan terengah-engah ia bertanya, “Ada apa denganmu?”
Namun raven sama sekali tak menjawab, bahkan masih membelakangi Jose, tanpa sedikitpun menunjukkan wajahnya.
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan, Raven menceburkan dirinya ke dalam laut.
“Jose...tolong aku...tolong!” jerit Raven sambil meronta-ronta dalam air.
“Raven...Raven...dimana kamu?” Jose tak bisa melihat dengan jelas karena gelap. Namun ia bisa mendengar dengan jelas suara kecipuk air.
“Jose...ayo tolong aku...cepat...”
Jose hendak menceburkan dirinya ke laut ketika ia tersadar.
Raven adalah anak nelayan. Ia bisa berenang dengan baik.
Jose terdiam sebentar, ragu.
“Jose, tolong aku... kumohon...”
Namun firasat Jose mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Dengan ketakutan, ia berbalik dan berlari dengan sangat kencang ke rumahnya. Sesampainya di kamarnya, ia langsung meringkuk di bawah selimutnya dengan tubuh merinding. Beberapa saat kemudian, karena kelelahan, iapun tertidur pulas.
Pagi itu ia terbangun oleh suara seorang gadis di luar rumahnya.
“Jose, apa kau sudah bangun?”
Jose memeriksa jamnya, sudah jam 5.30.
Raven berkata lagi dengan suara riang, “Maaf ya aku telat.”

Urban Legend, The Expressionless

Pada bulan Juni 1972, seorang wanita muncul di Cedar Senai Hospital dengan hanya mengenakan gaun putih berlumuran darah. Sekarang hal tersebut tak terlalu mengejutkan karena orang-orang sering mengalami kecelakaan di dekat rumah sakit itu, dan datang ke rumah sakit terdekat untuk perawatan medis. Tapi ada dua hal yang menyebabkan orang-orang yang melihatnya muntah, dan melarikan diri ketakutan.Yang pertama, adalah bahwa dia tidak benar-benar manusia. Dia menyerupai sesuatu yang dekat dengan manekin, tetapi mempunyai ketangkasan dan fluiditas lebih dari manusia normal. Wajahnya, yang sempurna bagaikan sebuah manekin, tanpa alis, dan dioleskan dengan make-up. Itulah alasan orang lain yang muntah atau melarikan diri karena ketakutan.
Ada anak kucing terjepit di rahangnya sehingga wajar giginya tidak terlihat, dan darah segar masih mengalir di atas gaunnya, lalu jatuh ke lantai. Dia kemudian menarik anak kucing keluar dari mulutnya, melemparnya ke samping, dan jatuh.Sejak saat ia melangkah melalui pintu masuk, ketika ia dibawa ke sebuah kamar rumah sakit dan dibersihkan sebelum disiapkan obat penenang, dia benar-benar tenang, tanpa ekspresi dan tak bergerak. Para dokter pikir lebih baik untuk menahan dia sampai pihak berwenang tiba, dan dia tidak protes. Mereka tidak mampu mendapatkan apapun respon darinya, dan anggota staf yang merasa tidak terlalu nyaman untuk melihat langsung padanya selama lebih dari beberapa detik.
Tapi kedua staf mencoba untuk tenang, ketika ia berjuang bangun kembali dengan gaya yang ekstrem. Dua anggota staf harus terus menahan tubuhnya ke bawah saat tubuhnya bangkit di tempat tidur dengan ekspresi sama kosong.Dia berbalik, memperlihatkan mata emosi ke arah dokter laki-laki, dan melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dia tersenyum.Saat dia melakukannya, dokter perempuan menjerit, dan pergi keluar karena shock. Dalam mulut wanita yang tidak gigi manusia, tapi panjang, seperti sepatu berduri. Terlalu lama untuk mulutnya menutup sepenuhnya tanpa menyebabkan kerusakan…Dokter laki-laki balas menatapnya sejenak sebelum bertanya “Apa sih kau?”Dia meretakkan lehernya lalu turun ke bahunya untuk mengamati sang dokter, masih dengan tersenyum.Ada jeda panjang, para petugas keamanan telah disiagakan itu bisa terdengar mereka turun di lorong-lorong.Saat ia mendengar para petugas keamanan telah datang mendekat, ia melesat ke depan,menenggelamkan gigi depan ke tenggorokan sang dokter, merobek keluar jugularis, dan membiarkan dia jatuh ke lantai, terengah-engah saat ia tersedak darahnya sendiri.Makhluk itu berdiri, dan bersandar di atasnya, dengan wajah yang tampak seolah kehidupan memudar dari matanya.Dia mendekat dan berbisik di telinga sang dokter.
“Aku… adalah.. Tuhan.”Mata dokter dipenuhi dengan ketakutan saat ia melihat makhluk itu dengan tenang berjalan pergi untuk menyambut para petugas keamanan.
Dokter perempuan yang selamat dari insiden tersebut menamai dia, “The Expression"

Riddle, Aku Tahu Kau Sudah Bangun.

Seorang anak berusia 10 tahun sedang tidur di kamarnya seperti biasa ketika ia mendengar suara langkah kaki di luar pintu kamarnya. Saat itu masih tengah malam dan karena penasaran, ia mengintip melalui lubang kunci untuk melihat apa yang terjadi.
Namun ia melihat sesuatu yang mengerikan. Seorang pembunuh dengan tangan berlumuran darah tengah menggendong mayat ayahnya menuruni tangga. Ia naik kembali hanya untuk menggendong mayat kedua, mayat ibunya.
Pembunuh itu naik lagi. Karena ketakutan, sang anak langsung naik kembali ke atas tempat tidur. Namun sebelumnya, ia sempat melihat sang pembunuh menuliskan sesuatu dengan darah di dinding tepat di luar kamarnya.
Suara pintu berdecit memecah keheningan malam. Pembunuh itu dengan langkah perlahan memasuki kamar bocah itu. Tanpa suara, pembunuh itu bersembunyi di bawah kolong tempat tidur anak itu, membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar.
Sang anak memejamkan matanya, ketakutan setengah mati. Ia mencoba berpura2 tidur. Sebagai anak berusia 10 tahun, hanya itu yang terlintas di pikirannya. Ia sangat berharap pembunuh itu segera pergi meninggalkannya.
Anak itu bisa mendengar desah napas pembunuh itu di bawah tempat tidurnya. Dengan bercucuran keringat dingin, anak itu mencoba membuka matanya sedikit.
Sekarang, dengan pintu kamarnya terbuka lebar, ia bisa membaca apa yang dituliskan pembunuh itu di dinding.
“AKU TAHU KAU SUDAH BANGUN."

Riddle, I Never Like Emily.

Aku tak pernah suka dengan Emily.

Ia memang tak pernah berbuat jahat padaku, namun ia selalu membuatku takut. Walaupun tubuhnya mungil, namun aku tahu lewat sorot matanya, bahwa ia jahat. Benar-benar jahat!Dia suka menatapku dengan tajam kemudian tersenyum dengan mengerikan. Bahkan saat aku sedang sendiri, ia tiba2 ada di sampingku, mengejutkanku.

Tiap malam aku juga sering mendengar langkah kakinya saat ia berjalan menelusuri lorong depan kamarku, padahal seharusnya ia diam di kamarnya sendiri.Aku benar-benar tak mau berada dekat-dekat dengan Emily. Aku bahkan tak mau Emily ada di rumah ini! Aku sudah mengatakannya pada ibuku, namun jawabannya malah seperti ini, “Kau tahu kan Emily sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.

Dia sudah lama berada di rumah ini. Aku tak paham mengapa kau membencinya. Dan jangan bodoh, ibu takkan membuangnya!”Akhirnya aku memutuskan untuk melenyapkan Emily untuk selama-lamanya. Aku membawanya ke taman dan ketika kami melewati jembatan, aku segera melemparnya ke dalam sungai. Arus sungai yang sangat deras akhirnya membenamkan dan menghanyutkannya. Takkan ada seorangpun yang melihatnya. Akupun lega. Ia kini lenyap untuk selama-lamanya.Akupun kembali pulang dengan hati senang. Akhirnya, rumah ini bebas dari Emily! Ibuku bahkan tak bertanya padaku dimana Emily saat melihatku pulang sendirian. Mungkin akhirnya ibuku melupakan Emily. Semuanya sempurna.
Namun begitu aku masuk ke kamarku, di situlah Emily, duduk di ranjangku. Tubuhnya basah kuyub dan ia menyeringai ke arahku, menatapku penuh dendam.Tuhan, tolong aku! Aku hampir menjerit.Siapa yang tahu kalau boneka bisa berenang?

Riddle, Suara Rintik Hujan.

Suatu malam hujan turun dengan sangat deras. Ketika itu kami tiba di sebuah tempat, dan saya memberhentikan mobilku di depan sebuah terowongan, memarkirnya sementara di sana. Saya dan temanku memang pernah mendengar rumor dan urban legend yang mengatakan bahwa tempat ini berhantu. Konon jika kamu memarkirkan mobilmu di sekitar terowongan di malam hari, kejadian aneh akan menimpamu. Kami berniat menguji keberanian kami, sekaligus memastikan keberadaan rumor tersebut.

Suasana mencekam dan mengerikan sangat terasa di sini. Tempatnya sangat sunyi dan tidak banyak kendaraan yang melintasinya. Ini bukanlah tempat berhantu yang ingin kau kunjungi.
Setelah beberapa saat, saya menyalakan mobilku kembali dan mengendarainya pelan-pelan masuk ke dalam terowongan yang ada di situ. Ini pertama kalinya saya melakukan hal seperti ini, dan mengalami perasaan yang cukup aneh – seperti campuran rasa tegang dan takut. Walau begitu, temanku hanya senyam-senyum seperti anak-anak yang sedang berada di taman bermain. Kami melaju dengan sangat pelan, berharap ada sesuatu yang terjadi. Tapi ketika kami tiba di ujung terowongan, tidak satu pun kejadian yang berhubungan dengan supranatural terjadi. Temanku kecewa. Dia kemudian memandang keluar jendela, dan memperhatikan tembok-tembok terowongan itu. “Ayo, kita putar sekali lagi.” kataku. Temanku pun menyetujuinya dan saya langsung melakukan putaran-U di ujung terowongan itu.

Sekali lagi, kami tidak menemukan sesuatu yang cukup aneh. Kami mengendara pulang-balik beberapa kali sebelum akhirnya kami bosan. Rintik hujan di atas atap mobil kami juga mulai mengganggu.

Setelah sekitar tiga atau empat kali putaran, temanku kemudian berkata. “Ayo sob, kita pulang saja.”Saya rasa dia benar, setelah semuanya membosankan. Tapi ada sesuatu yang aneh dengan nada suaranya barusan. Tepat sebelum kami keluar di terowongan, saya memberhentikan mobilku dan memandang ke samping – di mana temanku duduk.Saya kemudian menyadari bahwa temanku, yang tadi mengatakan itu tengah gemetaran seolah merasakan kedinginan yang teramat sangat. Saya sangat terkejut melihat keadaannya.“Kau kenapa?” tanyaku. “Apa kau melihat sesuatu?”“Keluar saja dari sini.” jawabnya, dengan tangan yang bergetar.

Curah hujan makin deras dan semakin keras. Rintikannya menghantam kap mobilku cukup keras dan suaranya sangat berisik. Saya kemudian memutuskan untuk mencari tempat lain di mana kami bisa turun dan beristirahat sejenak. Kami melaju keluar dari terowongan itu dan menuju ke jalan yang besar. Ada sebuah rumah makan di tepi jalan itu, jadi saya masuk ke tempat parkirnya dan memberhentikan mobilku di sana.Temanku yang tadi gemetaran kini akhirnya bisa tenang.“Baik …” kataku. “Sekarang kau bisa beritahu apa yang kau lihat?” “Apa kau tidak dengar?” balasnya, dengan terheran-heran.“Apa?” kataku. “Apakah ada suara misterius? Bunyi-bunyi yang aneh, begitu? ”Saya benar-benar tidak tahu apa yang dimaksudnya.“
Saya tidak dengar apa pun.

Urban Legend, Teman.

Alkisah, ada seorang pria, sebut saja dia “D” yang suka mengerjai orang. Sebagai contoh, ketika ada empat orang datang ke restorang (termasuk dia), dan pelayannya bertanya, “Pesan untuk empat orang?”, ia selalu berkata, “Empat? Lihat baik-baik! Bukankah kami ada lima!”

Banyak orang mengira D memang memiliki kemampuan melihat apa yang tak bisa dilihat manusia biasa. Namun sebenarnya tidak. Ia hanya suka mempermainkan orang dan sennag melihat ekspresi ketakutan orang2 yang ia pikir lucu. Teman2nya selalu menyuruhkan menghentikan lelucon itu, namun ia terus saja melakukannya.

Hingga suatu hari, karena kesal, akhirnya tak ada satupun orang yang mau makan lagi bersamanya. Iapun terpaksa makan siang di sebuah restoran langganannya.“Pesan kopi!” katanya pada pramusaji. Namun ketika pramusaji datang, ia menghidangkan dua gelas kopi. Satu untuknya, dan satu diletakkan di depan kursi sebelahnya. Ketika makanan datang pun, pramusaji selalu meletakkan dua piring, satu untuknya dan satu diletakkan untuk kursi sebelahnya.

Pertama ia pikir para pramusaji di sini ingin membalasnya. Namun hal itu terus terjadi, walaupun ia mencoba makan di tempat yang berbeda-beda. Bahkan kemanapun ia pergi, kini teman2nya pun selalu mengatakan bahwa ada orang lain yang sedang bersamanya. Ia mulai ketakutan dan merasa jera. Mungkin ini balasan karena ia sering mempermainkan orang lain. Selama berhari-hari, akhirnya ia memilih hidup seperti pertapa. Ia tak pernah keluar rumah lagi dan terus saja berdiam di kamar karena ketakutan. Setelah sebulan, akhirnya ia mulai merasa tenang. Ia merasa, apapun yang mengikutinya, ia pasti sudah meninggalkannya. Iapun datang ke sebuah restoran, memesan segelas kopi. Sang pramusaji datang dan menyajikan segelas kopi untuknya. Lalu segelas kopi diletakkan untuk kursi di sebelahnya.
Lalu satu lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.